Bekasi — LSPR Film, Television, and Videography Club (FTVC) menyelenggarakan Indonesian Youth Film Festival (IYFF) 2025, ajang apresiasi sekaligus kompetisi film pendek tingkat nasional yang menghadirkan karya siswa SMA/SMK serta mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Mengusung tema “Social Voices”, IYFF 2025 menyoroti beragam isu sosial yang dinilai kerap terabaikan namun dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui film, para sineas muda menyampaikan kepedulian dan perspektif mereka dalam bentuk karya yang bermakna sekaligus menghibur.
Pada malam penganugerahan yang berlangsung di The Amani Palladium Theatre, LSPR Transpark Juanda Bekasi, penghargaan Best Film diraih film Gadis dan Penatu karya Alam Alghifari dari ISI Yogyakarta. Sejumlah penghargaan lain juga diumumkan, yakni Best Visual untuk We Are a Happy Family, Best Scriptwriter untuk Gadis dan Penatu (Ibrahimy Mustofa), Best Director untuk We Are a Happy Family (Muhammad Rachman Ritonga), Best Actor untuk We Are a Happy Family (Alfarizi sebagai Ale), Best Actress untuk Gadis dan Penatu (Febrianti Alfi sebagai Santi), serta Best Sound untuk A Slight Taste of a Black Rose.
Kategori Best Sound menjadi salah satu sorotan pada penyelenggaraan tahun ini. Panitia menyatakan, kehadiran kategori tersebut dimaksudkan untuk menegaskan pentingnya kualitas audio dalam karya film. Melalui apresiasi ini, penyelenggara berharap sineas muda terdorong memberi perhatian pada aspek audio sebagai elemen yang mendukung kekuatan narasi dan pengalaman menonton.
Sepanjang IYFF 2025, panitia menerima 75 film pendek dari seluruh Indonesia. Karya-karya tersebut berasal dari lima sekolah dan 19 universitas, dengan partisipasi yang mencakup 10 kota dan tujuh provinsi.
Ketua Pelaksana IYFF 2025, Marine Bintang Feliza, menyampaikan bahwa malam penghargaan tidak hanya menjadi perayaan kemenangan, tetapi juga keberanian sineas muda dalam menyuarakan isu sosial di sekitar mereka. “Malam penghargaan ini bukan hanya merayakan kemenangan, tapi juga merayakan keberanian sineas muda yang peduli terhadap isu sosial di sekitar mereka,” ujarnya.
President LSPR FTVC 2024/2025, Lula Allyvia Syaukani, menambahkan bahwa film dapat menjadi wadah yang kuat untuk membawa perubahan serta mendorong lahirnya sineas yang berkontribusi bagi kemajuan perfilman Indonesia. “Melalui karya yang ada di Indonesian Youth Film Festival 2025 ini, kami percaya bahwa film dapat menjadi wadah yang kuat untuk membawa perubahan dan langkah menuju lahirnya sineas hebat yang akan membawa perfilman Indonesia semakin maju,” katanya.
Rangkaian kegiatan IYFF 2025 meliputi talkshow bersama praktisi perfilman di dua sekolah di Jakarta, yakni SMAN 60 Jakarta dan SMKN 6 Jakarta, yang terselenggara melalui kolaborasi dengan ekstrakurikuler Sinema 60 dan Sinema SMKN 6. Agenda lain mencakup seleksi dan penjurian film pendek, screening nominasi Best Film bersama peserta, hingga malam penganugerahan di The Amani Palladium Theatre.
Selain sebagai kompetisi, IYFF 2025 juga disebut berkontribusi mendukung pertumbuhan industri perfilman Indonesia dengan menyediakan ruang bagi generasi muda untuk berkarya. LSPR FTVC menilai sineas muda merupakan aset penting bagi masa depan industri kreatif.
LSPR FTVC merupakan unit kegiatan mahasiswa di Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR yang telah berdiri lebih dari 18 tahun. Klub ini aktif memproduksi konten audiovisual, termasuk film, program berita, dan dokumentasi, serta memiliki enam program utama: Ngeroll, LSPR News Online, Xplore, Campus Corner, Youthpreneurship, dan Guess It. LSPR FTVC juga membuka peluang kolaborasi dengan komunitas internal maupun mitra eksternal.

