Mojokerto — Anggota MPR RI dari Dapil Jawa Timur VIII, Meitri Citra Wardani, menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Tahap X di Balai Desa Sumberwuluh, Kabupaten Mojokerto, Senin (15/12/2025). Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, perangkat desa, serta perwakilan pemuda Karang Taruna setempat.
Dalam kegiatan yang berlangsung menjelang akhir tahun 2025 itu, Meitri mengajak warga menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai bahan refleksi untuk menyongsong tahun baru. Ia menilai desa tidak hanya berfungsi sebagai wilayah administratif, tetapi juga memiliki peran penting sebagai benteng pertahanan nilai-nilai luhur bangsa.
Meitri menyoroti budaya tepa selira dan gotong royong yang menurutnya masih kuat di Sumberwuluh. Ia menyebut praktik-praktik sosial tersebut sebagai wujud nyata Pancasila yang perlu dijaga agar tidak tergerus modernisasi yang cenderung individualistis.
“Sering kali kita mencari Pancasila di buku-buku tebal, padahal Pancasila itu hidup subur di Balai Desa ini. Saat warga berkumpul untuk bermusyawarah, saat tetangga saling membantu hajatan tanpa dibayar, itulah nyawa Indonesia. Tugas kita hari ini adalah memastikan budaya ini tidak hilang dan terus diwariskan kepada anak cucu kita,” ujar Meitri.
Karena pelaksanaannya berdekatan dengan pergantian tahun, Meitri juga mengajak warga menyusun “resolusi kebangsaan”. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusivitas lingkungan pada tahun mendatang, terutama di tengah dinamika sosial dan ekonomi.
“Menjelang 2026, mari kita perkuat Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Jangan biarkan perbedaan pilihan politik atau isu-isu di media sosial memecah belah kerukunan tetangga. Pagar yang paling kuat untuk rumah kita bukanlah tembok beton, melainkan tetangga yang rukun,” tegasnya.
Acara berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan peserta menyinggung isu pertanian dan pemberdayaan ekonomi desa, yang kemudian dikaitkan dengan hak warga negara dalam UUD NRI 1945 untuk memperoleh kesejahteraan sebagaimana selaras dengan Sila Kelima Pancasila.

