Pengabdian masyarakat merupakan pilar ketiga dalam tridharma perguruan tinggi. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah program pengabdian benar-benar mengubah kehidupan masyarakat, atau lebih banyak berfungsi sebagai pemenuhan laporan kinerja kampus.
Selama bertahun-tahun, praktik pengabdian masyarakat di banyak perguruan tinggi dinilai masih terjebak pada “logika kegiatan”. Program disusun, kegiatan dilaksanakan, peserta dihimpun, dokumentasi dibuat, laporan disusun, lalu dianggap selesai. Dalam pola ini, yang tercatat terutama adalah aktivitas, bukan perubahan yang terjadi pada masyarakat.
Persoalan tersebut disebut bukan semata-mata soal niat. Banyak dosen dan mahasiswa disebut memiliki keinginan nyata untuk membantu. Namun secara sistem, pengabdian masyarakat masih menghadapi sejumlah masalah mendasar yang membuat dampaknya kerap tidak berkelanjutan.
Pertama, pengabdian masih sering diperlakukan sebagai kegiatan yang terpisah. Ia belum sepenuhnya terintegrasi dengan kurikulum, penelitian, dan pendanaan institusi. Akibatnya, pengabdian kerap menjadi “tugas wajib” yang dikerjakan sebisanya, bukan program strategis jangka panjang.
Kedua, persoalan pendanaan yang tidak tuntas. Mahasiswa dan dosen kerap diminta menyelesaikan persoalan masyarakat yang kompleks dengan dukungan dana terbatas. Kondisi ini membuat banyak program berhenti pada pelatihan singkat tanpa keberlanjutan.
Ketiga, paradigma kemitraan yang belum sepenuhnya setara. Insan akademis masih sering datang dengan cara pandang “kami yang tahu, masyarakat yang dibantu”. Padahal, masyarakat disebut perlu diperlakukan sebagai mitra sejajar yang memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, dan solusi yang sering kali lebih realistis.
Keempat, kurangnya fokus pada akar masalah. Banyak program hanya menyentuh permukaan melalui pelatihan, penyuluhan, atau bantuan jangka pendek. Sementara itu, persoalan sosial dinilai tidak akan selesai hanya dengan satu kegiatan.
Rangkaian persoalan tersebut mengarah pada satu kesimpulan: pengabdian masyarakat perlu berubah dari logika kegiatan menuju logika dampak. Artinya, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada jumlah kegiatan atau peserta, melainkan pada perubahan yang benar-benar terjadi.
Contoh sederhana disebut terlihat pada program pelatihan kewirausahaan bagi 100 ibu rumah tangga. Selama satu minggu, peserta dilatih membuat kerajinan tangan, lalu diakhiri foto bersama dan pembagian sertifikat. Laporan kemudian menyebut “100 peserta telah dilatih”. Dalam logika kegiatan, capaian berhenti pada angka peserta dan dokumentasi, bukan pada pertanyaan lanjutan tentang perubahan yang dihasilkan setelah pelatihan berakhir.

