Di tengah berlangsungnya KTT iklim COP30 di Brasil pada awal November, sejumlah klaim keliru dan menyesatkan tentang perubahan iklim kembali ramai di media sosial. Sebagian unggahan itu telah dibaca jutaan kali. Berikut lima klaim yang kerap beredar, beserta penjelasan ilmiah mengapa klaim-klaim tersebut dinilai tidak tepat.
1) “Perubahan iklim bukan buatan manusia”
Klaim bahwa manusia tidak memengaruhi iklim terus muncul dalam berbagai bahasa. Memang benar, bumi pernah mengalami siklus pemanasan dan pendinginan sepanjang sejarahnya akibat faktor alami, seperti aktivitas vulkanik atau variasi aktivitas matahari. Namun, perubahan alami tersebut biasanya terjadi dalam rentang waktu sangat panjang—ribuan hingga jutaan tahun.
Dalam sekitar 150 tahun terakhir, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut planet ini telah menghangat sekitar 1,3°C. Para ilmuwan menilai laju pemanasan ini belum pernah terlihat setidaknya selama ribuan tahun. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan pemanasan itu “jelas” disebabkan aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas yang melepaskan gas rumah kaca—terutama karbon dioksida (CO2)—yang memerangkap panas di atmosfer.
2) “Dunia semakin dingin, bukan semakin panas”
Sebagian pengguna media sosial menganggap cuaca lebih dingin dari biasanya di wilayah tertentu sebagai bukti bahwa pemanasan global tidak terjadi. Namun, cuaca dan iklim adalah dua hal berbeda. Cuaca menggambarkan kondisi atmosfer jangka pendek, sementara iklim merujuk pada pola jangka panjang.
Catatan suhu global jangka panjang menunjukkan permukaan bumi secara keseluruhan semakin hangat, meski beberapa wilayah dapat mengalami pendinginan lokal atau sementara. WMO menyatakan sejak 1980-an, setiap dekade lebih hangat dibanding dekade sebelumnya, dan tren ini diperkirakan berlanjut. WMO juga menyebut 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata global sekitar 1,55°C lebih tinggi dibanding akhir 1800-an.
3) “CO2 bukan polutan”
Ada pula klaim yang menyebut CO2 bukan polutan, melainkan “makanan tanaman”, sehingga peningkatan CO2 dianggap hanya membawa dampak baik. Dalam definisi umum, polutan adalah zat yang ketika masuk ke lingkungan dapat membahayakan ekosistem atau kesehatan manusia.
Pada kadar normal, CO2 memang penting bagi kehidupan. NASA menjelaskan tanpa gas rumah kaca seperti CO2, bumi akan terlalu dingin untuk mendukung kehidupan. Tumbuhan juga menggunakan CO2 bersama air dan sinar matahari untuk menghasilkan oksigen dan bahan organik. Namun, ketika jumlah CO2 di atmosfer berlebihan, para ilmuwan mengklasifikasikannya sebagai polutan karena mulai menimbulkan kerusakan.
WMO mencatat kadar CO2 mencapai rekor tertinggi pada 2024, meningkat sejak 1750 dari sekitar 280 ppm menjadi 423 ppm. Para ilmuwan mengaitkan kenaikan konsentrasi CO2 akibat aktivitas manusia dengan pemanasan global dan dampak luasnya terhadap ekosistem. IPCC menyatakan peningkatan CO2 dapat mendorong pertumbuhan tanaman, tetapi kemungkinan tidak cukup untuk menutup dampak negatif perubahan iklim, termasuk tekanan panas dan kelangkaan air.
4) “Pembakaran, bukan perubahan iklim, yang menyebabkan kebakaran hutan”
Setiap kali terjadi kebakaran hutan besar, sebagian warganet menyoroti pembakaran yang disengaja sebagai penyebab utama dan mengabaikan peran faktor lain, termasuk perubahan iklim. Memang, banyak kebakaran bermula dari ulah manusia—baik sengaja maupun tidak sengaja. Namun, menggeneralisasi kebakaran hutan hanya pada satu penyebab dinilai menyesatkan.
Menautkan satu peristiwa kebakaran tertentu langsung ke perubahan iklim juga tidak selalu mudah karena banyak faktor berperan, seperti pengelolaan hutan, cuaca, dan topografi. Meski begitu, IPCC menyatakan perubahan iklim menciptakan kondisi yang lebih ideal bagi terjadinya dan meluasnya kebakaran, terutama melalui peningkatan “cuaca kebakaran” di sejumlah wilayah—kombinasi kondisi kering berkepanjangan, panas ekstrem, dan angin kencang. Dalam situasi seperti ini, sumber penyulut apa pun—petir, pembakaran, atau kecelakaan—dapat berujung pada kebakaran ekstrem ketika bertemu vegetasi yang melimpah.
5) “Rekayasa iklim menyebabkan cuaca ekstrem”
Klaim bahwa hujan lebat, banjir, atau badai terjadi akibat manipulasi cuaca atau rekayasa iklim juga kerap muncul. Namun, manipulasi cuaca dan rekayasa iklim adalah dua hal berbeda, dan keduanya tidak menjelaskan cuaca ekstrem berskala besar yang dialami berbagai wilayah.
Manipulasi cuaca memang ada, salah satunya penyemaian awan yang telah diterapkan di lebih dari 30 negara dalam beberapa tahun terakhir. Teknik ini dilakukan dengan menyebarkan partikel kecil seperti perak iodide ke awan untuk mendorong uap air mengembun atau membeku sehingga meningkatkan peluang hujan atau salju. Meski efektivitasnya masih diperdebatkan, para ilmuwan sepakat penyemaian awan bukan faktor tunggal penyebab banjir besar atau badai berskala luas karena dampaknya terbatas secara lokal dan dalam periode singkat.
Adapun rekayasa iklim merujuk pada upaya memanipulasi lingkungan untuk mengubah iklim. Salah satu konsep yang sering dibicarakan adalah modifikasi radiasi matahari, yakni menyemprotkan partikel halus ke atmosfer untuk memantulkan sinar matahari agar bumi mendingin. Namun, selain sejumlah kecil eksperimen yang sangat terlokalisasi, teknik ini tidak dilakukan dalam skala besar di mana pun. Meski begitu, beberapa negara—termasuk Inggris—disebut mulai berinvestasi pada riset untuk menilai apakah pendekatan tersebut dapat membantu membatasi pemanasan global yang berbahaya.
Dengan beredarnya berbagai klaim di media sosial, para ilmuwan menekankan pentingnya membedakan pengalaman cuaca lokal dengan tren iklim global, serta memahami perbedaan antara informasi berbasis bukti dan narasi yang menyesatkan.

