Nama miliarder Amerika Serikat George Soros kembali mencuat dalam perbincangan publik dan kerap dikaitkan dengan berbagai peristiwa politik, krisis ekonomi, hingga demonstrasi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Belakangan, Soros disebut-sebut sebagai dalang kerusuhan yang terjadi saat demonstrasi di Indonesia pada akhir Agustus dan awal September 2025.
Soros, yang dikenal sebagai miliarder sekaligus filantropis dan kini berusia 95 tahun, juga dituduh mendanai sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk menggerakkan aksi demonstrasi. Dalam narasi yang beredar, ia digambarkan sebagai sosok di balik gerakan LSM yang kritis terhadap Pemerintah Indonesia.
Namun, tudingan tersebut disebut sulit dibuktikan sehingga kerap dinilai bersifat “gaib” atau tidak memiliki dasar yang jelas. Kompas.com bersama sejumlah organisasi melakukan penelusuran mengenai bagaimana sosok Soros dimunculkan dalam narasi tersebut melalui penelitian bertajuk “Membedah Narasi Asing di Balik Kerusuhan Agustus 2025”.
Kontroversi terkait Soros bukan hal baru. Jauh sebelum dikaitkan dengan kerusuhan Agustus 2025, ia pernah menjadi sorotan setelah dianggap berperan dalam jatuhnya nilai poundsterling pada 1992. Aksi spekulasi yang dikaitkan dengannya disebut membuat poundsterling merosot dan gagal masuk Mekanisme Nilai Tukar Eropa, sementara Soros disebut meraih keuntungan besar.
Nama Soros juga pernah muncul dalam tudingan sebagai penyebab krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan sejumlah negara Asia pada 1997. Saat itu, ia dituduh memicu jatuhnya nilai mata uang baht di Thailand yang kemudian diikuti oleh mata uang lain, termasuk rupiah.
Meski demikian, Soros membantah keterlibatannya dalam krisis Asia 1997. Ia menegaskan tidak terkait dengan krisis tersebut dan mengaku justru merugi di Indonesia karena melepas rupiah saat nilainya berpotensi naik.
Menurut Soros, krisis 1997 bukan disebabkan spekulator pasar uang, melainkan karena pembuat kebijakan atau regulator yang lalai menjaga aturan main pasar. Ia menilai kelalaian regulator membuat pasar berfluktuasi dan akhirnya memicu krisis.
Hingga kini, Soros tetap menjadi figur kontroversial. Sebagian pihak memandangnya sebagai investor ulung dan filantropis global yang mendukung demokrasi, pendidikan, dan hak asasi manusia. Namun, bagi kelompok lain, Soros diposisikan sebagai simbol campur tangan asing, spekulan pasar yang berbahaya, dan tokoh yang kerap dikaitkan dengan teori konspirasi.