Pakar Psikologi Politik UI Ingatkan Dikotomi ‘Partai Tuhan’ dan ‘Partai Setan’ Berisiko Picu Radikalisme

Pakar Psikologi Politik UI Ingatkan Dikotomi ‘Partai Tuhan’ dan ‘Partai Setan’ Berisiko Picu Radikalisme

Pernyataan mantan Ketua MPR, Amien Rais, yang membelah partai politik menjadi “partai Allah” dan “partai setan” menuai kritik dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, yang menilai dikotomi semacam itu berpotensi mendorong radikalisme di tingkat akar rumput.

Hamdi menilai penggunaan istilah yang mengaitkan politik dengan Tuhan dan setan dapat membentuk cara berpolitik yang tidak rasional di masa depan. “Yang saya takutkan ke arah radikalisme. Ini enggak perlulah setan dan Tuhan dibawa-bawa dalam berpolitik. Itu akan mendidik masyarakat untuk tidak berpolitik secara akal sehat di masa depan,” kata Hamdi Muluk, dikutip Kompas.com, Senin (16/4/2018).

Menurutnya, narasi tersebut berisiko ditiru oleh masyarakat dalam mengekspresikan dukungan kepada kelompok tertentu, sekaligus memancing konflik antaranggota masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan label seperti “kafir”, “partai setan”, atau “partai Tuhan” dapat membuat perdebatan politik semakin agresif dan berlarut-larut.

Meski demikian, Hamdi menyebut tidak semua pemilih mudah terpengaruh oleh isu-isu semacam itu. Ia menilai pemilih mengambang (swing voters) cenderung lebih rasional dalam menentukan pilihan politik.

Hamdi pun mendorong partai politik dan para kadernya untuk bersaing melalui program, visi-misi, ideologi, serta pencapaian, alih-alih mengandalkan sentimen agama untuk merebut dukungan.

Di sisi lain, pernyataan “partai Allah” dan “partai setan” juga memicu langkah hukum. Sebuah lembaga bernama Cyber Indonesia dilaporkan melayangkan tuntutan hukum karena menilai pernyataan tersebut bersifat provokatif.