JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudisadewa membantah isu yang ramai beredar di media sosial mengenai “dana hilang Rp400 triliun” yang dikaitkan dengan proyek strategis serta BUMN energi. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada publik, Purbaya menegaskan narasi tersebut sebagai hoaks dan menyebutnya tidak berdasar pada realitas akuntansi maupun hukum.
Menurut Purbaya, isu itu sengaja dibangun untuk menciptakan ketakutan, merusak stabilitas, dan mengadu domba masyarakat. Ia menyatakan keprihatinannya bukan karena namanya disebut, melainkan karena informasi palsu berpotensi memecah belah bangsa dan melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
“Semua narasi tentang kehilangan 400 triliun itu adalah kebohongan publik yang tidak berdasar pada realitas akuntansi maupun hukum,” kata Purbaya dalam naskah pernyataan.
Purbaya menekankan pentingnya membangun penilaian berdasarkan data. Ia menilai ekonomi tidak bisa disandarkan pada rumor atau narasi sensasional, melainkan pada angka yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia juga menyoroti besarnya angka Rp400 triliun yang disebut-sebut hilang, yang menurutnya mendekati porsi signifikan dari APBN.
Ia berpendapat, bila dana sebesar itu benar-benar hilang atau tidak terlacak, sistem keuangan akan mengalami kontraksi dan dampaknya terasa pada stabilitas nasional. Namun, ia menyatakan kondisi ekonomi saat ini tetap stabil, inflasi terkendali, dan investasi terus masuk. Karena itu, ia menegaskan tidak ada dana yang hilang sebagaimana dituduhkan.
Terkait istilah “dana tidur” yang beredar, Purbaya menyebut dana yang dianggap mengendap sejatinya merupakan cadangan likuiditas dan investasi jangka panjang yang dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi nasional. Ia menjelaskan proyek besar seperti pembangunan kilang memerlukan proses panjang, mulai dari tender, pengadaan teknologi, hingga mitigasi risiko, sehingga ketersediaan dana dalam sistem tidak dapat langsung dimaknai sebagai penyalahgunaan.
Purbaya juga menyinggung isu yang menggambarkan adanya ketegangan internal, termasuk yang mengaitkan dirinya dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ia menyatakan hubungan kerja dengan Ahok berjalan profesional dan menyebut Ahok sebagai rekan kerja yang berintegritas. Purbaya mengakui adanya diskusi dan perdebatan keras, namun disebutnya semata untuk mendorong efisiensi dan tata kelola BUMN.
Selain itu, Purbaya menyatakan rutin melaporkan data dan kondisi pengelolaan kepada Presiden Prabowo. Ia menyebut Presiden teliti dan tidak akan membiarkan uang rakyat diselewengkan. “Jika narasi 400 triliun hilang itu benar, saya tidak akan berdiri di sini hari ini,” ujarnya.
Mengenai masifnya penyebaran narasi tersebut, Purbaya menilai era digital membuat konten bernuansa kemarahan lebih cepat menyebar dibanding penjelasan berbasis data. Ia menduga ada pihak yang terganggu karena transparansi mulai diperkuat dan kemudian menggunakan serangan personal atau pembunuhan karakter.
Menjawab isu proyek mangkrak di sejumlah lokasi seperti Tuban, Balongan, dan Cilacap, Purbaya menegaskan proyek-proyek itu bersifat multiyears dan membutuhkan banyak tahapan, termasuk perizinan, studi AMDAL, serta negosiasi teknologi. Ia menyatakan lahan yang disebut “kosong” tidak berarti proyek fiktif, melainkan sedang berada pada proses pematangan teknis.
Purbaya juga menyebut dana proyek berada dalam instrumen aman seperti letter of credit (LC) di perbankan, bukan di rekening pribadi. Ia menantang pihak yang menuduh untuk menunjukkan rekening pribadi atas namanya yang menerima aliran dana dari proyek tersebut.
Di akhir pernyataannya, Purbaya menyatakan kesiapan mengundang mahasiswa dan jurnalis kredibel untuk meninjau langsung proyek, sekaligus mendorong literasi ekonomi agar masyarakat tidak mudah terpancing narasi sensasional. Ia mengimbau publik tetap tenang dan tidak membiarkan informasi di media sosial memicu kebencian.

