Puluhan unggahan di media sosial, termasuk Instagram dan Facebook, menyebarkan klaim bahwa Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menolak tawaran mediasi Presiden Prabowo Subianto dengan meminta Indonesia lebih fokus mengurus rakyatnya sendiri. Narasi itu beredar bersama kolase foto Prabowo dan Boroujerdi, disertai kutipan yang menyatakan energi Indonesia sebaiknya dialokasikan untuk membantu rakyat sendiri ketimbang mengurusi “mediasi yang mustahil”.
Hasil penelusuran terhadap pernyataan-pernyataan publik Boroujerdi menunjukkan klaim tersebut tidak didukung bukti. Boroujerdi memang menegaskan Iran tidak membuka negosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel, namun tidak ditemukan pernyataan yang meminta Presiden Prabowo “mengurusi rakyatnya sendiri”.
Sejumlah jam setelah agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan Presiden Prabowo siap terbang ke Teheran jika disetujui kedua pihak untuk melakukan mediasi. Menanggapi tawaran itu, Boroujerdi pada 2 Maret 2026 dari kediamannya di Menteng, Jakarta, menyampaikan apresiasi atas niat Prabowo dan menyatakan terbuka untuk menjalin komunikasi terkait perang tersebut.
Namun, Boroujerdi menegaskan Iran belum berencana membuka pintu negosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menyatakan tidak ada perundingan dengan pemerintah Amerika yang akan berguna karena, menurutnya, pihak tersebut tidak terikat dan tidak patuh pada hasil apa pun.
Penelusuran pada rekaman pernyataan lengkap Boroujerdi yang tayang di kanal YouTube iNews berdurasi hampir dua jam juga tidak menemukan kutipan yang menyebut ia meminta Prabowo lebih baik membantu rakyat Indonesia yang berkekurangan. Pada hari yang sama, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani turut membantah rumor adanya komunikasi damai dengan Washington, dengan menegaskan Iran tidak akan bernegosiasi dengan AS.
Boroujerdi kembali menyampaikan keterangan melalui kanal YouTube Kompas TV pada 5 Maret 2026. Ia kembali mengapresiasi upaya Prabowo untuk menghentikan perang, namun menegaskan negosiasi bukan pilihan. Ia juga menyebut pengalaman sebelumnya menunjukkan dialog justru berakhir dengan agresi militer Amerika Serikat. Dalam pernyataan itu, Boroujerdi menyampaikan usulan mediasi telah diteruskan ke Teheran dan tanggapan telah disampaikan ke Jakarta, dengan inti bahwa Iran tidak menerima negosiasi apa pun dari Amerika.
Sementara itu, rencana Presiden Prabowo menengahi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat menuai kritik dari sejumlah pengamat dan mantan pejabat. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menilai langkah tersebut membuang energi dan menyoroti minimnya kedekatan diplomatik antara Jakarta dan Teheran, serta keraguan bahwa pihak-pihak yang berseberangan dengan Iran akan bersedia duduk dalam perundingan.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengkritik strategi mediasi itu. Ia menilai posisi tawar Indonesia tidak setara dengan Amerika Serikat sehingga upaya mediasi di Teheran berpotensi sia-sia, dan menyarankan Prabowo melobi Washington jika ingin menghentikan perang. Kritik lain datang dari dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, yang menilai posisi tawar Jakarta melemah setelah bergabung dengan Board of Peace yang disebut didominasi Donald Trump, sehingga berpotensi memicu kekecewaan dari pihak Iran.
Kesimpulannya, klaim yang menyebut Dubes Iran Mohammad Boroujerdi meminta Presiden Prabowo agar lebih baik mengurusi rakyat sendiri adalah keliru. Boroujerdi memang menolak opsi negosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel, tetapi dalam pernyataan resminya ia justru menyampaikan apresiasi atas niat baik Indonesia, sembari menegaskan pintu diplomasi dengan Washington belum terbuka.

