Makadaya Pilih 10 Fellow 2021, Dorong Wirausaha Sosial dari Berbagai Daerah

Makadaya Pilih 10 Fellow 2021, Dorong Wirausaha Sosial dari Berbagai Daerah

Istilah wirausaha sosial atau social entrepreneur merujuk pada pelaku usaha yang menggunakan strategi bisnis untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial. Pendekatan ini umumnya lahir dari misi menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan, sekaligus membangun model usaha yang dapat terus berjalan.

Dalam konteks itu, Makadaya menghadirkan program Makadaya Fellowship untuk mendukung para pembuat perubahan di Indonesia. Makadaya merupakan ruang dan jaringan strategis yang berpusat di Bali, dibentuk untuk membantu komunitas changemaker mengembangkan solusi nyata dan berkelanjutan bagi isu-isu di komunitas mereka.

Makadaya Fellowship berlangsung selama sembilan bulan. Peserta yang ide atau usahanya terpilih mengikuti rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk membantu mereka meluncurkan dan/atau mengembangkan usaha sosial.

Pada awal Januari 2021, Makadaya memilih 10 Makadaya Fellow dari berbagai daerah di Indonesia. Ide dan usaha sosial terpilih bergerak pada lima tantangan sosial di masyarakat, yakni kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial, lingkungan, kesetaraan gender, serta pangan dan pertanian. Berikut profil singkat 10 fellow tersebut.

1. Abrar Ashari Siregar
Abrar berasal dari Padanglawas, Sumatera Utara. Ia terdorong mengolah limbah batok kelapa yang kerap menumpuk dan dibuang di pasar. Abrar membangun usaha sosial pengolahan limbah batok kelapa di Desa Pasar Binanga, Sumatera Utara, bernama Bagan Sinembah Gemilang. Ia menyukai pertanian dan sempat meninggalkan kuliah teknik untuk beralih ke politeknik jurusan pertanian. Dalam perjalanannya, langkah Abrar di fellowship terhenti pada bulan kedua karena ia pergi ke Jepang untuk mengejar cita-citanya.

2. Seriany Tonglo
Seriany Tonglo, perempuan asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan, adalah seniman yang menyukai fashion upcycle, perjalanan, dan taman. Ia terdorong mengatasi kesenjangan sosial dan keuangan yang ia lihat di sekitarnya, termasuk rendahnya partisipasi perempuan dalam kebijakan desa, minimnya fasilitas pendidikan, dan tingginya angka putus sekolah. Menurutnya, kondisi tersebut dapat berujung pada kemiskinan dan praktik pernikahan dini. Serin menginisiasi Sangbuaran, usaha sosial di bidang pengolahan pangan lokal untuk memberdayakan masyarakat.

3. Aminatuzohrah
Aminatuzohrah atau Ami berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pengalaman gagal dalam ujian sertifikasi kompetensi empat tahun sebelumnya mendorongnya untuk lebih memegang kendali atas visinya: membangun usaha berpenghasilan yang membuka lapangan kerja bagi perempuan menganggur agar mandiri. Ia mendirikan Inner Beaute, usaha sosial yang berfokus pada pemberdayaan perempuan. Melalui fellowship, Ami berharap dapat berkembang secara profesional dan memimpin bisnisnya lebih efektif.

4. I Komang Sukarma
Komang berasal dari Karangasem, Bali. Ia sempat putus sekolah saat SMK karena kendala finansial, namun kemudian menyelesaikan pendidikan di Universitas Udayana. Pada 2018, ia mendirikan Cilota Bali, usaha sosial yang membuka lapangan pekerjaan dengan produk utama gula lontar organik. Memanfaatkan ketersediaan pohon lontar di desanya, Komang bersama tim mengoptimalkan lebih dari 250 pohon lontar dan mempekerjakan 90 warga desa agar memperoleh penghasilan bulanan.

5. Endang Dzunuraini
Endang, perempuan asal Lamongan, Jawa Timur, mendirikan Sanggar Mbah Guru untuk meneruskan nilai-nilai yang dilakukan kakeknya lebih dari 100 tahun lalu. Diceritakan, sang kakek berkolaborasi dengan nenek dan 15 anak mereka untuk memberdayakan warga sekitar dengan mendirikan sekolah formal pertama setingkat SD di desa. Nenek juga mengajarkan keterampilan memasak, menjahit, membuat kue tradisional, dan membatik kepada remaja putri. Kini, Sanggar Mbah Guru menjadi ruang pemberdayaan perempuan melalui aktivitas kebudayaan, dengan dampak pada kesejahteraan dan pelestarian budaya. Endang berharap fellowship memperluas pengetahuan agar inisiatifnya berkembang dan berdampak lebih luas.

6. Ganis Shibarani
Ganis Shibarani dari Pasuruan, Jawa Timur, menginisiasi komunitas kesehatan untuk duafa bernama Gerak Peduli Indonesia. Pengalaman membangun komunitas tersebut membentuknya untuk terus mencari cara membantu mereka yang membutuhkan, terutama kalangan duafa. Lewat fellowship, Ganis ingin terus bertumbuh dan berkontribusi menuju Indonesia yang lebih sejahtera.

7. Muhammad Akmal Idrus
Muhammad Akmal Idrus, laki-laki asal Makassar, Sulawesi Selatan, berangkat dari pengalamannya sebagai jurnalis yang melihat kesenjangan sosial di Makassar. Ia menilai bantuan bagi masyarakat kurang mampu sering kali bersifat sesaat, sementara kebutuhan yang lebih berkelanjutan adalah lapangan pekerjaan dan pendidikan. Akmal membangun Kejar Mimpi Makassar, komunitas yang berfokus pada isu lingkungan, edukasi, filantropi, dan pembangunan sosial ekonomi. Selama fellowship, ia ingin mengembangkan Rappo, usaha sosial yang berfokus pada upaya daur ulang yang ia rintis saat pandemi Covid-19.

8. Riza Nisriinaa
Riza Nisriinaa atau Ina berasal dari Jember, Jawa Timur. Ia aktif dalam penelitian kebijakan publik terkait perubahan iklim di Jember pada 2018–2020, serta terlibat di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) cabang Jember yang berfokus pada perempuan dalam kondisi rentan. Ina menyampaikan mimpinya untuk membantu korban kekerasan dalam rumah tangga, korban kekerasan seksual, dan para istri terpidana agar kembali percaya diri, memutar roda perekonomian rumah tangga, serta mendapat perhatian pada kesehatan mental.

9. Sandi Mahendra
Sandi Mahendra dari Medan, Sumatera Utara, menaruh perhatian pada isu kesejahteraan sosial, terutama kelompok marjinal. Ia mengembangkan ide usaha sosial Terpandu yang ditujukan untuk memberi dampak positif bagi kelompok marjinal, khususnya mantan narapidana yang kesulitan memperoleh pekerjaan. Sandi meyakini setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.

10. Pande Made Beni Ariadi
Pande Made Beni Ariadi dari Tabanan, Bali, mendedikasikan hampir separuh usianya untuk membantu penyandang disabilitas. Ia tumbuh dalam situasi sulit, salah satunya karena ayahnya penyandang tuna daksa, yang mendorongnya belajar membuat alat bantu kaki palsu bagi penyandang disabilitas di Bali. Melalui fellowship, Beni berharap memperoleh pengalaman, pengetahuan, dan bimbingan untuk mengembangkan usaha sosialnya yang bergerak dalam daur ulang sampah plastik menjadi perabot rumah tangga dan kaki palsu, sehingga dapat memperluas bantuan bagi penyandang disabilitas di Bali.

Sepuluh profil tersebut menggambarkan ragam pendekatan wirausaha sosial—dari pengolahan limbah, penguatan pangan lokal, pemberdayaan perempuan, penciptaan lapangan kerja, hingga dukungan bagi kelompok rentan. Melalui Makadaya Fellowship, para peserta diharapkan dapat memperkuat kapasitas dan memperluas dampak dari inisiatif yang mereka bangun di daerah masing-masing.