Kemarau Basah Masih Terjadi, BMKG Prediksi Berlangsung hingga Akhir Agustus 2025

Kemarau Basah Masih Terjadi, BMKG Prediksi Berlangsung hingga Akhir Agustus 2025

Indonesia umumnya mengalami dua musim utama, yakni musim hujan dan musim kemarau. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang kian sering dirasakan masyarakat: kemarau basah. Kondisi ini terjadi ketika kalender sudah memasuki musim kemarau, tetapi hujan masih turun di berbagai wilayah dengan intensitas yang relatif tinggi.

Kemarau basah dipahami sebagai situasi saat curah hujan tetap cukup besar pada periode yang seharusnya didominasi cuaca kering. Kondisi tersebut dipengaruhi gangguan atmosfer yang membuat awan hujan tetap terbentuk dan memicu hujan turun di tengah musim kemarau.

Fenomena ini berdampak pada sejumlah sektor. Di bidang pertanian, petani yang telah menyesuaikan jadwal tanam dengan pola kemarau dapat menghadapi kendala ketika hujan masih sering turun. Lahan menjadi lebih mudah tergenang dan tanaman berisiko rusak.

Dari sisi kesehatan, lingkungan yang lembap serta munculnya genangan air dapat meningkatkan potensi penyakit tropis. Beberapa penyakit yang disebut berisiko meningkat antara lain demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis, dan infeksi saluran pernapasan.

Sementara itu, hujan yang terjadi terus-menerus juga dapat memengaruhi infrastruktur dan transportasi. Dampak yang mungkin muncul meliputi banjir lokal, longsor, serta terganggunya aktivitas transportasi di sejumlah wilayah.

Terkait durasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau basah akan berlangsung hingga akhir Agustus 2025. Setelah itu, Indonesia diperkirakan memasuki masa peralihan atau pancaroba pada September hingga November 2025, sebelum musim hujan yang diproyeksikan terjadi pada Desember 2025 hingga Februari 2026.