Nama Mohammad Hatta mendadak ramai dicari di Google. Bukan sekadar nostalgia hari besar, melainkan kegelisahan baru tentang arah Indonesia di dunia yang kian berlapis.
Yang menjadi isu, warisan Hatta ternyata tidak berhenti pada proklamasi dan koperasi. Ada dimensi lain yang terasa relevan saat politik global bergerak cepat dan keras.
Internasionalisme Hatta kembali dibicarakan. Ia dipandang sebagai kunci untuk memahami mengapa politik luar negeri bebas dan aktif lahir, dan mengapa ia perlu ditafsir ulang.
Di ruang publik, kata “bebas dan aktif” sering terdengar seperti slogan. Tren pencarian menunjukkan orang ingin lebih dari slogan, yaitu akar, makna, dan konsekuensi.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Alasan pertama, dunia sedang multipolar dan penuh ketidakpastian. Ketika konflik kepentingan besar saling bertabrakan, publik mencari pegangan konseptual yang terasa “Indonesia”.
Nama Hatta muncul sebagai jangkar moral dan intelektual. Ia menawarkan gambaran bahwa keterlibatan internasional bisa dilakukan tanpa kehilangan kepentingan nasional.
Alasan kedua, ada dorongan untuk membaca ulang sejarah secara lebih kaya. Hatta terlalu sering dipersempit menjadi ikon proklamasi dan koperasi.
Ketika muncul wacana tentang internasionalisme Hatta, banyak orang merasa menemukan sisi yang selama ini luput. Rasa “baru” dari sesuatu yang lama memicu rasa ingin tahu.
Alasan ketiga, hadirnya rujukan akademik yang segar ikut mendorong percakapan. Buku sejarawan Belanda Dr. Klaas Stutje terbit pada 2024.
Judulnya, Di Balik Bendera Persatuan: Kalangan Nasionalis Indonesia dan Gerakan Antikolonial Dunia 1917–1931. Ia memberi perspektif tentang nasionalisme Indonesia yang kosmopolitan.
-000-
Berita yang Dibaca Ulang: Hatta Lebih Luas dari yang Kita Ingat
Bagi banyak orang, Hatta adalah Bapak Proklamator bersama Soekarno. Ia juga lekat dengan koperasi dan gagasan ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong.
Dalam gagasan itu, koperasi bukan sekadar badan usaha. Ia diposisikan sebagai instrumen kemandirian dan kesejahteraan rakyat, sekaligus pendidikan warga dalam demokrasi ekonomi.
Namun, berita ini menekankan warisan yang lebih luas. Hatta bukan hanya ekonom dan negarawan, melainkan seorang internasionalis.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, ia memahami perjuangan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik internasional. Solidaritas antikolonial lintas bangsa menjadi medan penting.
Di sinilah relevansinya terasa kini. Ketika dunia menjadi kompleks dan multipolar, dimensi internasionalisme Hatta disebut penting untuk kembali dibaca.
-000-
Akar Bebas-Aktif Tidak Lahir dari Ruang Kosong
Politik luar negeri bebas dan aktif sering diperlakukan sebagai rumus tetap. Berita ini mengingatkan, ia punya akar intelektual dan pengalaman sejarah yang panjang.
Stutje menyebut kebangkitan nasional Indonesia tidak semata reaksi atas penindasan kolonial di dalam negeri. Nasionalisme juga dibentuk oleh pergaulan internasional para intelektual di Eropa.
Para mahasiswa dan intelektual Indonesia berinteraksi dengan gerakan antikolonial. Mereka membangun jaringan lintas negara dan melampaui batas-batas imperium kolonial.
Karena itu, nasionalisme Indonesia sejak awal memiliki dimensi kosmopolitan. Para nasionalis tidak hidup dalam ruang politik yang terisolasi.
Mereka membaca perkembangan dunia, berinteraksi dengan ideologi dan gerakan politik, lalu membangun solidaritas dengan bangsa-bangsa yang mengalami kolonialisme.
Hatta menjadi contoh penting dari proses tersebut. Saat berada di Belanda, ia tidak hanya memikirkan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga terlibat dalam jaringan politik internasional.
-000-
Brussel 1927: Belajar Bekerja Sama Tanpa Kehilangan Arah
Puncak pengalaman internasional Hatta salah satunya terjadi di Kongres Liga Menentang Imperialisme di Brussel pada 1927. Forum itu mempertemukan kekuatan antikolonial dunia.
Di sana Hatta berinteraksi dengan kelompok yang orientasi ideologinya berbeda. Termasuk kalangan yang berhubungan dengan gerakan komunis internasional.
Pada saat sama, ia berinteraksi dengan tokoh nasionalis non-komunis. Salah satu yang disebut dalam berita adalah Jawaharlal Nehru dari India.
Detail ini penting bukan untuk romantisasi pertemanan tokoh. Ia menunjukkan keterampilan politik: membangun kerja sama lintas garis, tanpa menanggalkan orientasi kepentingan Indonesia.
Di dunia hari ini, kemampuan seperti itu sering diuji. Keterlibatan internasional kerap disalahpahami sebagai keberpihakan yang membutakan, atau sebaliknya, ketidakpedulian yang nyaman.
-000-
Isu Besar Indonesia: Kedaulatan, Solidaritas, dan Martabat di Panggung Global
Pembicaraan tentang Hatta sebenarnya membuka isu besar yang lebih penting. Bagaimana Indonesia menjaga kedaulatan dalam jaringan saling ketergantungan global.
Kedaulatan bukan hanya soal batas wilayah. Ia juga soal kemampuan memilih, menolak tekanan, dan merumuskan kepentingan nasional yang tidak mudah dibajak oleh emosi sesaat.
Di sisi lain, internasionalisme menuntut empati lintas bangsa. Ia mengingatkan bahwa penderitaan kolonialisme pernah menjadi pengalaman bersama banyak negara.
Ketika Indonesia berbicara di forum internasional, yang dipertaruhkan bukan sekadar posisi diplomatik. Yang dipertaruhkan adalah martabat, konsistensi, dan kepercayaan.
Warisan Hatta mengajarkan dua hal sekaligus. Bebas berarti tidak menjadi satelit, aktif berarti tidak menjadi penonton.
-000-
Membuatnya Lebih Intelektual: Nasionalisme Kosmopolitan sebagai Kerangka
Riset Stutje memberi kerangka konseptual yang tajam. Nasionalisme Indonesia, menurutnya, tumbuh dalam pergaulan internasional, bukan hanya dalam ruang kolonial Hindia Belanda.
Kerangka ini membantu menjelaskan paradoks yang sering disalahpahami. Nasionalisme tidak selalu berarti menutup diri dari dunia.
Dalam pengalaman Hatta, justru keterbukaan pada jaringan global memperkuat agenda kemerdekaan. Solidaritas antikolonial menjadi sumber dukungan, gagasan, dan strategi.
Konsep “kosmopolitan” di sini tidak berarti kehilangan keindonesiaan. Ia berarti kemampuan menempatkan Indonesia dalam peta dunia, tanpa rasa inferior dan tanpa arogansi.
Ini juga menyentuh dimensi etis. Internasionalisme menuntut disiplin moral agar kepentingan nasional tidak dijadikan dalih untuk mengabaikan penderitaan pihak lain.
-000-
Rujukan Luar Negeri yang Menyerupai: Antikolonialisme sebagai Jaringan
Apa yang dialami Hatta di Brussel menunjukkan pola yang juga tampak di banyak gerakan antikolonial. Perjuangan sering bergerak melalui pertemuan lintas bangsa.
Di berbagai tempat, tokoh-tokoh antikolonial bertemu dalam kongres, organisasi, dan jaringan solidaritas. Mereka bertukar bahasa politik, strategi, dan dukungan moral.
Berita ini menyebut Nehru sebagai salah satu tokoh yang berinteraksi dengan Hatta. Ini mengingatkan bahwa nasionalisme Asia kerap tumbuh melalui dialog, bukan monolog.
Keserupaan utamanya bukan pada detail peristiwa, melainkan pada logika sejarah. Kemerdekaan sering lahir dari pertautan pengalaman, bukan dari isolasi.
-000-
Mengapa Pembacaan Ini Penting Sekarang
Tren ini mengungkap kebutuhan publik akan kompas. Ketika dunia terasa bising, orang mencari tokoh yang tidak hanya karismatik, tetapi juga punya disiplin berpikir.
Hatta menawarkan contoh tentang ketenangan dalam berjejaring. Ia mampu masuk ke ruang internasional yang beragam, tanpa larut dalam satu arus ideologi.
Pelajarannya bukan sekadar “bergaul luas”. Pelajarannya adalah menyusun posisi, memahami konteks, lalu memilih kerja sama yang tidak menggadaikan tujuan.
Dalam bahasa kebijakan, ini menuntut kemampuan membaca perubahan global. Dalam bahasa warga, ini menuntut kedewasaan untuk tidak cepat menghakimi diplomasi sebagai hitam-putih.
-000-
Rekomendasi: Menanggapi Tren dengan Kerja Ingatan dan Kerja Kebijakan
Pertama, dorong literasi sejarah politik luar negeri. Pembacaan Hatta jangan berhenti pada kutipan populer, tetapi menelusuri konteks gerakan antikolonial yang membentuknya.
Kedua, jadikan “bebas dan aktif” sebagai metode, bukan mantra. Metode itu menuntut analisis kepentingan nasional, pemetaan mitra, dan kejelasan nilai yang diperjuangkan.
Ketiga, rawat ruang diskusi publik yang tenang. Diplomasi membutuhkan kritik, tetapi kritik yang berbasis pengetahuan, bukan sekadar kecurigaan atau fanatisme.
Keempat, perkuat tradisi jejaring intelektual lintas negara. Jika nasionalisme Indonesia pernah tumbuh kosmopolitan, maka pertukaran gagasan adalah bagian dari warisan, bukan ancaman.
Kelima, belajar dari Hatta tentang batas. Bekerja sama dengan banyak pihak tidak sama dengan tunduk, dan menjaga jarak tidak sama dengan absen dari tanggung jawab.
-000-
Penutup: Warisan yang Mengajak Kita Dewasa
Tren tentang Hatta seharusnya tidak berakhir sebagai perayaan nama. Ia bisa menjadi pintu untuk menilai kembali cara kita memandang dunia, dan cara dunia memandang Indonesia.
Di balik riuh pencarian, ada pertanyaan sunyi. Apakah kita masih mampu bersikap bebas tanpa kesepian, dan aktif tanpa kehilangan diri.
Jika Hatta mengajarkan sesuatu, itu adalah keberanian untuk berdiri tegak sambil tetap membuka tangan. Sebab martabat bangsa dibangun dari pilihan yang sadar.
“Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar, kurang cakap bisa dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki.”