Hoaks Pendaftaran SPPI Beredar di Media Sosial, Muncul Klaim Tautan Rekrutmen 2026 dan Batch 4 2025

Hoaks Pendaftaran SPPI Beredar di Media Sosial, Muncul Klaim Tautan Rekrutmen 2026 dan Batch 4 2025

Informasi mengenai rekrutmen Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk program Koperasi Desa Merah Putih menjadi sasaran hoaks di media sosial. Sejumlah unggahan beredar dengan klaim menyediakan tautan pendaftaran, termasuk narasi rekrutmen 30.000 SPPI Koperasi Desa Merah Putih untuk tahun 2026.

Salah satu klaim yang beredar diunggah akun Facebook pada 24 Maret 2026. Unggahan tersebut menyatakan “Rekrutmen sppi koperasi desa merah putih 2026 resmi di buka” dan mengarahkan warganet untuk mengakses tautan tertentu sebagai “website resmi”.

Dalam unggahan itu juga disertakan poster bertuliskan “REKRUTMEN NASIONAL 30.000 SPPI (SARJANA PENGGERAK PEMBANGUNAN INDONESIA) UNTUK 80.000 KOPERASI DESA MERAH PUTIH”. Poster tersebut memuat sejumlah poin yang disebut sebagai “keuntungan & tugas” serta “persyaratan”, antara lain WNI pria/wanita, pendidikan minimal sarjana (S1) atau magister (S2), semua jurusan terbuka, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Disebutkan pula pendaftaran dibuka pada Maret hingga Juni, dengan keterangan “informasi & pendaftaran link di bio profil”.

Selain klaim terkait 2026, beredar pula unggahan lain yang menyebut adanya tautan pendaftaran SPPI batch 4 tahun 2025. Salah satu akun Facebook mengunggahnya pada 10 Juli 2025 disertai poster dengan narasi “Pengumuman open recruitment Sarjana Penggerak Pembagunan Indonesia SPPI Batch 4 2025”. Unggahan itu juga memuat keterangan bahwa lowongan terbuka untuk umum dan lokasi penempatan dapat dipilih.

Dalam narasi tambahan, unggahan tersebut mencantumkan sejumlah syarat, seperti Warga Negara Indonesia, usia maksimal 35 tahun, tidak memiliki catatan kriminal atau diberhentikan tidak hormat dari pekerjaan sebelumnya, sehat jasmani dan rohani, serta ditempatkan di lokasi terdekat.

Rangkaian unggahan tersebut menjadi bagian dari hoaks pendaftaran SPPI yang beredar di media sosial. Masyarakat diimbau berhati-hati terhadap tautan pendaftaran yang beredar dan memastikan informasi rekrutmen berasal dari kanal resmi.