Kualitas udara di Jakarta dalam beberapa hari terakhir kembali memburuk dan memicu kekhawatiran kesehatan warga. Langit pagi yang biasanya cerah tampak kusam, sementara banyak warga menyebut kondisi itu sebagai “kabut”. Namun, yang terhirup sebenarnya campuran polusi dari asap kendaraan, partikel industri, dan debu yang tersuspensi di udara.
Situasi ini terasa langsung dalam rutinitas harian. Sejumlah warga melaporkan anak-anak lebih mudah batuk, lansia cepat sesak, dan mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan kembali membatasi aktivitas di luar ruang. Kebiasaan memakai masker dan mengatur aktivitas luar rumah pun kembali menguat, mengingatkan pada pola yang pernah terbentuk selama masa pandemi.
Data pemantauan pada pagi hari mencatat indeks kualitas udara (AQI) Jakarta sempat berada di kisaran 132, yang masuk kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif. Kelompok ini mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit pernapasan atau jantung. Pada saat yang sama, konsentrasi PM2.5 terukur sekitar 48 µg/m³, jauh di atas pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Keluhan warga juga muncul dari mereka yang beraktivitas di luar ruang. Dara, karyawan yang biasa berjalan kaki dari halte ke kantor, mulai membawa masker cadangan dan menunda lari pagi. Sementara Bima, pengemudi ojek daring, mengeluh tenggorokan perih meski sudah minum banyak air. Pengalaman semacam ini menegaskan bahwa dampak polusi tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dalam kesehatan dan kenyamanan sehari-hari.
Kondisi udara di Jakarta turut berkaitan dengan situasi di kawasan penyangga. Pada periode pemantauan yang sama, kota-kota seperti Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi mencatat angka polusi yang lebih tinggi dibanding Jakarta. Hal ini memperlihatkan bahwa pergerakan polutan tidak mengenal batas administrasi, sehingga penanganan membutuhkan koordinasi lintas wilayah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melanjutkan langkah penanganan melalui penegakan uji emisi kendaraan, disertai koordinasi dengan daerah penyangga. Program uji emisi gratis sebelumnya disebut pernah menjangkau lebih dari 1,6 juta kendaraan. Di sisi lain, pemerintah juga mendorong penggunaan penyaring udara di rumah sebagai salah satu langkah perlindungan tambahan.
Dalam kondisi kualitas udara yang tidak bersahabat, warga—terutama kelompok rentan—disarankan membatasi aktivitas di luar ruang, menutup ventilasi saat puncak polusi, dan memakai masker. Di tengah berbagai upaya penanganan, pertanyaan yang masih mengemuka adalah seberapa cepat kualitas udara di lingkungan perkotaan dapat pulih ketika sumber polutan datang dari berbagai arah sekaligus.

