Pagi seorang politisi menyebut kebijakan keliru.
Sore, pimpinan partainya menyatakan dukungan.
Keesokan harinya, politisi itu berkata sikapnya sejak awal sejalan.
Rangkaian kecil seperti ini terasa akrab.
Ia berulang di banyak episode, lintas partai, lintas isu.
Dan justru karena akrab, ia menjadi bahan percakapan luas.
-000-
Kolom “Politik Sein Kiri Belok Kanan” menyorot bukan sekadar perubahan pendapat.
Yang disorot adalah usaha membuat perubahan itu tampak tak pernah terjadi.
Di titik itu, publik tidak hanya menilai keputusan.
Publik juga menilai kejujuran cara keputusan dijelaskan.
-000-
Mengapa isu ini menjadi tren di pencarian?
Karena ia menyentuh pengalaman warga yang berulang, namun jarang diberi bahasa yang tepat.
Kolom ini memberi bingkai: persoalan bukan beloknya, melainkan penyangkalannya.
-000-
Alasan pertama, isu ini dekat dengan rasa dikhianati.
Pemilih mengingat janji, menonton pernyataan, lalu melihat arah berubah.
Ketika perubahan disamarkan, yang terluka bukan hanya preferensi politik.
Yang retak adalah martabat pemilih sebagai pihak yang layak diberi penjelasan.
-000-
Alasan kedua, kolom ini membahas “sesudah kamera”.
Publik tahu politik tidak berhenti saat konferensi pers usai.
Ada telepon, rapat tertutup, kompromi, dan hitung-hitungan pemilu berikutnya.
Namun publik juga tahu, kerumitan bukan alasan untuk kabur dari akuntabilitas.
-000-
Alasan ketiga, isu ini menyinggung “hak pemilih”.
Hak itu sederhana: mengetahui mengapa keputusan penting berbeda dari alasan sebelumnya.
Ketika hak ini dianggap sekadar urusan komunikasi, kecurigaan publik membesar.
Warga merasa diperlakukan sebagai objek pengelolaan kesan.
-000-
Kolom ini memakai kata “Sein”, yang dalam bahasa Jerman berkaitan dengan keberadaan.
Ia mengajak kita memandang politik apa adanya, sebagaimana ia berlangsung.
Bukan sebagaimana ia dikemas.
Bukan sebagaimana ia dipoles agar tampak konsisten.
-000-
Ungkapan “kiri belok kanan” dipakai sebagai metafora.
Bukan untuk memberi label ideologi.
Ia menggambarkan perubahan arah yang tak diakui.
Terutama ketika politisi bersikeras sejak awal berdiri di tempat yang sama.
-000-
Di depan kamera, posisi politik sering tampak tegas.
Ada pihak yang dibela, ada keputusan yang ditentang, ada batas yang katanya tak boleh dilewati.
Ketegasan itu penting bagi pemilih.
Tanpanya, warga hanya diminta memilih nama, bukan arah.
-000-
Namun kamera juga menyederhanakan politik.
Sesudah siaran, politisi berhadapan dengan struktur partai, relasi kekuasaan, dan kalkulasi jabatan.
Di sinilah kolom itu mengingatkan: pertimbangan bisa sah, bisa juga menyelipkan kepentingan pribadi.
-000-
Publik memang tidak mungkin mengetahui setiap percakapan.
Tetapi publik dapat, dan patut, menilai keputusan akhirnya.
Masalah muncul ketika politisi ingin menikmati keuntungan dari dua panggung sekaligus.
Di hadapan pendukung, ia memelihara citra pembangkang.
Di hadapan kekuasaan, ia ingin dikenal sebagai mitra yang mudah diajak.
-000-
Kelincahan semacam itu baru terlihat saat momen penentu.
Saat memberi suara, menandatangani persetujuan, atau menerima jabatan.
Di sanalah ketegasan yang dulu dipertontonkan memperoleh ukurannya.
Dan di sanalah publik menguji apakah kata-kata memiliki bobot.
-000-
Kolom ini juga menyorot kalimat yang bisa dipakai untuk hampir semua keadaan.
“Situasi telah berubah.”
“Demi stabilitas.”
“Demi kepentingan yang lebih besar.”
Kalimat-kalimat ini tidak selalu salah.
Namun ia sering menutup rincian.
-000-
Rincian itulah jantung pertanggungjawaban.
Jika situasi berubah, bagian mana yang berubah?
Jika stabilitas dijadikan alasan, gangguan apa yang hendak dicegah?
Jika kepentingan lebih besar didahulukan, kepentingan siapa yang dikorbankan?
-000-
Penjelasan politik baru berguna ketika orang lain dapat memeriksanya.
Kolom ini mengingatkan, ungkapan yang berlaku untuk segala keadaan menerangkan sangat sedikit.
Di titik itu, bahasa menjadi selimut.
Ia menghangatkan pembicara, tetapi mengaburkan pandangan pendengar.
-000-
Ada pula kebiasaan mengganti nama tindakan agar terdengar terhormat.
Perpindahan dukungan disebut kedewasaan.
Pembagian kedudukan disebut penguatan kerja sama.
Diam atas kesalahan kawan disebut menjaga persatuan.
Nama berubah, akibat tidak.
-000-
Di sinilah isu ini terkait dengan persoalan besar Indonesia.
Kepercayaan publik adalah modal sosial demokrasi.
Tanpa kepercayaan, kebijakan yang baik pun dicurigai.
Dan ketika kecurigaan menjadi kebiasaan, ruang publik dipenuhi sinisme.
-000-
Sinisme bukan sekadar sikap.
Ia bisa menjadi arsitektur emosi kolektif.
Warga berhenti berharap, lalu berhenti mengawasi.
Atau sebaliknya, warga mengawasi dengan amarah yang tak lagi sabar pada penjelasan.
Keduanya berbahaya bagi demokrasi yang sehat.
-000-
Kolom ini menempatkan “hak pemilih” sebagai pusat.
Hak itu tidak menuntut pemilih mengatur setiap perundingan.
Hak itu juga tidak menuntut semua janji terpenuhi tanpa kondisi.
Hak itu menuntut alasan.
Alasan yang dapat diuji.
-000-
Dalam kajian demokrasi, akuntabilitas bekerja melalui dua jalur.
Pertama, jalur elektoral, lewat pemilu.
Kedua, jalur penjelasan publik, lewat keterbukaan alasan dan konsekuensi.
Kolom ini berbicara terutama soal jalur kedua.
Karena pemilu tanpa penjelasan hanya mengukur popularitas, bukan pertanggungjawaban.
-000-
Riset ilmu politik sering membedakan antara “representasi” dan “responsivitas”.
Representasi menuntut wakil menyuarakan kepentingan warga.
Responsivitas menuntut wakil menjawab pertanyaan warga ketika arah berubah.
Kolom ini menggarisbawahi responsivitas yang kerap diabaikan.
-000-
Dalam studi komunikasi politik, ada konsep “framing”.
Framing menjelaskan bagaimana isu dibingkai agar tampak masuk akal.
Kolom ini mengkritik framing yang terlalu elastis.
Framing yang bisa membenarkan apa pun, akhirnya tidak membenarkan apa-apa.
-000-
Kolom ini juga menyentuh disiplin organisasi partai.
Anggota partai memang terikat keputusan organisasi.
Kesetiaan diperlukan agar kerja berjalan.
Namun kesetiaan yang hanya bergerak ke atas mudah berubah menjadi ketakutan.
Ketakutan untuk mengatakan sesuatu yang benar.
-000-
Pertanyaan “setia kepada siapa?” menjadi relevan.
Ketika pimpinan berganti sikap, apakah keberatan sebelumnya otomatis gugur?
Ketika sekutu melakukan hal yang dulu dikecam, apakah penilaian moral ikut berubah?
Pertanyaan ini mengusik karena politik sering lebih teliti mencatat kubu.
Bukan mencatat tindakan.
-000-
Di banyak demokrasi, persoalan ini punya gema yang mirip.
Di Inggris, misalnya, istilah “U-turn” sering dipakai untuk menandai perubahan kebijakan.
Perubahan bisa diterima, tetapi publik menuntut penjelasan yang jernih.
Di Amerika Serikat, “flip-flop” menjadi label yang menghukum politisi.
Label itu muncul ketika perubahan dianggap oportunistis atau tak konsisten.
-000-
Kesamaan dari berbagai negara bukan pada dramanya.
Kesamaannya pada kebutuhan dasar demokrasi.
Warga ingin tahu mengapa.
Warga ingin bisa membandingkan ucapan lama dan keputusan baru.
Warga ingin merasa diakui sebagai subjek, bukan penonton.
-000-
Kolom ini menolak gagasan bahwa persoalan cukup diselesaikan lewat “komunikasi yang lebih rapi”.
Penjelasan yang baik tidak dapat menggantikan alasan yang buruk.
Tim komunikasi bisa memperhalus kalimat.
Namun mereka tidak dapat menciptakan pertanggungjawaban dari keputusan yang sengaja disembunyikan.
-000-
Di sini, isu ini terhubung dengan agenda besar reformasi kelembagaan.
Indonesia terus berbicara tentang penguatan parlemen, partai, dan etika publik.
Namun penguatan itu akan rapuh jika budaya penjelasan tidak tumbuh.
Aturan dapat dibentuk.
Tetapi kebiasaan menjelaskan harus dilatih.
-000-
Kolom ini memberi standar minimal yang terasa masuk akal.
Cukup satu penjelasan yang lurus.
“Dahulu saya menolak, sekarang saya mendukung, karena ada perubahan pada bagian tertentu.”
Jika tidak ada perubahan pada usul, jelaskan pertimbangan apa yang bergeser.
Publik mungkin tidak setuju.
Namun publik tidak dipaksa meragukan ingatannya sendiri.
-000-
Bagian paling kontemplatif dari isu ini adalah dampaknya pada batin warga.
Ketika perubahan disamarkan, warga belajar satu pelajaran pahit.
Bahwa kata-kata tidak perlu konsisten selama citra bisa dijaga.
Pelajaran itu menular.
Ia merembes ke cara kita berbicara di ruang sosial.
-000-
Jika politik menjadi sekolah publik, maka cara politisi menjelaskan perubahan adalah kurikulumnya.
Ketika kurikulum itu berisi pengelakan, publik belajar mengelak.
Ketika kurikulum itu berisi keterbukaan, publik belajar berdialog.
Di situlah demokrasi hidup, bukan hanya di bilik suara.
-000-
Lalu bagaimana sebaiknya isu ini ditanggapi?
Pertama, politisi perlu membangun kebiasaan “catatan alasan”.
Setiap perubahan sikap pada isu penting disertai penjelasan tertulis yang spesifik.
Bahas bagian yang berubah, atau pertimbangan yang bergeser.
Hindari kalimat serba guna yang menutup rincian.
-000-
Kedua, partai perlu mengelola perbedaan pendapat sebagai mekanisme koreksi.
Perbedaan tidak otomatis pembangkangan.
Partai yang mematikan perbedaan kehilangan kesempatan menemukan kekeliruan sendiri.
Disiplin organisasi tetap penting.
Namun disiplin tanpa ruang argumentasi hanya melahirkan kepatuhan, bukan kedewasaan.
-000-
Ketiga, publik dan media perlu membandingkan alasan, bukan sekadar mengedarkan potongan video.
Mengungkit pernyataan lama bisa menjadi bahan olok-olok.
Namun kolom ini mengajak hal yang lebih berguna.
Bandingkan alasan dahulu dengan alasan sekarang.
Uji koherensinya.
Tanyakan rincian yang disembunyikan.
-000-
Keempat, kita perlu membedakan kompromi yang wajar dari oportunisme.
Kolom ini mengakui, ada politisi yang berubah karena sadar keliru.
Ada yang berkompromi demi hasil yang mungkin dicapai.
Ada pula yang bergerak mengikuti tempat kekuasaan paling menguntungkan.
Dari jauh, ketiganya tampak serupa.
Cara mereka menjelaskan pilihan membantu kita membedakannya.
-000-
Pada akhirnya, isu “kiri belok kanan” bukan soal arah.
Ia soal pengakuan.
Soal keberanian mengatakan, “Saya berubah.”
Dan soal kesediaan menanggung konsekuensi dari perubahan itu di hadapan publik.
-000-
Politik tidak menjadi bersih hanya karena setiap orang mengaku punya prinsip.
Ia menjadi lebih dapat diawasi ketika ucapan lama tidak dihapus.
Keputusan baru dapat diperiksa.
Dan alasan perubahan disampaikan tanpa menganggap pemilih mudah lupa.
-000-
Di tengah kebisingan, mungkin yang kita perlukan adalah kalimat yang tidak memanipulasi ingatan.
Kalimat yang tidak memaksa publik menelan versi baru atas peristiwa lama.
Kalimat yang mengakui kenyataan, lalu mengajak menilai.
-000-
Karena demokrasi, pada dasarnya, adalah kesepakatan untuk saling menjelaskan.
Bukan kesepakatan untuk saling mengelabui.
Dan kepercayaan, sekali retak, tidak pulih oleh retorika.
Ia pulih oleh kejujuran yang rinci, meski tidak selalu nyaman.
-000-
Penutupnya sederhana, sekaligus menuntut keberanian.
Jika memang harus berbelok, berbeloklah di jalan yang terang.
Jika harus berubah, berubah dengan alasan yang bisa diuji.
“Kejujuran bukan berkata tanpa salah, melainkan bersedia menjelaskan ketika kita berubah.”