Pengamat politik Arfino menilai Prabowo Subianto berpeluang terpilih sebagai Presiden Indonesia pada Pemilu 2024 jika mampu menampilkan nuansa damai dan menghadirkan kesejukan dalam berpolitik. Pernyataan itu disampaikan Arfino dalam keterangan tertulis yang diterima Netralnews pada Rabu (8/3/2023).
Menurut Arfino, pandangannya tersebut didasarkan pada psikologi politik masyarakat Indonesia yang cenderung bersimpati kepada tokoh yang dinilai mampu memberi rasa aman, damai, dan belas kasih. Ia menyebut pemilih rata-rata kerap menentukan pilihan berdasarkan faktor emosional.
Direktur Eksekutif 2Indos itu juga mengatakan, tingkat keterpilihan tertinggi di mata publik berkaitan dengan munculnya simpati, rasa iba, dan belas kasih. Ia menilai, ketika citra seorang tokoh sudah mencapai level tersebut di tengah masyarakat, maka dukungan terhadap tokoh itu akan sangat sulit dibendung.
Arfino lalu mencontohkan dinamika Pilpres 2004 ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maju sebagai calon presiden. Ia menggambarkan adanya simpati publik kepada SBY setelah diberhentikan dari jabatan menteri, yang menurutnya menjadi salah satu faktor penting hingga SBY dipercaya menjadi presiden.
Ia juga menyinggung Pilpres 2014 yang dimenangkan Joko Widodo (Jokowi). Arfino menyebut citra “wong cilik”, kedekatan dengan rakyat, latar yang dianggap berasal dari bawah, kebiasaan blusukan, serta gaya yang tidak kaku turut membentuk persepsi publik terhadap Jokowi.
Menurut Arfino, pola serupa berpotensi terjadi pada Prabowo menjelang Pilpres 2024. Ia menilai, meski beberapa kali gagal dalam pemilihan presiden, Prabowo tetap menunjukkan sikap kesatria dan sikap negarawan.
Arfino menambahkan, setelah kekalahan pada Pilpres 2019, Prabowo disebut memilih mengedepankan persatuan ketimbang menanamkan permusuhan yang mendalam di tengah bangsa.

