Klaim Alfamart Tutup 500 Gerai di Indonesia dan Pindahkan 2.400 Toko ke Filipina Dipastikan Keliru

Klaim Alfamart Tutup 500 Gerai di Indonesia dan Pindahkan 2.400 Toko ke Filipina Dipastikan Keliru

Narasi yang menyebut jaringan minimarket Alfamart menutup 500 gerai di Indonesia lalu memindahkan bisnisnya ke Filipina dengan membuka 2.400 toko beredar di media sosial, terutama Facebook dan X. Unggahan tersebut juga mengaitkan isu itu dengan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, bahkan menyebut penutupan gerai memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Namun, hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com menyimpulkan klaim tersebut tidak tepat. Gambar yang beredar dalam unggahan itu ternyata bukan bukti relokasi bisnis, melainkan dokumentasi peresmian gerai Alfamart ke-2.000 di Filipina pada 11 Juni 2024.

Melalui penelusuran gambar menggunakan teknik reverse image search, foto yang dipakai dalam narasi tersebut identik dengan momen peresmian gerai ke-2.000 Alfamart di Filipina. Peristiwa yang sama juga pernah diberitakan Detik.com dalam artikel berjudul “Alfamart Buka Gerai Ke-2.000 di Filipina, Bantu Promosikan Produk Lokal.”

Dalam informasi yang ditelusuri, Alfamart telah beroperasi di Filipina sejak 2014 atau sekitar satu dekade. Selama periode tersebut, toko-toko Alfamart di Filipina juga menjual sejumlah produk asal Indonesia, seperti mi instan, roti, makanan, dan minuman ringan.

Sementara itu, terkait klaim penutupan 500 gerai di Indonesia, penelusuran menemukan bahwa sedikitnya 509 gerai Alfamart memang telah ditutup sejak 2024 hingga kuartal I 2025. Artinya, penutupan itu terjadi sebelum program Koperasi Merah Putih dibangun dan bukan peristiwa yang baru terjadi pada 2026 sebagaimana dinarasikan dalam unggahan.

Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Anggara Hans Prawira menjelaskan, penutupan ratusan gerai dilakukan karena biaya sewa yang meningkat secara berkala setiap lima tahun, sementara pertumbuhan penjualan tidak selalu sebanding. “Pada intinya pertimbangan kami adalah kalau secara bisnis masih bagus tapi biaya sewanya enggak make sense itu kami tutup,” kata Anggara, sebagaimana pernah ditulis Kompas.com pada 2025.

Selain faktor sewa, penutupan gerai juga dipengaruhi oleh adanya pemegang waralaba (franchise) yang beralih usaha dengan membuka gerai lain. Penutupan terbanyak terjadi di wilayah Jabodetabek, dengan alasan dominan berupa biaya sewa toko yang tinggi.

Pada Juni 2026, Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Tomin Widian menyatakan hingga saat ini belum ada dampak material terhadap Alfamart akibat kehadiran Koperasi Merah Putih. Ia juga menegaskan tidak ada penutupan gerai yang disebabkan program tersebut. “Belum ada dampak material terhadap rantai pasok AMRT akibat pendirian Kopdes Merah Putih,” ujarnya, dikutip dari Kontan.

Dengan demikian, klaim yang menyebut Alfamart menutup 500 gerai di Indonesia lalu memindahkan 2.400 toko ke Filipina tidak didukung fakta. Penutupan ratusan gerai di Indonesia terjadi pada 2024–2025 karena pertimbangan bisnis, sedangkan ekspansi Alfamart di Filipina sudah berlangsung sejak 2014 dan tidak berkaitan dengan program Koperasi Merah Putih.