Ketidakpastian Politik Disebut Dapat Memicu Stres dan Gangguan Kesehatan Mental

Ketidakpastian Politik Disebut Dapat Memicu Stres dan Gangguan Kesehatan Mental

Kisruh dan ketidakpastian dalam dunia politik disebut dapat berdampak pada kesehatan mental, baik bagi para pelaku politik maupun masyarakat umum. Tekanan, polemik, dan intrik yang muncul dalam dinamika politik dinilai dapat memicu stres hingga gangguan psikologis jika tidak dikelola dengan baik.

Data yang dipublikasikan mentalhealth.org.uk menyebutkan bahwa perubahan dan ketidakpastian politik berpotensi memengaruhi kesehatan mental. Temuan serupa juga ditunjukkan penelitian American Psychological Association (APA) pada 2016, yang mengungkap 66 persen responden mengalami stres akibat iklim politik di negaranya.

Di kalangan politisi, kerentanan terhadap perubahan emosi dan masalah kesehatan mental disebut lebih tinggi dibanding profesi lain. Tekanan yang dialami anggota parlemen, misalnya, dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka. Sejumlah faktor yang disebut berkontribusi antara lain upaya mempertahankan posisi, tuntutan mengendalikan emosi saat bekerja, serta kombinasi tekanan yang dapat memicu depresi.

Perubahan sikap dan posisi dalam iklim politik yang dinamis—misalnya pernyataan yang berubah dalam waktu singkat atau perpindahan dukungan—dinilai menuntut adaptasi yang tidak mudah. Proses membentuk identitas baru dapat menguras pikiran, emosi, dan kestabilan psikologis.

Selain itu, politisi juga kerap menghadapi penghinaan di ruang publik, kegagalan pribadi, pertentangan dalam keluarga, hingga tekanan saat kehilangan jabatan yang selama ini dipertahankan. Kondisi-kondisi tersebut disebut dapat mengganggu kestabilan emosi dan meningkatkan risiko gangguan mental.

Untuk mengurangi stres terkait perubahan dan situasi politik, APA merekomendasikan beberapa langkah. Pertama, tetap terinformasi namun memahami batasan diri. Masyarakat disarankan mempertimbangkan seberapa banyak berita dikonsumsi dan bagaimana dampaknya terhadap kondisi psikologis. Jika isu politik mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pembatasan paparan berita dan diskusi di media sosial dapat dipertimbangkan.

Kedua, meluangkan waktu untuk kegiatan yang menyenangkan, seperti menjalankan hobi, berolahraga, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Ketiga, bersikap terbuka untuk mendengarkan cerita orang lain. Sikap ini dinilai dapat membantu memahami pihak yang memiliki pandangan berbeda. Jika diskusi politik sulit dilakukan dengan tenang dan konstruktif, menghindari percakapan tersebut bisa menjadi pilihan.

Keempat, terlibat dalam komunitas. Bergabung dengan komunitas dapat menjadi ruang untuk berbagi dan mendengarkan gagasan, selama komunitas tersebut dipilih secara sehat dan tidak mendorong tindakan yang merugikan. Ruang diskusi yang aman dinilai penting agar pandangan dan misi dapat disampaikan tanpa menambah stres atau memicu konflik.

Rekomendasi tersebut disebut tidak hanya relevan bagi mereka yang terjun langsung dalam politik, tetapi juga bagi masyarakat yang aktif mengikuti perkembangan politik. Pengelolaan stres dinilai penting agar situasi politik tidak berujung mengganggu kesehatan mental.