Kepindahan Shayne Pattynama ke Persija Jakarta memunculkan pro dan kontra di kalangan pecinta sepak bola nasional. Sejumlah suporter menyambut antusias kedatangan pemain berusia 27 tahun itu, namun sebagian lainnya menilai keputusan merumput di Indonesia terlalu dini karena ia dianggap masih berada dalam usia emas untuk bersaing di Eropa.
Menanggapi perdebatan tersebut, Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menyampaikan pandangannya secara objektif. Ia menilai pilihan bermain di Eropa maupun di kompetisi domestik Indonesia sama-sama memiliki nilai strategis bagi kekuatan skuad Garuda.
Herdman menjelaskan, bermain di Super League dapat memberi keuntungan taktis tertentu bagi pemain diaspora, terutama terkait adaptasi fisik terhadap kondisi cuaca Indonesia yang dinilainya unik. Ia menyoroti faktor panas dan kelembapan yang bisa menjadi tantangan bagi pemain yang lahir dan besar di luar negeri.
“Kondisi di sini unik; panasnya, kelembapannya. Bagi pemain Eropa, berlatih di sini secara konsisten sangat penting untuk membangun tingkat toleransi fisik minggu demi minggu. Ini memberi kami kedalaman skuad yang sangat dibutuhkan,” ujar Herdman.
Di sisi lain, Herdman juga menekankan pentingnya pemain yang berkarier di Eropa untuk membawa standar permainan yang berbeda, khususnya dalam aspek kualitas teknis. Namun ia menilai pemain diaspora yang bermain di dalam negeri memiliki keunggulan karena lebih terbiasa dengan ritme dan atmosfer sepak bola Asia Tenggara.
Bagi Herdman, lokasi bermain bukan faktor utama selama pemain dapat tampil konsisten dan terus berkembang. Ia memandang setiap jalur karier—baik di Eropa maupun di Indonesia—dapat berkontribusi pada kebutuhan tim nasional, termasuk dalam memperkuat kedalaman skuad.

