Krisis hunian di kota-kota besar Indonesia kian meluas dari persoalan ekonomi menjadi persoalan sosial yang memengaruhi pola hidup, interaksi, hingga keputusan hidup generasi muda perkotaan. Lonjakan harga rumah, mahalnya sewa, serta keterbatasan lahan membuat banyak orang usia produktif terdorong hidup berpindah dari kos ke kos atau menyewa kontrakan tanpa kepastian memiliki hunian permanen.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai kondisi ini membawa dampak sosial yang luas dan berlapis, mulai dari perubahan pola hunian, pergeseran relasi sosial, hingga pengaruhnya terhadap keputusan menikah dan menetap di kota.
“Yang pertama, pola hunian, pola pemukiman itu memang mempengaruhi pola hidup, sosialisasi, gaya hidup, nilai-nilai sosial. Itu secara sosial dan secara spasial itu memang ada pengaruhnya, termasuk generasi muda,” ujar Rakhmat saat dihubungi, Senin (19/1/2026).
Rakhmat menjelaskan, kesulitan generasi muda untuk memiliki hunian permanen tidak bisa dilepaskan dari persoalan struktural di perkotaan, terutama ketimpangan antara permintaan dan ketersediaan hunian. Menurut dia, permintaan di kota besar tinggi, sementara lahan dan ketersediaan permukiman terbatas.
“Generasi muda itu kenapa misalnya dia mengalami kesulitan dalam mencari hunian yang permanen? Karena memang, gini, itu kan terkait dengan supply and demand. Supply and demand, sementara di kota-kota besar itu permintaannya besar, tapi ketersediaan lahan juga terbatas,” kata Rakhmat. “Ketersediaan pemukiman juga terbatas. Itu yang membuat kemudian ada ketimpangan antara permintaan dengan penawaran,” lanjutnya.
Ketimpangan tersebut, menurut Rakhmat, membuat akses generasi muda terhadap hunian semakin terbatas. Harga rumah terus naik, sementara kemampuan ekonomi kelompok usia awal karier belum mampu mengejar kenaikan tersebut. “Nah itu yang kemudian membuat generasi muda terkendala dengan akses mereka terhadap pemukiman tersebut,” tuturnya.
Dalam situasi ini, pilihan tempat tinggal pun bergeser. Ketika tinggal di pusat kota semakin sulit dijangkau, kawasan pinggiran menjadi alternatif yang banyak dipilih, termasuk wilayah penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
“Nah, di sisi yang lain bahwa ketika lahan-lahan kota itu sudah mengalami keterbatasan, maka mereka banyak yang kemudian mengambil memilih di daerah di luar Jakarta, di suburban, yaitu kawasan Penyangga. Kalau kita di sini adalah kawasan Bodetabek, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,” ujar Rakhmat.
Namun, perpindahan ke wilayah pinggiran disebutnya bukan semata pilihan gaya hidup, melainkan keterpaksaan akibat tekanan ekonomi. Rakhmat menilai nilai jual hunian di kota telah meningkat drastis seiring kepadatan dan keterbatasan ruang.
“Karena orang melihat di Jakarta sudah terlalu padat, terlalu penuh. Nah itu yang menyebabkan secara ekonomi juga. Orang harus dilihat bahwa ada nilai ekonomi yang secara nilai jualnya rumah-rumah sudah mengalami kenaikan yang luar biasa,” ucap Rakhmat. Ia juga menyinggung adanya inflasi yang membuat generasi muda semakin kesulitan memiliki hunian permanen.
Di tengah kondisi tersebut, kos dan kontrakan kerap berubah dari solusi sementara menjadi pilihan jangka panjang. Menurut Rakhmat, kebiasaan tinggal di hunian sewa dalam waktu lama berisiko menjerat generasi muda dalam siklus yang sulit diputus, terlebih ketika inflasi terus meningkat, lahan semakin terbatas, dan jumlah penduduk bertambah.
“Karena mereka akhirnya dalam jangka panjang mereka mengalami kesulitan untuk memiliki perumahan yang pemukiman atau housing yang secara ekonomi, secara sosial itu jadi hak milik mereka,” kata Rakhmat. “Karena mereka akan terbiasa dalam kos atau sewa dalam jangka panjang. Artinya kemudian ini kan ekonomi terus berkembang, nilai-nilai inflasi terus bertambah, kemudian lahan juga semakin terbatas, jumlah penduk juga meningkat,” jelasnya.
Rakhmat menambahkan, situasi tersebut membuat perumahan semakin diperebutkan dan berubah menjadi komoditas bernilai tinggi di ruang kota. Akibatnya, akses terhadap hunian bukan hanya menjadi tantangan generasi muda, melainkan juga persoalan yang dihadapi berbagai lapisan masyarakat perkotaan.
“Itu yang menyebabkan kemudian nilai ekonomi housing perumahan itu semakin meningkat juga. Itu yang kemudian menyebabkan dalam jangka panjang generasi muda itu semakin berjuang, semakin kesulitan untuk bisa mengakses housing di masa depan,” ujar Rakhmat. Ia menegaskan bahwa dalam jangka panjang, perumahan akan menjadi isu yang terus diperjuangkan oleh warga kota secara luas.
“Itulah kemudian dalam jangka panjang housing itu menjadi isu yang diperjuangkan. Perumahan menjadi sesuatu yang diperjuangkan, sesuatu yang memang diperebutkan oleh setiap warga kota. Bukan hanya untuk kalangan muda tapi semua warga kota memperjuangkan housing atau perumahan itu,” kata Rakhmat.

