Jagat media sosial Indonesia diramaikan kabar lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax. Informasi yang beredar menyebut harga Pertamax akan naik drastis hingga Rp17.850 per liter mulai 1 April 2026, jauh di atas harga yang berlaku saat ini.
Kabar tersebut menyebar luas di berbagai platform, terutama X (sebelumnya Twitter), dalam bentuk potongan gambar yang tampak seperti dokumen resmi. Pada gambar itu juga tercantum label “confidential” yang memberi kesan seolah informasi berasal dari sumber internal pemerintah.
Selain Pertamax, unggahan yang sama turut mencantumkan daftar kenaikan untuk sejumlah BBM nonsubsidi lain. Pertamax Green diklaim naik mendekati Rp20 ribu per liter, sementara Pertamax Turbo disebut terdongkrak ke kisaran serupa. Untuk jenis solar nonsubsidi, Dexlite dan Pertamina Dex juga disebut mengalami kenaikan, bahkan dengan selisih yang diklaim hampir Rp10 ribu per liter dibanding sebelumnya.
Narasi yang menyertai isu tersebut mengaitkan potensi kenaikan harga dengan kondisi global, antara lain lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Unggahan juga menyinggung potensi gangguan pasokan minyak global di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang dinilai dapat berdampak pada harga energi.
Menanggapi kabar yang terlanjur menyebar, Pertamina menyatakan informasi mengenai kenaikan harga BBM yang beredar bukan berasal dari sumber resmi dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pertamina juga menegaskan hingga saat ini belum ada pengumuman resmi terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi untuk periode April 2026.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan bahwa hingga menjelang awal April belum ada keputusan final mengenai perubahan harga BBM nonsubsidi. Pemerintah meminta masyarakat menunggu pengumuman resmi yang biasanya dilakukan secara berkala, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang memicu kepanikan maupun spekulasi berlebihan.
Di tengah kekhawatiran yang muncul, pemerintah memastikan BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Kebijakan ini disebut sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok yang bergantung pada BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari.
Meski belum terverifikasi, kabar yang viral dinilai tetap memengaruhi persepsi publik. Sebagian masyarakat mulai khawatir terhadap kemungkinan naiknya biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok.
Peristiwa ini menjadi pengingat agar masyarakat lebih berhati-hati menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang tampak “resmi” namun belum dapat dipastikan kebenarannya. Hingga ada pengumuman resmi dari pihak berwenang, publik diimbau tetap tenang dan menunggu kepastian terkait harga BBM.

