Jumlah korban meninggal akibat longsor di Desa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang telah teridentifikasi mencapai 57 orang. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu merujuk pada bencana yang terjadi pada 25 Januari 2026.
Hingga Senin (02/02), BNPB mencatat tim gabungan telah mengumpulkan jenazah dalam 74 kantong. Dari jumlah tersebut, 57 kantong jenazah telah terkonfirmasi identitasnya.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menyatakan keyakinannya bahwa masih ada enam korban yang belum ditemukan. Menurut dia, tim SAR sejak awal kejadian terus memperluas wilayah pencarian untuk memperbesar peluang menemukan para korban.
Dalam operasi pencarian, BNPB menyebutkan ada 18 alat berat yang dioperasikan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Abdul Muhari mengatakan pengerahan alat berat ditambah untuk memperluas area pencarian terhadap enam orang yang masih dinyatakan hilang.
Di lokasi, BNPB mencatat 3.229 personel terlibat dalam penanganan dan pencarian. Namun, upaya tersebut kerap terkendala hujan yang turun di Desa Cisarua. Sebelumnya, cuaca buruk dan kondisi tanah yang labil juga disebut menghambat operasi pencarian.
Direktur Operasi Basarnas Laksma Y. Bramantyo N pada 29 Januari lalu menyebut kendala utama berada pada faktor cuaca dan kondisi alam sehingga upaya di lapangan tidak bisa dilakukan secara maksimal.
Pengungsi dipindahkan ke hunian sementara
Kepala BNPB Suharyanto menyatakan para pengungsi korban longsor Cisarua akan dipindahkan dari tempat pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu ke hunian sementara. BNPB menyiapkan dua opsi, yakni menempati hunian sementara yang dibangun pemerintah atau mencari hunian sementara secara mandiri dengan dukungan dana tunggu hunian sebesar Rp600 ribu per keluarga setiap bulan.
Para pengungsi direncanakan menempati hunian sementara selama tiga bulan, mulai Januari hingga Maret 2026, sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Jika hunian tetap belum rampung, masa penempatan hunian sementara akan diperpanjang.
Data resmi mencatat setidaknya 48 rumah warga terdampak longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
23 anggota TNI dikonfirmasi tertimbun
Di tengah proses pencarian, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengonfirmasi terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor. Dari jumlah itu, empat orang dilaporkan telah ditemukan dalam kondisi meninggal, sementara yang lain masih dalam pencarian.
Sebelumnya beredar kabar di media sosial mengenai puluhan anggota TNI yang menjadi korban. Disebutkan, 23 personel tersebut tengah melaksanakan latihan tempur di sekitar lokasi dan komunikasi terputus setelah longsor terjadi pada Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Keluarga korban menunggu kepastian di pos DVI
Sejak hari-hari awal kejadian, keluarga korban mendatangi Pos Postmortem Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat untuk menunggu kabar. Setiap ambulans yang datang membawa kantong jenazah disambut keluarga yang berusaha memastikan identitas kerabat mereka melalui ciri-ciri yang melekat.
Seorang ayah bernama Adi, misalnya, berulang kali menanyakan kepada petugas apakah jenazah yang datang memakai gelang hitam, ciri yang dikenakannya pada putrinya, Delisa (11). Adi juga ikut mencari di lokasi longsor. Pada Senin (26/1) sekitar pukul 14.00 WIB, jenazah Delisa ditemukan; kerabatnya, Ai Jubaedah, mengatakan gelang hitam menjadi penanda yang dikenali keluarga.
Ai menyebut Delisa adalah satu dari 11 anggota keluarganya yang menjadi korban longsor, dan saat itu lima orang telah ditemukan. Ia menggambarkan material longsor yang menimbun permukiman sangat tebal, disertai batu-batu besar, hingga mengubah kontur lembah menjadi rata.
Kesedihan juga dirasakan warga lain seperti Titi yang kehilangan anak, menantu, cucu, dan buyutnya karena rumah anak sulungnya tertimbun. Di posko pengungsian, ia menyatakan hanya bisa berharap tim SAR segera menemukan keluarganya, meski kecil kemungkinan ditemukan selamat. Warga lain, Neni Nurhayati, mengatakan kehilangan 10 keponakan dan hingga Senin (26/1) belum mendapat kabar keluarga yang ditemukan adalah kerabatnya.
Kesaksian penyintas dan kondisi saat kejadian
Sejumlah penyintas menceritakan longsor terjadi dini hari saat sebagian besar warga terlelap. Titi mengaku terbangun sekitar pukul 02.30 WIB setelah mendengar suara ledakan dan jeritan, lalu diminta keluar rumah oleh anaknya. Neni menyebut suara gemuruh terdengar seperti “pesawat terbang”, di tengah hujan yang sudah turun sejak Jumat (23/1) pagi dan kondisi listrik padam. Ia bersama keluarga berlari ke masjid sebelum akhirnya menuju posko pengungsian.
Menurut Kepala Desa Pasirlangu Nur Awaludin Lubis, sebelum longsor kawasan diguyur hujan deras disertai angin kencang selama dua hari. Kapolsek Cisarua AY Yogaswara menyatakan longsor diawali suara gemuruh keras, lalu material tanah dan lumpur meluncur dari Kampung Pasirkuning ke Kampung Pasir Kuda, disertai banjir bandang.
Rencana relokasi dan kajian kerawanan
Pemerintah Jawa Barat menyebut longsor terjadi sepanjang tiga kilometer dengan kedalaman 150 meter. Longsor menimbun sekitar 30 rumah yang dihuni lebih dari 100 orang. Selain di Desa Pasirlangu, longsor juga terjadi di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, dan menyebabkan dua warga meninggal.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan rencana relokasi warga terdampak di Kabupaten Bandung Barat. Ia menilai lingkungan sekitar lokasi dipenuhi tanaman sayur dan dengan kontur perbukitan, kebun sayur dinilai rentan memicu longsor sehingga membahayakan warga. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga disebut akan menyalurkan bantuan Rp10 juta kepada korban selamat untuk biaya kontrak rumah selama dua bulan dan kebutuhan sehari-hari, serta santunan Rp25 juta per kepala keluarga bagi keluarga korban meninggal.
Berdasarkan kajian Badan Geologi, longsor di Desa Pasirlangu berdampak pada area sekitar 30 hektare. Wilayah tersebut merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang intensif. Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum memadai, disebut memengaruhi kestabilan lereng dan meningkatkan potensi gerakan tanah.
Menurut Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), lokasi kejadian berada pada Zona Kerentanan Menengah, di mana gerakan tanah dapat terjadi terutama pada lereng yang terganggu secara alami maupun oleh aktivitas manusia, khususnya saat curah hujan tinggi dan berlangsung lama. Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan kejadian gerakan tanah di Desa Pasirlangu merupakan hasil interaksi kondisi geologi, morfologi curam, tata guna lahan, serta faktor pemicu berupa curah hujan tinggi.
Status darurat bencana
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan status darurat bencana menyusul kejadian tersebut. Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan langkah itu diambil untuk mempercepat penanganan di lapangan, termasuk pencarian warga yang dinyatakan hilang, serta memaksimalkan sumber daya pemerintah daerah.

