Krisis Kepercayaan dan Politik Pascakebenaran Jadi Tantangan Utama Pemerintahan Prabowo

Krisis Kepercayaan dan Politik Pascakebenaran Jadi Tantangan Utama Pemerintahan Prabowo

Kepercayaan publik disebut sebagai salah satu modal paling penting dalam kehidupan bernegara. Ketika kepercayaan itu melemah, dampaknya dapat merembet pada stabilitas politik, efektivitas pemerintahan, hingga legitimasi demokrasi.

Dalam konteks Indonesia saat ini, persoalan yang dinilai mengemuka bukan hanya agenda ekonomi seperti pertumbuhan, hilirisasi industri, atau pembangunan infrastruktur, melainkan krisis integritas dalam penyelenggaraan negara. Kejujuran dipandang sebagai fondasi yang menentukan lahirnya keadilan dan amanah, sebagaimana ditekankan dalam tradisi Islam melalui konsep al-sidq. Nilai serupa juga disebut sejalan dengan cita-cita Pembukaan UUD 1945 yang menempatkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan pemerintahan yang bersih sebagai pijakan.

Namun, ruang publik dalam beberapa tahun terakhir dinilai diwarnai meningkatnya polarisasi, menurunnya kepercayaan terhadap institusi negara, serta menguatnya persepsi konflik kepentingan dalam kekuasaan. Sejumlah survei nasional disebut menunjukkan bahwa meski tingkat kepuasan terhadap pemerintah masih relatif tinggi, kepercayaan terhadap penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan kualitas demokrasi menghadapi tantangan serius.

Sejumlah laporan lembaga internasional juga disebut memperlihatkan kecenderungan serupa. Skor Corruption Perceptions Index Indonesia dinilai masih berada pada tingkat yang menunjukkan korupsi tetap menjadi persoalan struktural. Di sisi lain, indeks demokrasi dari sejumlah lembaga internasional disebut mencatat penurunan kualitas demokrasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Indikator-indikator tersebut dipandang sebagai peringatan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan penguatan institusi demokrasi.

Fenomena lain yang dinilai semakin menonjol adalah menguatnya post-truth politics atau politik pascakebenaran. Dalam situasi ini, persepsi publik disebut kerap dibentuk bukan oleh fakta terverifikasi, melainkan oleh narasi politik, emosi, dan propaganda. Ketika ruang publik dipenuhi informasi yang saling bertentangan, masyarakat dinilai kesulitan membedakan fakta dan konstruksi politik.

Kondisi tersebut disebut dapat memicu erosion of public trust, yakni pengikisan kepercayaan publik terhadap negara. Ketika masyarakat mulai meragukan independensi lembaga penegak hukum, mempertanyakan proses pengambilan kebijakan, atau menilai adanya standar ganda, yang tergerus dinilai bukan sekadar citra pemerintah, melainkan legitimasi negara.

Sejumlah kontroversi yang berkembang di ruang publik turut memperkuat persepsi itu, mulai dari polemik dugaan ijazah mantan Presiden Joko Widodo yang masih menjadi perdebatan, isu pemberantasan perjudian daring, berbagai perkara korupsi berskala besar, hingga kritik mengenai dugaan kriminalisasi dalam sejumlah kasus. Meski proses hukum dan asas praduga tak bersalah tetap harus dihormati, persepsi tersebut disebut sebagai realitas politik yang tidak dapat diabaikan.

Dalam situasi tersebut, tantangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak cukup dijawab dengan melanjutkan pembangunan fisik atau mengejar target pertumbuhan ekonomi. Pemerintah baru dipandang perlu memulihkan kepercayaan publik melalui tata kelola yang transparan dan akuntabel, serta berani melakukan koreksi terhadap persoalan yang diwarisi dari periode sebelumnya apabila ditemukan penyimpangan melalui mekanisme konstitusional.

Merujuk pada teori legitimasi politik Max Weber, kekuasaan disebut bertahan bukan semata karena kekuatan negara, melainkan karena pengakuan masyarakat. Ketika legitimasi melemah, stabilitas politik dinilai menjadi rapuh meski instrumen kekuasaan tetap kuat. Sejumlah pengalaman negara lain juga kerap menunjukkan bahwa krisis kepercayaan dapat menjadi awal instabilitas politik berkepanjangan.

Karena itu, Presiden Prabowo dinilai berada di persimpangan. Ia dapat mempertahankan kontinuitas politik yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai simbol stabilitas. Namun, ia juga dapat menempuh jalan yang lebih sulit: membenahi institusi secara menyeluruh, memperkuat independensi aparat penegak hukum, membuka ruang evaluasi atas kebijakan yang dipersoalkan publik, serta memastikan tidak ada pihak yang berada di atas hukum.

Pilihan untuk melakukan pembenahan menyeluruh disebut mengandung risiko politik. Meski demikian, pandangan dalam artikel ini menilai kepemimpinan justru diuji pada keberanian mengoreksi kekeliruan, bukan sekadar mempertahankan kenyamanan status quo.

Pada akhirnya, keberhasilan pemerintahan Prabowo disebut tidak hanya akan diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Warisan yang dinilai paling menentukan adalah apakah pemerintahannya mampu memulihkan kembali kepercayaan rakyat terhadap negara melalui kejujuran, akuntabilitas, dan supremasi hukum.