Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, isu dinasti politik kembali menjadi sorotan. Peneliti Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, memaparkan sejumlah dampak yang dapat muncul ketika praktik dinasti politik menguat, termasuk dampaknya terhadap kehidupan ekonomi.
Menurut Wawan, dinasti politik berpotensi membentuk sistem yang membuat kekuasaan, hak istimewa, dan kemakmuran hanya berputar di kalangan terbatas. Dalam kondisi seperti itu, akses pengaruh dan kendali publik dapat melemah karena mayoritas masyarakat tidak lagi memiliki ruang yang memadai untuk menentukan arah kebijakan.
Ia juga menilai dinasti politik dapat meningkatkan risiko korupsi, nepotisme, serta penyalahgunaan kekuasaan. Sistem yang lebih mengutamakan hubungan pribadi dan loyalitas dibanding aturan formal dan transparansi dinilai rentan membuka peluang terjadinya praktik-praktik terlarang tersebut.
Dampak lain yang disoroti adalah krisis kader dan kepemimpinan di partai politik. Ketergantungan partai pada dinasti politik disebut dapat menghambat regenerasi dan inovasi di internal partai, sehingga mempersempit ruang munculnya pemimpin baru.
Selain itu, kesempatan bagi individu berbakat dari luar lingkar dinasti dinilai dapat tertutup. Wawan menekankan tidak ada jaminan anggota keluarga politik tertentu mampu mengulang kesuksesan pendahulunya, dan kondisi ini pada akhirnya bisa merugikan reputasi partai dalam jangka panjang.
Wawan juga menyebut partai politik memiliki peran untuk mencegah menguatnya dinasti politik. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah menetapkan aturan internal yang jelas terkait proses seleksi kandidat, termasuk pembatasan bagi anggota keluarga pemimpin partai untuk mencalonkan diri pada posisi tertentu.
“Termasuk batasan bagi anggota keluarga pemimpin partai untuk mencalonkan diri dalam posisi tertentu. Langkah ini perlu didukung dengan pendidikan politik kepada anggota dan kader partai tentang bahaya dinasti politik dan pentingnya regenerasi dalam kepemimpinan,” kata Wawan.

