Keraton Yogyakarta menghadirkan pameran temporer bertajuk “Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta” di KgD, Komplek Kedhaton Keraton Yogyakarta, mulai 8 Maret hingga 26 Agustus 2026. Pameran ini digelar untuk mengajak publik mengenal lebih dalam sejarah, konsep, dan nilai filosofis yang melandasi tata ruang Keraton Yogyakarta.
Tata ruang Keraton Yogyakarta disebut dibangun di atas konsep catur gatra tunggal yang dicetuskan Pangeran Mangkubumi—pendiri Keraton Yogyakarta yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I. Dalam praktiknya, konsep tersebut menempatkan keraton, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai pusat keseimbangan.
Penghageng KHP Nityabudaya GKR Bendara menyoroti kecenderungan sebagian pengunjung yang datang ke keraton hanya untuk berfoto tanpa memahami makna di balik ornamen, ukiran, maupun tata letak bangunan. Menurutnya, setiap elemen di keraton merupakan bentuk komunikasi visual yang memuat nilai filosofis, mulai dari ukiran, ornamen, tata letak bangunan, hingga tiang-tiang yang digunakan.
Pameran “Smarabawana” merupakan bagian dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Istilah SmaraBawana atau semara bawana merujuk pada terminologi ruang dan dunia (jagad) dalam budaya Jawa, yang dipahami secara holistik dan terkait dengan elemen primordial catur gatra tunggal dalam tata kota kerajaan.
Secara garis besar, pameran ini menyajikan narasi sejarah tata ruang Keraton Yogyakarta sejak pasca-Perjanjian Giyanti hingga proses pembangunannya yang sarat filosofi. Pengunjung juga diajak memahami konsep sedulur papat lima pancer, yang melambangkan empat elemen spiritual yang mendampingi manusia sejak lahir dan manusia sebagai pusatnya (pancer).
Dalam alur pameran, pengunjung diajak menelusuri sejumlah tema, termasuk gambaran tentang konsep pertanahan di Yogyakarta, posisi sentral Taman Sari, serta peran saluran air buatan Kali Larangan dalam menopang kehidupan sehari-hari keraton. Pameran ini juga mengangkat pertanyaan-pertanyaan kunci, termasuk alasan Keraton Yogyakarta dibangun di antara dua sungai, Code dan Winongo, serta kaitannya dengan prinsip Sumbu Filosofis.
Di ruang pertama, pengunjung mendapat pengantar melalui permainan cahaya yang diproyeksikan pada dinding, disertai informasi tentang penataan kawasan sekitar Keraton Yogyakarta beserta nilai filosofisnya. Setelah itu, pengunjung diajak memasuki konteks awal pembentukan tata ruang, yakni Perjanjian Giyanti. Kurator pameran, Fajar Wijanarko, menyampaikan bahwa konsep tata ruang Keraton Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari perjanjian yang membagi kekuasaan di Jawa menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Dalam kesempatan yang sama, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa tata ruang Keraton Yogyakarta tidak semata persoalan geografis atau arsitektural, melainkan manifestasi pandangan hidup.
Pameran juga mengulas Taman Sari yang dibangun sebagai istana segaran, yakni istana di tengah kolam air yang luas. Dalam penjelasan pemandu, disebutkan bahwa pada masa lalu Ngarsa Dalem menuju Taman Sari menggunakan perahu, bukan kereta.
Selain itu, pengunjung memperoleh pemaparan mengenai Kali Larangan, sungai buatan yang dibangun sejak masa Pangeran Mangkubumi atau Hamengku Buwono I. Saluran air ini memiliki fungsi antara lain mengaliri blumbang Masjid Gede Kauman dan menjadi suplai air bagi kolam segaran Taman Sari. Penjelasan tentang Kali Larangan disampaikan oleh tiga ahli, yakni geoarkeolog UGM Drs. JSE Yuwono, M.Sc., Guru Besar Arkeologi UGM Prof. Inajati Andrisijanti, serta arsitek UII Dr. Revianto Budi Santoso.
Dari sisi penyajian, pameran melibatkan tim artistik yang dipimpin Hanafi K. Sidharta. Ia menekankan pentingnya keterhubungan antara kerja kuratorial dan artistik dalam menghidupkan objek-objek pameran. Hanafi juga menyebut upaya nonteknis yang dilakukan timnya, seperti berdialog dengan abdi dalem sepuh, memahami setiap objek yang ditangani, hingga sowan ke makam Mataram Islam di Kotagede. Menurutnya, keindahan tidak hanya bersifat visual, tetapi juga memiliki dimensi “keindahan dari dalam” yang memberi karakter pada karya dan penyajian.
Melalui pameran yang berlangsung selama enam bulan ini, GKR Bendara dan kurator berharap pengunjung dapat memahami makna dari ornamen dan ukiran yang selama ini kerap menjadi latar foto. Fajar Wijanarko juga mengajak masyarakat Yogyakarta serta publik yang menaruh minat pada sejarah Keraton Yogyakarta untuk hadir, agar pemahaman tentang keraton tidak berhenti pada bangunan fisik semata, melainkan juga pada filosofi yang menyertainya.

