Klaim Indonesia Berhenti Pakai Dolar AS dan Beralih ke Yuan Disebut Keliru

Klaim Indonesia Berhenti Pakai Dolar AS dan Beralih ke Yuan Disebut Keliru

Narasi di media sosial yang menyebut Indonesia telah berhenti menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) dan beralih menggunakan yuan/renminbi dinyatakan keliru. Klaim tersebut dikaitkan dengan rencana penerbitan surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bond.

Unggahan yang beredar di sejumlah platform menuliskan bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut mengimbau masyarakat Indonesia untuk menghentikan penggunaan dolar AS dan beralih ke yuan, serta menerbitkan Panda Bond untuk memperkuat rupiah.

Berdasarkan penelusuran, Purbaya memang menargetkan penerbitan Panda Bond pada Juni 2026. Namun, rencana tersebut merupakan strategi diversifikasi pembiayaan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih kokoh dan tidak bergantung pada satu sumber pembiayaan tertentu.

“Kita tetap diversifikasi supaya nggak tergantung ke pembiayaan Amerika Serikat atau negara-negara barat,” kata Purbaya pada 6 Mei 2026.

Selain itu, Indonesia juga telah menggunakan skema Local Currency Settlement (LCS) dalam transaksi dagang dengan China, yang memungkinkan penggunaan mata uang lokal sehingga tidak selalu memakai dolar AS. Kerja sama ini bertujuan meningkatkan penggunaan mata uang lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Meski demikian, penggunaan LCS dan rencana penerbitan Panda Bond tidak berarti Indonesia menghentikan sepenuhnya penggunaan dolar AS. Dengan demikian, klaim bahwa Indonesia “stop pakai dolar” dan “pindah ke yuan” tidak sesuai dengan informasi yang ada.