Lapak Kuliner Sore di Pantai Panjang Bengkulu Picu Dilema: Ekonomi Warga vs Ketertiban Ruang Publik

Lapak Kuliner Sore di Pantai Panjang Bengkulu Picu Dilema: Ekonomi Warga vs Ketertiban Ruang Publik

BENGKULU — Kawasan wisata Pantai Panjang Bengkulu kini tidak hanya dikenal karena panorama matahari terbenam. Seiring ramainya aktivitas lapak kuliner pada sore hari, muncul benturan kepentingan antara upaya menggerakkan ekonomi warga lokal dan kebutuhan penataan tata ruang serta kenyamanan publik.

Setiap hari sejak sekitar pukul 16.30 WIB, geliat ekonomi terlihat di sepanjang kawasan tersebut. Berbagai jajanan seperti kelapa muda, jagung bakar, hingga minuman kekinian dijajakan pedagang kaki lima menggunakan lapak portabel dan gerobak di tepi jalan utama.

Para pedagang memilih berjualan di bahu jalan karena dianggap strategis untuk menjangkau pengunjung yang datang menikmati suasana senja. Pola transaksi pun kerap berlangsung seperti drive-thru informal, dengan pembeli berhenti di pinggir jalan untuk memesan dan membawa pulang makanan atau minuman.

Namun, aktivitas ini memunculkan persoalan pada fungsi ruang publik. Bahu jalan kerap digunakan sebagai parkir darurat, sementara jalur pedestrian dimanfaatkan untuk menempatkan meja dan kursi. Kondisi tersebut disebut sering memicu kemacetan, terutama di jalur dari area Sport Centre yang menjadi perlintasan utama masyarakat Kota Bengkulu. Selain perlambatan arus lalu lintas pada jam pulang kerja, muncul pula kekhawatiran terkait penumpukan sampah plastik sisa makanan setelah kegiatan perdagangan.

Sejumlah pengguna jalan mengaku merasakan dampaknya. Rian (32), pengendara mobil yang rutin melintasi kawasan Pantai Panjang sepulang kerja, menilai penyempitan jalan pada sore hari cukup mengganggu. Ia menyebut kemacetan sering terjadi karena kendaraan pembeli parkir hingga memakan badan jalan, terutama di sekitar Sport Centre. Menurutnya, penataan oleh petugas atau juru parkir diperlukan agar arus lalu lintas tidak tersendat.

Di sisi lain, pedagang menyatakan lapak di tepi jalan menjadi tumpuan penghasilan harian keluarga. Herman (41), pedagang kopi di area Pantai Panjang, menggambarkan kondisi berjualan yang bergantung pada keramaian dan cuaca. Ia mengatakan suasana ramai di Pantai Panjang membantu penjualan, tetapi ketika hujan deras atau angin kencang pada sore hari, jumlah pembeli bisa turun drastis dan pendapatan ikut merosot.

Siti (35), pedagang jagung bakar, menegaskan penghasilan dari berjualan di lokasi tersebut penting untuk kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah anak. Ia menyatakan para pedagang pada dasarnya tidak menolak penataan oleh pemerintah, namun meminta agar jika ada pemindahan lokasi, tempat pengganti tetap ramai dan mudah terlihat pengunjung agar usaha tidak sepi.

Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan untuk merumuskan regulasi atau skema relokasi terpadu. Upaya itu diharapkan dapat menjaga ruang usaha bagi pedagang UMKM tanpa mengorbankan ketertiban tata ruang, estetika kawasan, dan kenyamanan publik di salah satu ikon wisata Bengkulu.