Julukan Kota Santri bagi Jombang disebut bukan sekadar label, melainkan cerminan tradisi keilmuan yang terus hidup dan berkembang. Di daerah ini, pesantren, sekolah formal, dan inovasi pendidikan berjalan beriringan.
Kepala Seksi SMA dan PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Nur Anas, menilai kekuatan pendidikan Jombang bertumpu pada warisan para pendahulu. Ia menyebut pesantren-pesantren di Jombang telah melahirkan santri dari berbagai daerah, termasuk mancanegara, dengan prestasi dan kiprah yang luas.
“Pendahulu kita sudah luar biasa. Harapannya, ke depan akan lahir tokoh-tokoh nasional bahkan internasional dari Jombang,” ujarnya.
Namun, Nur Anas menekankan bahwa tantangan pendidikan saat ini berbeda dibanding masa lalu. Perubahan zaman memunculkan pergeseran besar dalam cara belajar dan mengajar. Jika sebelumnya bahan ajar berpusat pada guru dan buku, kini sumber belajar tersedia luas dan mudah diakses melalui gawai, media sosial, serta berbagai platform digital.
“Guru juga harus update seperti handphone,” kata Nur Anas. Ia mengingatkan agar pendidik tidak tertinggal dari muridnya yang semakin mudah mengakses informasi.
Di lingkungan pesantren, Nur Anas menilai terdapat kaidah yang relevan dengan kondisi sekarang, yakni al-muhafazah ‘ala al-qadim as-salih wal ahdu bil jadid al-aslah, yang dimaknai sebagai memelihara metode lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat. Menurutnya, prinsip ini menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan sudah diajarkan sejak lama.
Karena itu, guru dituntut terus belajar dan memperbarui keilmuan. Ia menilai jika pendidik berhenti belajar sementara peserta didik terus mengakses beragam sumber pengetahuan dari internet, guru berisiko kehilangan daya hidup pembelajaran di kelas.
Sejalan dengan perubahan tersebut, Nur Anas menyebut pemerintah juga melakukan penyesuaian pendekatan pendidikan. Saat ini, Kementerian Pendidikan menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam. Ia menilai pendekatan ini bukan sekadar strategi atau model mengajar, melainkan cara pandang utuh dalam proses pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran mendalam diarahkan untuk mengantarkan peserta didik mencapai delapan profil lulusan melalui tiga prinsip utama yang dikenal dengan BBM: berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan. Berkesadaran berarti guru dan siswa hadir sepenuhnya dalam pembelajaran, dengan jasad dan pikiran sama-sama berada di kelas. Bermakna menuntut guru menjelaskan tujuan belajar secara jelas agar siswa memahami manfaat materi. Sementara menyenangkan menekankan pembelajaran harus bebas dari bullying, kekerasan, dan pemaksaan, sehingga proses belajar dapat dinikmati bersama.
Menurut Nur Anas, ketiga prinsip tersebut harus berjalan bersamaan. Guru dituntut menyiapkan perencanaan matang, melaksanakan pembelajaran dengan kesadaran penuh, serta melakukan evaluasi berkelanjutan.
Dalam konteks perkembangan teknologi, ia menilai kehadiran teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tidak bisa dihindari. Namun, teknologi harus diposisikan sebagai sarana, bukan satu-satunya alat.
“AI bisa membantu guru menyusun perencanaan pembelajaran dengan lebih cepat, tetapi tetap harus disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan sekolah masing-masing,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya literasi yang menurutnya memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam, merujuk pada ayat pertama yang diturunkan, yakni perintah membaca: Iqra’. “Guru itu seperti pedagang. Kalau pedagang kulakan barang, guru kulakan nya adalah membaca,” tuturnya.
Membaca, menurut Nur Anas, tidak hanya terbatas pada buku, tetapi juga membaca situasi, lingkungan, dan suasana. Dengan literasi yang kuat, ia meyakini kualitas pendidikan akan terus meningkat.

