Drama Korea The Art of Sarah mencuri perhatian sejak penayangan perdananya. Cerita berpusat pada Sarah Kim, karakter yang diperankan Shin Hye Sun, yang rangkaian kebohongannya memicu berbagai kejahatan—baik yang ia lakukan sendiri maupun yang dilakukan orang lain.
Alur drama ini bermula dari sebuah kasus pembunuhan. Namun, ketika penyelidikan berjalan, terungkap bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan persoalan lain seperti penipuan dan pencurian. Berikut lima isu sosial yang tercermin dalam The Art of Sarah.
1. Pembunuhan
Park Mu Gyeong (Lee Jun Hyuk), seorang detektif, menyelidiki kematian mayat anonim yang ditemukan di selokan. Identitas korban sulit dipastikan karena wajahnya hancur. Dalam proses penelusuran, Park Mu Gyeong sempat menduga mayat tersebut adalah Sarah Kim. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan diduga meninggal karena kedinginan setelah lebih dulu diserang hingga terluka parah. Penyelidikan panjang kemudian mengarah pada fakta bahwa mayat itu bukan Sarah Kim, dan Sarah Kim membunuh orang lain untuk dapat menggunakan identitas korban.
2. Pencurian
Sebelum terjerat berbagai peristiwa besar, Sarah Kim bekerja di sebuah mal sebagai karyawan di bagian barang mewah. Pada suatu hari, ia meninggalkan toko karena harus ke toilet yang letaknya cukup jauh. Saat ia pergi, terjadi pencurian barang di toko dan Sarah Kim disalahkan karena dianggap tidak siaga menjaga.
Selain itu, ketika ditugaskan membeli barang diskon, ia berinisiatif menjualnya secara daring dengan mengklaimnya sebagai barang bermerek. Ia bahkan mencuri foto milik influencer untuk menarik pembeli. Sarah Kim juga mencuri kartu identitas karyawan lain dan memakainya untuk mengelola bisnis tersebut.
3. Penipuan
Keberhasilan menjalankan bisnis kecil-kecilan membuat Sarah Kim terdorong melakukan langkah yang lebih besar. Ia bertekad membangun merek sendiri dan menyasar kalangan sosialita. Namun, penyelidikan Park Mu Gyeong mengungkap bahwa identitas Sarah Kim tidak jelas. Selama ini, tidak ada orang yang benar-benar bernama Sarah Kim, dan perempuan yang memakai nama itu dikenal dengan nama lain di lingkungannya.
Sarah Kim berkali-kali menggunakan identitas orang lain untuk menipu, dengan pola yang berkembang dari tahap sederhana hingga semakin rumit. Ia tampil sebagai pengusaha barang mewah, padahal yang diproduksi adalah barang palsu.
4. Fenomena “tante girang” dan berondong
Salah satu korban tipu daya Sarah Kim adalah Choi Chae U (Bae Jong Ok), pemilik Mal Samwol—tempat Sarah Kim pernah bekerja. Choi Chae U digambarkan ingin kembali merasakan masa muda, sesuatu yang tidak banyak diketahui orang. Sarah Kim memanfaatkan situasi itu dengan menyuruh Kang Ji Hwon (Kim Jae Won) menjadi simpanan Choi Chae U. Dengan menempatkannya sebagai mata-mata, Sarah Kim bisa mempelajari cara memikat Choi Chae U dan menjalankan rencananya.
5. FOMO dan gaya hidup konsumtif
Drama ini juga menyoroti fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan tren. Dari anak muda hingga orang dewasa, barang bermerek dijadikan tolok ukur kekayaan dan kesuksesan. Gaya hidup konsumtif tersebut digambarkan menjadi salah satu pendorong yang membuat Sarah Kim nekat melakukan berbagai kejahatan.
Melalui rangkaian konflik yang dialami tokoh utamanya, The Art of Sarah tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga memantulkan sejumlah isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Drama ini menggambarkan bagaimana kebohongan, ambisi, dan tekanan sosial dapat berkelindan dan memicu kejahatan yang lebih besar.

