Hamdi Muluk: Politik Harus Bebas dari Isu SARA dan Menguatkan Toleransi

Hamdi Muluk: Politik Harus Bebas dari Isu SARA dan Menguatkan Toleransi

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, mengingatkan bahwa membawa isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) ke ranah politik berpotensi menimbulkan perpecahan. Menurutnya, perbedaan seharusnya dikelola untuk memperkuat persatuan.

"Politik harus terbebas dari isu SARA. Harus diarahkan ke toleransi yang dapat menerima budaya yang berbeda-beda, sehingga terciptalah apa yang dinamakan multi kulturalisme," ujar Hamdi dalam keterangannya, Jumat (8/11).

Ia mencontohkan pengalaman masa lalu ketika Mohammad Natsir memiliki aspirasi politik melalui Masyumi sebagai partai Islam, namun tetap dapat bersahabat dengan tokoh dari partai Katolik. Hamdi menilai, seorang tokoh bangsa semestinya tidak terjebak pada kepentingan satu golongan.

"Enggak ada itu sedikit-sedikit mengkafir-kafirkan. Karena ketika seseorang sudah menjadi tokoh bangsa memang dia tidak lagi jadi wakil satu golongan tetapi dia sudah wakil dari semuanya," tuturnya.

Hamdi juga mengingatkan agar masyarakat tidak terkungkung oleh kebanggaan identitas kesukuan semata, melainkan menumbuhkan kebanggaan pada nasionalisme. Ia menekankan pentingnya mengingat kembali sejarah pembentukan republik yang, menurutnya, merupakan hasil gotong royong berbagai agama dan suku.

Melalui pesan tersebut, Kepala Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia itu berharap generasi muda dapat menjadi pahlawan perdamaian baru. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat generasi muda melupakan sejarah bangsanya.

"Hayati bahwa Indonesia ini atas dasar semangat gotong royong semua agama, semua golongan," tandasnya.