Jakarta - Harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dilaporkan belum mengalami perubahan hingga Selasa, 31 Maret 2026. Harga Pertalite tetap berada di angka Rp 10.000 per liter. Di tengah sorotan terkait harga BBM, sejumlah informasi keliru atau hoaks tentang Pertalite tercatat pernah beredar di media sosial, salah satunya di Facebook.
Salah satu hoaks yang beredar memuat klaim bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut harga Pertalite sebenarnya hanya Rp 4.000 per liter. Klaim tersebut dinyatakan tidak benar karena tidak pernah ada pernyataan Menkeu Purbaya mengenai harga Pertalite hanya Rp 4.000 per liter.
Selain itu, terdapat beberapa hoaks lain seputar Pertalite yang telah diverifikasi kebenarannya. Berikut rangkumannya.
1. Klaim Menkeu Purbaya menyebut harga dasar Pertalite Rp 4.000
Unggahan di Facebook pada 16 Oktober 2025 menarasikan bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan harga Pertalite sebenarnya Rp 4.000 per liter, disertai pertanyaan soal selisih harga dengan harga jual Rp 10.000. Postingan itu juga menyertakan poster bergambar Menkeu Purbaya dengan narasi “Presiden Prabowo membentuk tim audit subsidi BBM” dan “Harga dasar Pertalite adalah Rp 4000”. Setelah ditelusuri, klaim tersebut dinyatakan tidak benar.
2. Klaim Pertalite dicampur air menjadi etanol
Hoaks lain muncul dari unggahan Facebook pada 6 Oktober 2025 berupa video yang memperlihatkan cairan bening dalam botol diberi penanda batas permukaan air, lalu dicampur cairan berwarna hijau. Setelah dikocok, cairan hijau tampak terpisah dari cairan bening. Video itu disertai keterangan “Pertalite campur air jadi etanol”. Informasi tersebut telah diklarifikasi melalui penelusuran.
3. Klaim ojek online tidak boleh mengisi Pertalite
Unggahan Facebook pada 24 September 2025 menyebarkan video dengan narasi bahwa ojek online (ojol) tidak boleh mengisi Pertalite, disertai klaim adanya syarat pengisian BBM seperti kelengkapan surat kendaraan dan pajak. Video menampilkan suasana antrean di SPBU dengan sejumlah polisi berjaga. Klaim bahwa ojol dilarang mengisi Pertalite dinyatakan tidak benar berdasarkan hasil penelusuran.
Sejumlah hoaks tersebut menunjukkan bagaimana isu Pertalite kerap menjadi sasaran informasi menyesatkan di media sosial. Masyarakat diimbau memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, terutama ketika isu menyangkut kebijakan publik dan kebutuhan sehari-hari.

