Program pemerintah Bantuan Subsidi Upah (BSU) kembali menjadi sasaran informasi palsu yang beredar di media sosial. Sejumlah unggahan mengklaim menyediakan tautan untuk pendaftaran maupun pengecekan status penerima BSU 2026, namun ternyata mengarahkan pengguna ke halaman tertentu yang meminta data pribadi.
Hoaks semacam ini umumnya menampilkan narasi bahwa bantuan “mulai cair” atau “siap dicairkan”, disertai tombol atau menu “daftar”. Saat diklik, tautan tersebut membawa pengguna ke situs yang menampilkan formulir digital dan meminta informasi seperti nama lengkap hingga nomor Telegram.
Berikut tiga contoh hoaks terkait BSU 2026 yang telah diverifikasi:
1) Klaim tautan pendaftaran BSU 2026 Rp600.000
Sebuah unggahan Facebook pada 30 Maret 2026 menyebut BSU 2026 “mulai cair” dan mengajak pengguna mengecek apakah namanya terdaftar sebagai penerima. Unggahan itu juga memuat poster bertuliskan “Bantuan Subsidi Upah 2026” dengan klaim bantuan senilai Rp600.000. Di dalamnya terdapat menu “daftar” yang mengarah ke halaman berisi formulir digital dan meminta data pribadi, termasuk nama lengkap dan nomor Telegram.
2) Klaim link pendaftaran BSU jelang Lebaran
Unggahan Facebook pada 6 Maret 2026 menampilkan poster digital bertuliskan “BSU (Bantuan Subsidi Upah) Klaim Sekarang” dan klaim “BSU Rp.600RB siap dicairkan”. Keterangan unggahan menyebut BSU jelang Lebaran sudah dibuka dan meminta pengguna segera mendaftar. Terdapat menu “daftar” yang ketika diklik mengarah ke situs dengan formulir yang meminta data seperti nama sesuai E-KTP, nomor Telegram, provinsi, dan jenis kelamin.
3) Klaim tautan untuk mengecek status penerima BSU 2026
Pada 10 Februari 2026, sebuah akun Facebook mengunggah klaim tautan untuk mengecek status penerima BSU 2026. Unggahan itu memuat ajakan “buruan daftarkan diri” serta poster yang mencantumkan klaim penyaluran BSU senilai Rp600.000 dan instruksi untuk mengecek status penerimaan. Sama seperti pola sebelumnya, menu “daftar” mengarahkan pengguna ke halaman dengan formulir digital yang meminta data pribadi, termasuk nama dan nomor Telegram.
Rangkaian unggahan tersebut menunjukkan pola serupa: menyertakan klaim BSU 2026 dan menyediakan tautan yang berujung pada permintaan data pribadi. Masyarakat diimbau waspada terhadap tautan pendaftaran atau pengecekan BSU yang beredar di media sosial, terutama bila meminta informasi pribadi melalui formulir online.

