Pengabdian Masyarakat Dinilai Perkuat Pendidikan Karakter Mahasiswa Kedokteran

Pengabdian Masyarakat Dinilai Perkuat Pendidikan Karakter Mahasiswa Kedokteran

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) menggelar Airlangga Webinar Conference Series (AWCS) pada Minggu (21/11/21) dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Airlangga ke-67 dan Dies Natalis FK UNAIR ke-108. Pada seri kali ini, AWCS mengangkat tema “Upaya Peningkatan Pelayanan Kesehatan Berbasis Maritim: Refleksi Eskpedisi MARCO-19 RSTKA”.

Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. H. Budi Santosa, dr., Sp.OG(K) dan Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si. Keduanya membahas peran pengabdian masyarakat dan riset, termasuk kaitannya dengan pembentukan kompetensi mahasiswa, khususnya di bidang kedokteran.

Peran universitas dalam pengabdian masyarakat dan riset

Prof. Ni Nyoman Tri Puspaningsih menjelaskan bahwa pengabdian masyarakat dan riset tidak terpisahkan dari aspek edukasi. Menurutnya, pendidikan dapat dilakukan bersama masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Ia menilai persoalan yang muncul di masyarakat merupakan tantangan sekaligus peluang bagi universitas untuk terjun langsung, menyelesaikan kasus melalui riset, lalu melanjutkannya dengan proyek-proyek peningkatan maupun pengembangan di masyarakat.

Ia juga menyebut pendekatan tersebut telah dikemas UNAIR dalam konsep Smart University, yakni riset yang memiliki outcome dan impact bagi masyarakat. Dampak riset itu, menurutnya, diwujudkan melalui pengabdian masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan, termasuk dalam layanan kesehatan, serta melalui kolaborasi dengan industri dan praktisi di bidang kewirausahaan.

Pengabdian masyarakat sebagai pendidikan karakter mahasiswa

Prof. Budi Santosa menekankan pengabdian masyarakat sebagai salah satu upaya pendidikan karakter mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa, khususnya mahasiswa kedokteran, perlu memiliki keterampilan yang berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Prof. Budi, dari sejumlah keterampilan yang dibutuhkan lulusan abad ke-21, terdapat beberapa yang beririsan langsung dengan jiwa pengabdian kepada masyarakat. Ia menambahkan, hal tersebut perlu menjadi catatan dalam proses pendidikan agar dokter yang dihasilkan memiliki kompetensi terkait pengabdian masyarakat.

Keterampilan yang dinilai penting dalam pengabdian masyarakat

  • Culture and civic literacy: kemampuan untuk memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan humaniora.
  • Critical thinking/problem solving: kemampuan mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi situasi, ide, dan informasi untuk merumuskan tanggapan dan solusi.
  • Collaboration: menunjang adanya IPE, IPC, kemitraan lintas sektor, pasien dan keluarga, serta masyarakat.
  • Initiative: melakukan sesuatu sebelum orang lain atau sebagai inisiator/pelopor.
  • Leadership: proses pengaruh sosial untuk memaksimalkan upaya bersama menuju pencapaian tujuan.
  • Social and culture awareness: kemampuan untuk berempati dengan orang lain serta menghargai latar belakang dan budaya yang berbeda.