Novel anak kerap dianggap hanya berisi cerita ringan untuk pembaca usia belia. Namun, sejumlah karya menunjukkan bahwa cerita untuk anak juga dapat memuat persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, salah satu judul yang kerap dibicarakan dalam kategori ini adalah Na Willa karya Reda Gaudiamo.
Terbit pertama kali pada 2012, Na Willa masih populer di kalangan pembaca, baik anak-anak maupun orang dewasa. Belakangan, novel ini kembali menjadi perbincangan karena disebut akan diekranisasi menjadi film yang dijadwalkan tayang dalam waktu dekat.
Na Willa berkisah tentang anak perempuan berusia enam tahun bernama Na Willa, atau akrab disapa Willa. Cerita mengikuti keseharian Willa bersama Mak (ibunya) dan kawan-kawannya. Novel ini disusun dalam beberapa bab yang menampilkan ragam aktivitas Willa, mulai dari bermain, sekolah, hingga momen ketika rasa ingin tahunya memicu kekacauan kecil.
Dari sisi gaya bercerita, novel ini dikemas dengan bahasa, alur, dan plot yang ringan sehingga sesuai untuk pembaca anak. Sejumlah bagian juga menampilkan pengalaman yang lekat dengan dunia kanak-kanak, seperti Willa dan sahabatnya, Ida, bermain masak-masakan menggunakan bunga sepatu, bata merah, pasir, dan tanah sebagai “bahan masakan”. Ada pula adegan ketika Willa menangis saat Mak melarangnya bermain di rel kereta karena dianggap berbahaya.
Meski ditujukan untuk anak, pembacaan oleh orang dewasa dapat memunculkan penafsiran yang berbeda. Dalam cerita, terselip isu sosial yang digambarkan melalui pengalaman Willa dan orang-orang di sekitarnya.
Salah satunya terkait isu rasial. Pak (ayah Willa) digambarkan berasal dari ras Tionghoa, sementara Mak bukan dari ras yang sama. Perbedaan ini membuat Willa mempertanyakan penampilan fisiknya yang tidak seperti ayahnya. Di sisi lain, Willa juga digambarkan menerima ejekan dari teman sebaya mengenai ras Tionghoa atau “Cina”-nya, meskipun ciri fisik sang ayah tidak menurun pada dirinya. Ejekan tersebut dituturkan secara halus, tetapi jika dibaca lebih jauh menggambarkan pengalaman kekerasan rasial, baik secara verbal maupun fisik. Dalam cerita, Willa yang masih anak-anak lebih sering merespons dengan pertanyaan kepada Mak tentang mengapa hal itu terjadi, dan hanya sekali digambarkan ia meluapkan emosi ketika mendapat ejekan serupa.
Selain itu, novel ini juga menyinggung persoalan gender, terutama terkait pembatasan kuasa dan hak perempuan. Hal tersebut muncul dalam adegan ketika Willa dan temannya menyaksikan kakak temannya menangis karena esok hari statusnya akan menjadi istri dan ia merasa tidak lagi bisa bermain sepeda sepuas dulu. Dalam bagian lampiran visual atau ilustrasi, pembaca dewasa disebut dapat menangkap isu berat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita anak tersebut.
Bagi pembaca anak, Na Willa dapat menjadi bacaan yang menghibur, membantu imajinasi, sekaligus melatih kemampuan membaca. Sementara bagi pembaca dewasa, novel ini dapat dibaca sebagai karya yang memotret realitas sosial melalui sudut pandang dan keseharian seorang anak.

