Sejumlah informasi palsu atau hoaks yang mencatut nama Presiden Prabowo Subianto kembali beredar di media sosial. Beberapa unggahan menampilkan klaim-klaim sensasional, mulai dari isu penghapusan bantuan sosial hingga kebijakan baru terkait surat izin mengemudi (SIM) dan kemunculan uang pecahan baru.
Berikut rangkuman sejumlah hoaks yang menyeret nama Presiden Prabowo, berdasarkan temuan kanal Cek Fakta Liputan6.com.
1. Klaim Prabowo dan Kemensos menghapus bansos dan anggaran dialihkan untuk MBG
Salah satu unggahan di Facebook pada 11 Juli 2026 memuat klaim bahwa Presiden Prabowo bersama Kementerian Sosial (Kemensos) “resmi menghapus” sejumlah program bantuan, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau bansos.
Unggahan tersebut juga menambahkan klaim penghapusan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Indonesia Pintar (PIP), serta menyebut anggarannya akan dialihkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam unggahan itu tertulis: “PRESIDEN PRABOWO BERSAMA KEMENSOS RESMI HAPUS BLT-PKH-BNPT-BPJS-KIP-PIP-PIP ANGGARANNYA AKAN DIALIHKAN UNTUK MBG”.
2. Klaim Prabowo meresmikan perpanjangan SIM satu kali seumur hidup
Hoaks lain beredar melalui unggahan Facebook pada 26 Juni 2026 yang menyebut Presiden Prabowo Subianto meresmikan kebijakan perpanjangan SIM satu kali untuk seumur hidup.
Unggahan tersebut menampilkan foto Prabowo bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang disertai tulisan: “VIRAL PRESIDEN PRABOWO RESMIKAN PERPANJANGAN SIM 1X SEUMUR HIDUP”.
3. Klaim uang baru pecahan Rp 1 juta bergambar Prabowo dan Gibran
Selain itu, tim Cek Fakta Liputan6.com juga menemukan postingan yang menampilkan gambar uang baru pecahan Rp 1 juta dengan foto Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Postingan tersebut disebut telah beredar sejak awal pekan, dan salah satunya diunggah akun Facebook pada 16 Juni 2026.
Dalam narasi unggahan itu, akun tersebut menuliskan: “viral uang baru satu juta rupiah cuma satu lembar gini saja ,apa gak rugi ini kalo jatuh dari kantong lembaran cuma satu nilai nya banyak, tidak susah panyah pake dompet besar kalo gini ya guys”.
Deretan unggahan tersebut menunjukkan bagaimana informasi menyesatkan dapat menyebar dengan cepat, terutama ketika mencatut nama pejabat publik. Masyarakat diimbau untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kembali.