Hasil TKA SMA/MA 2025 Jadi Cermin Mutu Pembelajaran di Kelas, Ini Catatan untuk Arah Pendidikan Aceh

Hasil TKA SMA/MA 2025 Jadi Cermin Mutu Pembelajaran di Kelas, Ini Catatan untuk Arah Pendidikan Aceh

Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tingkat SMA/MA tahun 2025 yang menempatkan Aceh di kelompok bawah peringkat nasional memicu beragam respons di kalangan pendidik. Topik ini ramai dibicarakan, mulai dari ruang guru, pertemuan sekolah, hingga diskusi informal antarpendidik, dengan nada yang berbeda-beda.

Sejumlah pihak mengaku terpukul, sebagian mempertanyakan instrumen penilaian, sementara yang lain menilai satu tes tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan mutu pendidikan. Beragam reaksi tersebut dinilai wajar, namun hasil TKA tetap perlu dibaca sebagai tanda yang patut diperhatikan—tidak dibesar-besarkan, tetapi juga tidak diabaikan.

Meski bukan satu-satunya ukuran mutu pendidikan, TKA memberi gambaran kemampuan dasar siswa, seperti memahami bacaan, menalar, dan menyelesaikan persoalan akademik. Dari sana, setidaknya dapat terlihat apakah proses belajar yang berlangsung selama ini sudah cukup kuat atau masih membutuhkan pembenahan.

Ketika hasil seperti ini muncul, perhatian kerap mengarah pada faktor di luar kelas, seperti fasilitas, latar belakang keluarga, kondisi wilayah, hingga kebijakan pusat. Faktor-faktor tersebut memang berpengaruh. Namun ada aspek yang dinilai sering luput dibahas secara jujur, yakni apa yang terjadi di dalam kelas setiap hari: bagaimana materi diajarkan, bagaimana siswa diajak berpikir, dan seberapa jauh pemahaman benar-benar dibangun.

Dalam praktiknya, banyak pembelajaran masih berjalan dengan pola lama: guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu mengerjakan latihan. Pola ini tidak sepenuhnya keliru dan masih relevan untuk bagian tertentu. Persoalan muncul ketika cara tersebut menjadi satu-satunya pendekatan. Siswa menjadi terbiasa menerima, bukan mengolah; meniru contoh, bukan membangun alasan. Akibatnya, ketika berhadapan dengan soal yang sedikit berbeda, mereka cenderung ragu.

Soal-soal TKA umumnya tidak sekadar menanyakan definisi. Banyak yang menuntut pemahaman isi bacaan, kemampuan membaca tabel atau grafik, menarik kesimpulan, hingga memberikan alasan atas jawaban. Keterampilan semacam ini tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari kebiasaan berpikir—melalui diskusi, pertanyaan terbuka, serta latihan menjelaskan dengan kata-kata sendiri.

Tekanan untuk mengejar target materi juga disebut menjadi persoalan nyata. Jadwal padat dan materi yang banyak membuat pembelajaran bergerak cepat, bahkan kadang terlalu cepat. Bagian yang seharusnya dibahas perlahan bisa terlewati. Siswa tampak mengikuti, tetapi belum tentu memahami. Dampak situasi ini sering terasa ketika hasil tes keluar.

Dalam beberapa waktu terakhir, arah kebijakan pembelajaran mulai banyak menyebut pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Istilah tersebut terdengar baru dan kadang dianggap rumit. Padahal, gagasan dasarnya dinilai sederhana: belajar tidak berhenti pada sekadar tahu, tetapi sampai paham; tidak hanya mampu menjawab, tetapi juga bisa menjelaskan mengapa.

Pembelajaran mendalam tidak selalu membutuhkan alat canggih. Bahkan tanpa perangkat digital pun dapat dilakukan. Intinya terletak pada cara mengajar, cara bertanya, cara memberi tugas, serta cara menanggapi jawaban siswa. Pertanyaan seperti “mengapa kamu memilih jawaban itu?” disebut dapat memberi dampak lebih kuat daripada banyak soal pilihan ganda yang langsung dikoreksi.

Hasil TKA yang belum menggembirakan dipandang sebagai pengingat bahwa penguatan proses belajar di kelas tidak bisa ditunda. Tambahan jam belajar atau try out berulang dinilai tidak akan banyak membantu bila cara belajar tetap sama. Bagian paling dasar yang perlu diperkuat adalah bagaimana siswa diajak berpikir selama pelajaran berlangsung.

Ke depan, arah pendidikan Aceh dinilai perlu lebih fokus pada mutu proses belajar, bukan semata banyaknya program. Program tetap penting, namun perubahan hasil pada akhirnya ditentukan oleh praktik di kelas. Jika cara belajar menguat, hasil biasanya ikut bergerak. Jika tidak, program berisiko hanya ramai di awal.

Penguatan kapasitas guru disebut menjadi titik kunci. Bukan hanya melalui pelatihan formal yang padat materi, tetapi juga pendampingan yang lebih membumi. Banyak guru dinilai ingin mencoba pendekatan baru, namun tidak selalu yakin harus memulai dari mana. Dukungan pimpinan sekolah dan rekan sejawat dianggap penting untuk menyediakan ruang mencoba, meski hasil awal belum rapi.

Forum diskusi guru seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) juga dinilai perlu diarahkan lebih praktis. Alih-alih dominan paparan teori, forum dapat memperbanyak contoh nyata dari kelas. Misalnya, satu rancangan pembelajaran dibahas bersama untuk melihat bagian mana siswa benar-benar diminta berpikir dan bagian mana yang hanya mendengar. Dari diskusi semacam ini, ide sederhana yang bisa langsung dicoba pada pekan berikutnya dinilai lebih mungkin muncul.

Kebiasaan berbagi praktik baik antar-guru juga dianggap penting. Guru yang menemukan cara efektif menjelaskan suatu konsep dapat membagikannya kepada rekan lain tanpa menunggu sempurna. Justru dari versi yang belum sempurna, diskusi dinilai bisa lebih hidup.

Dalam pembelajaran mendalam, kualitas pertanyaan disebut sangat menentukan. Pertanyaan tertutup tetap diperlukan, tetapi tidak seharusnya mendominasi. Pertanyaan yang meminta alasan, contoh tandingan, atau cara lain menyelesaikan soal dinilai dapat memancing nalar. Suasana kelas mungkin lebih ramai dan kadang melebar, namun di situlah proses berpikir terjadi.

Penguatan literasi dan numerasi juga dapat dilakukan melalui langkah sederhana. Membaca beberapa menit di awal pelajaran, menulis ringkasan singkat, atau menjelaskan kembali isi bacaan secara lisan disebut dapat membantu. Untuk numerasi, membiasakan siswa menuliskan langkah penyelesaian dan alasan memilih rumus membuat proses berpikir lebih terlihat.

Hasil asesmen pun dinilai sebaiknya tidak berhenti sebagai angka di buku nilai. Dari jawaban siswa, guru dapat melihat pola kesalahan dan bagian yang perlu dibahas ulang. Cara ini memang menambah kerja, tetapi dianggap lebih tepat sasaran dibanding terus menambah materi baru.

Dari sisi kebijakan daerah, ruang gerak dinilai perlu dijaga. Tuntutan administrasi yang terlalu banyak disebut dapat membuat guru cepat lelah sebelum masuk kelas, sehingga keseimbangan diperlukan agar energi utama tercurah pada pembelajaran, bukan laporan.

Peran keluarga tetap dinilai penting, meskipun tidak semua orang tua memiliki waktu dan kemampuan yang sama. Dukungan sederhana seperti menanyakan kegiatan belajar, menyediakan waktu khusus untuk membaca, dan mengurangi gangguan saat anak belajar dianggap sudah berarti. Komunikasi sekolah dengan orang tua juga dinilai perlu dibuat ringan dan rutin, tidak hanya saat ada masalah.

Perbaikan mutu pendidikan disebut tidak bisa instan, dan tidak realistis berharap hasil TKA langsung melonjak dalam satu atau dua tahun. Namun, perbaikan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten, seperti memperbaiki cara bertanya, mengubah satu jenis tugas, atau memberi waktu diskusi sedikit lebih lama.

Pada akhirnya, hasil TKA dinilai lebih berguna jika dijadikan bahan bercermin, bukan bahan saling menyalahkan. Dari sana, bagian yang masih lemah dapat terlihat. Jika fokus diarahkan pada perbaikan proses belajar di kelas dan penguatan pembelajaran yang lebih mendalam, arah pendidikan Aceh dinilai masih sangat mungkin bergerak ke arah yang lebih baik.