Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kerap dipahami sebagai persoalan Timur Tengah—melibatkan Iran, kapal tanker, armada laut, serta ancaman terhadap jalur energi yang vital bagi ekonomi global. Namun, dinamika krisis semacam ini juga dipengaruhi faktor lain yang letaknya jauh dari Teluk Persia: politik dalam negeri Amerika Serikat.
Selama beberapa dekade setelah Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat dipandang sebagai kekuatan global dengan arah kebijakan yang relatif tegas. Kehadiran militernya, termasuk di kawasan Teluk, menjadi bagian dari arsitektur keamanan yang selama ini dianggap membantu menjaga kelancaran perdagangan dan pasokan energi dunia. Selat Hormuz pun sering dilihat sebagai simbol kepentingan strategis tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, citra Amerika sebagai kekuatan yang sepenuhnya stabil dinilai mengalami perubahan. Di dalam negeri, polarisasi politik meningkat, perdebatan tentang peran Amerika di dunia mengeras, dan kepercayaan publik terhadap institusi politik disebut mengalami erosi. Dalam situasi seperti itu, keputusan terkait konflik luar negeri tidak lagi semata-mata persoalan geopolitik, melainkan juga bagian dari pertarungan politik domestik.
Presiden Donald Trump hadir dalam konteks tersebut. Sejak awal karier politiknya, ia membangun narasi bahwa Amerika terlalu lama terlibat dalam perang yang mahal dan tidak selalu memberi keuntungan strategis. Ia kerap menyebut “endless wars” atau perang tanpa akhir sebagai beban bagi ekonomi dan masyarakat Amerika. Narasi ini menemukan dukungan setelah dua dekade konflik di Irak dan Afghanistan, ketika banyak warga mulai mempertanyakan apakah Amerika perlu terus berperan sebagai “polisi dunia”.
Namun, di tengah retorika kelelahan perang itu, kebijakan Amerika terhadap Iran digambarkan tetap bergerak ke arah konfrontatif. Tekanan ekonomi melalui sanksi, operasi militer terbatas, serta dukungan kuat terhadap Israel membuat hubungan Washington-Teheran tetap berada dalam ketegangan tinggi.
Di titik inilah dilema politik Trump mengemuka. Di satu sisi, sikap keras terhadap Iran dapat memperkuat citra kepemimpinan yang tegas dan menunjukkan dominasi geopolitik. Di sisi lain, eskalasi yang berkembang menjadi perang besar berisiko bertabrakan dengan janji untuk mengurangi keterlibatan militer Amerika di luar negeri. Konflik yang meluas juga berpotensi menimbulkan biaya ekonomi dan politik yang terasa langsung di dalam negeri.
Sejarah politik Amerika menunjukkan perang luar negeri dapat memengaruhi nasib presiden yang memimpinnya. Sebagian konflik bisa memperkuat kepemimpinan nasional, tetapi tidak sedikit pula yang justru menggerus legitimasi pemerintah. Karena itu, kebijakan Amerika terhadap Iran digambarkan seperti berjalan di atas garis tipis: tekanan harus cukup kuat untuk menunjukkan pengaruh, namun tidak melampaui batas yang memicu konflik besar yang sulit dikendalikan.
Dalam geopolitik modern, menjaga batas tersebut tidak mudah. Banyak aktor terlibat—mulai dari Iran dan Israel, negara-negara Teluk, hingga kekuatan global lain—sehingga eskalasi kecil dapat berkembang cepat menjadi krisis lebih luas. Jika itu terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga kembali memengaruhi situasi politik di Amerika.
Sejumlah pengamat melihat langkah-langkah keras terhadap Iran sebagai bagian dari strategi mempertahankan pengaruh Amerika dalam sistem internasional. Namun ada pula pandangan bahwa kebijakan itu menyimpan risiko sebagai “bom politik” jangka panjang, karena konflik yang membesar dapat memperdalam perpecahan domestik yang sudah tajam.
Pada akhirnya, kemampuan Amerika menjaga stabilitas internasional disebut sangat bergantung pada stabilitas di dalam negerinya sendiri. Selat Hormuz kembali menjadi simbol: di jalur sempit itu, tanker mengangkut energi bagi ekonomi dunia, sementara keputusan politik yang dibuat di Washington—yang dipengaruhi perdebatan keras di dalam negeri—ikut menentukan arah ketegangan. Dalam dunia yang saling terhubung, nasib sebuah selat di Timur Tengah dapat dipengaruhi bukan hanya oleh kapal perang di perairannya, tetapi juga oleh dinamika politik ribuan kilometer jauhnya.

