Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) Universitas Negeri Malang (UM) angkatan 2024 mengikuti kuliah tamu bertema “Deep Learning and Digital Civic Education” pada Jumat, 7 Maret 2025. Kegiatan ini menghadirkan dosen PPKN Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Nurul Zuriah, M.Si., sebagai narasumber.
Kuliah tamu berlangsung di Aula H.O.S Tjokroaminoto, Gedung Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM, pukul 13.00–16.00 WIB. Acara berjalan dengan diskusi antara narasumber dan peserta, yang terdiri dari mahasiswa PPKN offering A dan B.
Dalam pemaparannya, narasumber membahas konsep “Deep Learning” sebagai pendekatan pembelajaran yang mendorong pemahaman lebih mendalam, pemikiran kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Pendekatan ini diposisikan sebagai upaya untuk mendukung terwujudnya 8 Profil Pelajar Pancasila dalam konteks pendidikan kewarganegaraan.
Kegiatan ini dimoderatori oleh Alfian Fawaidil Wafa, M.Pd., dosen Departemen Hukum dan Kewarganegaraan FIS UM. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pertanyaan terkait Deep Learning yang disebut sebagai konsep terbaru yang akan dihadirkan dalam pendidikan Indonesia, terutama sebagai cara agar peserta didik dapat memahami pelajaran secara lebih mendalam.
Narasumber menekankan tiga elemen penting yang dinilai mendukung pencapaian 8 Profil Pelajar Pancasila, yakni mindful learning (pembelajaran sadar), meaningful learning (pembelajaran bermakna), dan joyful learning (pembelajaran menyenangkan). Ketiganya diarahkan untuk membangun keterlibatan aktif peserta didik dalam memahami nilai-nilai Pancasila, sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang memotivasi pengembangan karakter dan kompetensi.
Ia juga menguraikan sejumlah dimensi yang dituju melalui Profil Pelajar Pancasila, antara lain keimanan dan ketaqwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Menurutnya, dimensi-dimensi tersebut relevan untuk menjawab tantangan yang dihadapi Indonesia, seperti perubahan masa depan yang sulit diprediksi, bonus demografi 2035, visi Indonesia Emas 2045, serta persoalan mutu pendidikan, literasi, numerasi, kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), dan ketimpangan mutu pendidikan antardaerah.
Dalam diskusi, muncul pandangan dari mahasiswa mengenai tantangan implementasi Deep Learning, terutama terkait ketimpangan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satu mahasiswa menilai perbedaan kualitas pendidikan antardaerah dapat membuat penerapan konsep baru memerlukan penyesuaian dan waktu lebih lama.
Menanggapi hal itu, narasumber menyampaikan bahwa Deep Learning justru ditujukan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik agar lebih aktif memahami dan mengimplementasikan pembelajaran melalui tiga elemen yang telah dipaparkan, dengan target mewujudkan 8 Profil Pelajar Pancasila. Ia mengaitkan pendekatan tersebut dengan tujuan pendidikan berkualitas dalam Sustainable Development Goals (SDG 4), termasuk dorongan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi.
Kuliah tamu ini diselenggarakan dengan harapan mahasiswa PPKN sebagai calon pendidik dapat memiliki bekal dalam merancang pembelajaran, melakukan pengukuran, serta evaluasi. Melalui pemahaman tentang pendekatan Deep Learning, mereka diharapkan mampu membantu mencetak lulusan yang tidak hanya memahami Profil Pelajar Pancasila, tetapi juga mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.

