JAKARTA — Minimnya gagasan baru dan program kerja yang konkret dinilai membuat kampanye Pemilihan Presiden 2019 lebih banyak diwarnai jargon dan serangan sensasional. Dalam situasi seperti itu, pendekatan emosional—termasuk penggunaan identitas primordial—kerap dipilih sebagai jalan cepat untuk merebut dukungan publik.
Sejak masa kampanye resmi dimulai sekitar dua bulan sebelumnya, tawaran program yang jelas dari masing-masing pasangan calon dinilai belum menonjol. Perdebatan antarjuru bicara tim kampanye pun lebih sering berkutat pada celetukan dan polemik yang memancing perhatian, mulai dari istilah “tempe setipis kartu ATM”, “politik genderuwo”, hingga kontroversi “tampang Boyolali”. Di saat yang sama, isu tuduhan PKI dan anti-Islam juga terus berulang.
Akibat kampanye miskin ide
Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menilai kampanye yang kekurangan ide dan program konkret berpotensi berujung pada serangan yang tidak konstruktif. Ia menyampaikan pandangan itu dalam diskusi yang diselenggarakan Populi Center di Jakarta, Kamis (15/11/2018) sore.
Menurut Hamdi, jika petahana berkampanye dengan menonjolkan cerita sukses selama masa pemerintahan, pihak penantang seharusnya merespons dengan menawarkan program alternatif yang dinilai mampu melampaui capaian tersebut. Ia menilai kegagalan memunculkan gagasan baru dapat mendorong pihak tertentu memilih strategi delegitimasi politik terhadap karakter lawan.
Hamdi juga menilai koalisi yang terbentuk secara pragmatis dan tanpa platform ideologis menjadi salah satu penyebab kemiripan visi-misi kedua pasangan. Dampaknya, serangan politik berpotensi kembali mengarah pada aspek personal.
Sentimen emosi dinilai efektif
Meski mengkritik penggunaan hoaks, fitnah, dan penyebaran ketakutan, Hamdi mengakui pendekatan emosional—terutama yang memanfaatkan sentimen agama dan suku—sering kali efektif di Indonesia. Ia memperkirakan pemilih yang sepenuhnya mengandalkan nalar (rational voters) berada di kisaran 10–20 persen. Menurutnya, perilaku manusia lebih banyak dipengaruhi emosi sehingga lebih mudah digerakkan oleh pendekatan emosional dibandingkan argumentasi logis.
Narasi kegaduhan menguat saat program terpinggirkan
Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto, menyampaikan pandangan senada. Ia menilai ketika tawaran program konkret tersisih, narasi kegaduhan cenderung menguat, termasuk yang memanfaatkan isu primordialisme. Ia mencontohkan mobilisasi massa melalui kedekatan suku dan agama.
Respons dari tim kampanye
Politisi PDI-P sekaligus juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi–Ma’ruf, Budiman Sudjatmiko, menyatakan kampanye politik perlu memiliki unsur yang menggugah perasaan masyarakat. Menurutnya, kampanye selain harus benar secara substantif juga perlu “menyenangkan” agar dapat menciptakan dukungan politik.
Sementara itu, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo–Sandiaga, Gamal Albinsaid, mengajak seluruh pihak yang berkompetisi untuk menyampaikan narasi kampanye yang santun dan berbasis data.
Berisiko gagal menarik pemilih baru
Gun Gun menambahkan, minimnya gagasan substantif juga berisiko membuat pasangan calon gagal merebut simpati pemilih pemula maupun pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voter). Menurutnya, tanpa gagasan baru, kampanye cenderung hanya memperkuat dukungan basis yang sudah menetapkan pilihan sejak lima tahun sebelumnya.
Ia menilai kondisi itu turut menjelaskan mengapa elektabilitas kedua pasangan calon dapat terlihat stagnan, karena yang terjadi lebih banyak penguatan dukungan lama ketimbang perluasan dukungan baru.
- Kampanye dinilai lebih banyak diwarnai jargon dan polemik ketimbang program konkret.
- Pakar menilai kemiskinan ide mendorong serangan personal dan narasi berbasis identitas.
- Pendekatan emosional disebut efektif, tetapi dinilai bukan pendidikan politik yang baik jika disertai hoaks dan fitnah.
- Minim gagasan baru berisiko membuat pemilih pemula dan swing voter sulit diraih.

