Popularitas Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, disebut terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Namanya kerap berada di posisi atas dalam berbagai survei elektabilitas bursa calon gubernur, baik di Jawa Tengah maupun DKI Jakarta.
Sejumlah pihak menduga putra sulung Presiden Joko Widodo itu akan diusung PDI Perjuangan untuk maju pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2024. Namun hingga kini, Gibran masih enggan membeberkan rencana masa depan kariernya di pemerintahan.
Pakar Psikologi Politik Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Abdul Hakim, menilai peluang Gibran untuk menang pada Pilgub 2024 lebih besar dibandingkan jika maju pada 2029. Menurutnya, pada 2024 Jokowi baru saja mengakhiri masa jabatan sebagai presiden sehingga spektrum pemilih dinilai masih terbatas.
“Spektrum pemilih masih sangat terbatas. Kalau dia (Gibran) maju (Pilgub) 2029, (peluang) itu tidak akan sekuat saat Pak Jokowi baru saja lengser (2024),” kata Abdul, dikutip dari TribunSolo.com, Jumat (13/1/2023).
Abdul menyebut Gibran dinilai mampu meraih simpati generasi muda melalui aktivitasnya di media sosial. Meski begitu, ia mengingatkan perlunya upaya lain agar Gibran bisa memperluas dukungan dari kelompok pemilih yang lebih beragam.
Ia juga menekankan bahwa citra yang dapat mengantarkan Gibran meraih kemenangan tidak bisa disamakan dengan Jokowi. Menurut Abdul, kekuatan citra Jokowi pada masa lalu adalah sosok yang berangkat dari kalangan bawah, sementara Gibran memiliki latar sebagai anak presiden.
“Dulu citra Pak Jokowi yang paling kuat adalah sosok yang berangkat dari kalangan bawah. Gibran tidak bisa seperti itu lagi. (Dia) Anak presiden,” ujar Abdul.
Selain soal citra, Abdul turut menyoroti gaya bicara Gibran yang santai dan ceplas-ceplos. Ia menilai, kelompok masyarakat yang belum terjangkau bisa saja menafsirkan gaya tersebut sebagai sikap “seenaknya sendiri”.
“Kita harus ingat Gibran masuk ke politik awal, jawaban yang singkat-singkat itu membuat banyak orang yang tak suka akan semakin menyematkan citra arogan ke dia,” ucap Abdul.
Abdul juga mengingatkan bahwa Jawa Tengah tidak hanya Solo. Jika ingin memimpin wilayah yang lebih luas, Gibran dinilai perlu menyesuaikan diri dengan keragaman budaya di daerah lain.
“Jawa Tengah relatif sama (dengan Solo) tapi jauh lebih heterogen. Apakah di Semarang, Grobogan, Demak, bisa relate (cocok) dengan gaya Gibran yang seperti itu?” ungkapnya.
Ia menutup dengan mempertanyakan apakah gaya komunikasi yang selama ini dianggap wajar di Solo akan tetap efektif ketika Gibran harus berkompetisi di tingkat yang lebih luas.

