Organisasi Kudu Pede Caruban (KPC) menggelar kegiatan BukBerliterasi dengan menggandeng komunitas pegiat literasi Cirebon, yakni Dialektika Muda Cirebon dan Mertika.id. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat sinergi dalam merawat tradisi literasi di Cirebon sekaligus membuka ruang diskusi produktif selama Ramadan.
Agenda tersebut dihadiri sejumlah pegiat literasi, akademisi, serta penulis muda. Kegiatan ini disebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum untuk merumuskan gagasan dan karya berbasis literasi.
Ketua KPC, Sopidi, mengatakan kegiatan ini ingin mengubah makna berkumpul menjadi lebih substansial. Menurutnya, generasi muda perlu menjadikan pertemuan sebagai ruang mencari makna, mengidentifikasi persoalan, serta merumuskan solusi.
“Berkumpul hari ini bukan sekadar melestarikan kebiasaan, tetapi bagaimana kita mencari makna, menemukan persoalan, dan menghadirkan solusi juga menghadirkan pikiran baru Cirebon khususnya bagi kalangan muda,” ujar Sopidi.
Dalam forum tersebut, peserta juga membahas rencana penulisan buku berjudul Jejak Pengabdian Bupati Cirebon Dua Periode yang mengangkat kiprah Bupati Cirebon, Imron Rosyadi. Buku itu direncanakan memuat perspektif keluarga, sahabat, hingga masyarakat sebagai upaya mendokumentasikan perjalanan kepemimpinan secara literatif.
Sopidi menilai kepemimpinan dua periode memiliki nilai historis yang penting untuk diabadikan dalam bentuk tulisan. Ia memandang hal itu sebagai bagian dari pelestarian literasi sekaligus pembelajaran bagi generasi mendatang.
Diskusi juga menyoroti pentingnya literasi di tengah disrupsi informasi. Generasi Z didorong tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu mengolahnya menjadi karya tulis yang bernilai.
Perwakilan Dialektika Muda Cirebon, Mohamad Romadoni, menyampaikan bahwa pihaknya bersama para penulis muda telah menerbitkan buku Gen Z Bersuara. Buku tersebut berisi kumpulan opini dari 18 penulis dengan latar belakang beragam yang mengangkat isu kesehatan mental, lingkungan, hingga dinamika sosial generasi muda.
“Kami ingin memprovokasi generasi Z untuk tidak hanya resah, tetapi mampu mengubah keresahan itu menjadi karya dan solusi,” kata Romadoni.
Ia menambahkan, literasi dapat menjadi medium komunikasi yang efektif untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Melalui tulisan, berbagai persoalan dinilai bisa dipahami lebih mendalam dan melahirkan perspektif baru.
Sementara itu, perwakilan Mertika.id, Rizqi Alfarel, menekankan bahwa literasi tidak hanya sebatas membaca teks, tetapi juga memahami konteks sosial di sekitar. Ia menyebut kolaborasi antarkomunitas ini memiliki visi yang sama, yakni mendorong lahirnya karya buku sebagai bentuk komunikasi tidak langsung kepada masyarakat.
“Kami memiliki orientasi yang sama, yaitu menghadirkan buku sebagai medium komunikasi dan pengarsipan gagasan,” ujarnya.
Rizqi juga mengapresiasi langkah Bupati Cirebon yang berinisiatif mendokumentasikan perjalanan pengabdiannya dalam bentuk buku. Ia berharap ke depan dapat ada kelanjutan berupa catatan prestasi di akhir masa jabatan.
Dukungan turut disampaikan Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Abdurrahman. Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan pola pikir maju dari generasi muda dan berharap gerakan literasi semacam ini terus berkembang serta berkontribusi bagi pembangunan daerah.
“Ini menunjukkan generasi muda sudah berpikir positif dan berorientasi pada pembangunan daerah,” ujarnya.

