Pameran “Smarabawana” Mengajak Pengunjung Membaca Filosofi Tata Ruang Keraton Yogyakarta

Pameran “Smarabawana” Mengajak Pengunjung Membaca Filosofi Tata Ruang Keraton Yogyakarta

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selama ini kerap dipandang sebagai kompleks bangunan bersejarah sekaligus kediaman resmi Sultan. Namun, di balik tembok putih, ukiran kayu, serta ragam ornamen yang melekat pada bangunannya, keraton menyimpan gagasan tata ruang yang lahir dari pemikiran mendalam pendirinya, Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I.

Berbagai elemen seperti pagar langkan (pagar pembatas), kaca patri, lisplang, hingga detail ornamen lain kerap menarik perhatian pengunjung. Keberadaan unsur-unsur tersebut juga memperlihatkan bahwa keraton tidak hanya dibangun berdasarkan khazanah tradisional, tetapi turut menggabungkan pengaruh Barat.

Di sisi lain, fenomena yang jamak ditemui saat ini adalah pengunjung yang datang cenderung terpaku pada estetika visual, termasuk untuk kebutuhan media sosial, tanpa memahami narasi di balik bangunan. Ornamen dan tata letak ruang sering kali berhenti sebagai latar foto, tanpa upaya menggali makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

Keraton Yogyakarta dibangun dengan konsep catur gatra tunggal, yang mempersatukan empat pilar utama dalam tata kota kerajaan: keraton, alun-alun, masjid, dan pasar. Keempatnya diposisikan sebagai pusat keseimbangan kehidupan.

Pertanyaan mengenai sejarah pembangunan keraton, alasan pemilihan lokasi di antara Sungai Code dan Sungai Winongo, serta bagaimana manifestasi spiritual hadir dalam setiap sudut ruang, menjadi bagian dari narasi yang ingin dijelaskan melalui pameran temporer bertajuk “Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta”.

Pameran tersebut dibuka di Komplek Kedhaton pada Minggu, 8 Maret 2026. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Istilah “Smarabawana” merujuk pada terminologi ruang dan dunia dalam budaya Jawa yang bersifat holistik. Melalui pameran ini, pengunjung diajak untuk memahami tata ruang sebagai kesatuan yang tidak hanya menyentuh aspek visual, tetapi juga memuat dimensi pengetahuan, nilai, dan pengalaman.

Penghageng KHP Nityabudaya, GKR Bendara, menekankan bahwa setiap elemen di keraton—mulai dari ukiran, ornamen, hingga tiang—dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi visual yang sarat nilai-nilai luhur. Dalam pengantarnya, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penikmat visual, melainkan turut menjadi pencari makna dari objek yang dinikmati.

Keunikan tata ruang Yogyakarta turut dipengaruhi konsep sedulur papat lima pancer, yang memosisikan manusia sebagai pusat (pancer) dan didampingi empat elemen spiritual sejak lahir. Dalam studi tata ruang perkotaan Yogyakarta, Smarabawana dipandang sebagai terminologi dinamis yang mengintegrasikan dimensi sensorial, spiritual, dan pragmatis.

Melalui pembacaan semacam itu, keraton tidak semata hadir sebagai bangunan tua atau destinasi wisata, melainkan sebagai ruang yang menyimpan gagasan tentang harmoni, keseimbangan, serta cara pandang masyarakat Jawa terhadap manusia dan alam.