Pengamat politik sekaligus guru besar psikologi politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menilai pemilih muda saat ini cenderung realistis dan tidak mudah terpengaruh janji politik. Menurut dia, kelompok ini lebih memperhatikan rekam jejak, pembawaan, serta gaya komunikasi tokoh politik yang dianggap relevan dengan keseharian mereka.
Dalam konteks Pilpres 2019, Hamdi memandang pasangan Joko Widodo–Ma’ruf Amin memiliki peluang lebih terbuka untuk merebut suara pemilih milenial. Ia menyebut gaya Jokowi yang dinilai “kekinian” lebih mudah diterima pemilih muda, sementara karakter temperamental justru menjauhkan simpati. Hamdi bahkan menyatakan Prabowo Subianto “sudah tidak bisa menyaingi” dalam hal daya tarik di segmen milenial.
Terkait besarnya jumlah pemilih muda, Hamdi menekankan bahwa ukuran itu bergantung pada definisi rentang usia. Ia juga menyoroti kelompok pemilih yang masih bimbang atau undecided banyak berasal dari usia sekitar 22 hingga 35 tahun. Menurutnya, kelompok ini umumnya merupakan keluarga muda dengan kondisi ekonomi belum mapan, berpendidikan SMA/SMK atau D3, dan berpenghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan.
Hamdi menyebut persoalan ekonomi menjadi faktor utama yang membuat kelompok tersebut ragu menentukan pilihan. Ia menilai mereka sensitif terhadap perubahan biaya hidup karena selisih kecil dalam pengeluaran bisa berdampak pada kondisi rumah tangga. Karena itu, isu lapangan pekerjaan dan keterjangkauan kebutuhan pokok menjadi perhatian paling besar.
Ia juga mengingatkan bahwa ledakan demografi yang kerap disebut bonus demografi tidak selalu membawa keuntungan. Menurut Hamdi, bila kelompok usia produktif tidak terserap ke dunia kerja, situasi itu berpotensi berubah menjadi “bencana demografi”. Ia menilai penciptaan lapangan kerja memerlukan prasyarat, termasuk infrastruktur yang memadai, masuknya investasi, serta kepastian hukum.
Dalam pandangannya, kepastian hukum menjadi salah satu hambatan yang kerap muncul di tingkat pemerintah daerah. Hamdi menilai proses perizinan yang dibuat rumit dapat mengganggu iklim investasi. Sementara bagi pemilih yang bimbang, yang paling mereka butuhkan adalah jawaban konkret mengenai pekerjaan, harga-harga, dan peluang usaha.
Hamdi mengatakan pemilih bimbang secara statistik cenderung mengecil. Ia menyebut angka undecided berada di kisaran maksimal 10 persen, dan merujuk pada temuan SMRC yang ia sebut lebih kecil lagi. Menurutnya, perpindahan suara kelompok ini pun belum tentu cukup untuk mengubah hasil pemilihan.
Ia juga menilai banyak pemilih usia 20 sampai 35 tahun bersikap apolitis, tidak mengikuti debat, dan lebih banyak bertanya kepada lingkungan sekitar menjelang hari pemungutan suara. Karena itu, kedua pasangan calon disebutnya sama-sama berupaya mendekati kelompok ini, terutama pada fase akhir kampanye.
Soal pendekatan kandidat, Hamdi menilai Sandiaga Uno berupaya membangun citra dekat dengan milenial. Namun, ia mengkritik program yang kerap diulang seperti Oke-Oce dan “rumah pra-kerja” karena dinilai belum memberi gambaran rinci dan mudah membuat pemilih jenuh. Hamdi membandingkannya dengan program Jokowi yang ia sebut lebih konkret, misalnya akses pelatihan kerja melalui balai latihan kerja, termasuk dukungan seperti pelatihan dan uang saku.
Menurut Hamdi, Jokowi juga terlihat lebih cepat masuk ke komunitas anak muda, termasuk melalui festival milenial dan simbol-simbol kedekatan dengan dunia startup. Ia mencontohkan peristiwa ketika Achmad Zaky Syaifudin mendatangi Istana setelah pernyataannya menuai respons publik, yang menurutnya menunjukkan adanya perhatian pada kelompok startup.
Ketika ditanya soal gagasan membuka lapangan kerja lewat pendirian pabrik, Hamdi menilai gagasan itu kurang menarik bagi sebagian anak muda yang lebih menyukai kerja-kerja bergaya kantor dan dunia startup. Ia menyebut isu ekonomi digital seperti e-commerce, unicorn, dan ekonomi digital lebih sesuai dengan minat tersebut, dan menilai Jokowi lebih lincah bergerak ke arah itu.
Hamdi menyatakan, berdasarkan data survei, kelompok milenial cenderung dimenangkan Jokowi. Namun, ia menyoroti kelompok lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya ia sebut sekitar 7 persen, yang menurutnya cenderung lebih dekat ke Prabowo meski selisihnya tipis. Ia menduga hal itu terkait ekspektasi yang lebih tinggi dari pemilih terdidik terhadap kinerja pemerintah, sehingga sebagian merasa tidak puas atau menjadi bimbang.
Mengenai deklarasi dukungan alumni kampus, Hamdi menilai pengaruhnya tidak signifikan. Ia berpendapat pemilih masa kini lebih otonom dan memutuskan pilihan berdasarkan penilaian pribadi terhadap tawaran program, rekam jejak, dan karakter kandidat, bukan semata ikatan komunitas.
Hamdi juga mengutip faktor-faktor yang ia sebut muncul dalam survei SMRC, seperti kualitas personal, evaluasi kinerja, dan keyakinan terhadap kepemimpinan sebagai penentu pilihan. Ia menambahkan ada isu yang berdampak negatif terhadap Jokowi, seperti hoaks tentang keterkaitan dengan RRC dan isu PKI.
Di sisi lain, Hamdi menilai arus migrasi anak muda ke kota semakin besar, sehingga strategi kampanye banyak difokuskan pada kawasan perkotaan dan sub-urban. Ia menyinggung upaya mengajak anak muda kembali bertani, namun menilai keterbatasan penguasaan lahan menjadi tantangan karena rata-rata lahan yang dikelola kecil dan dinilai kurang layak secara ekonomi.
Soal caleg muda dan perempuan, Hamdi menilai masih ada hambatan kultural dan persoalan kapasitas politik. Ia menyebut keterwakilan perempuan dalam pencalonan tidak otomatis berujung pada keterpilihan, serta menganggap kemampuan politik caleg muda perempuan masih kerap kalah bersaing dengan politisi yang lebih senior.
Meski begitu, ia tidak melihat kehadiran caleg muda otomatis membuat pemilu lebih menarik bagi generasinya. Menurutnya, banyak anak muda bersikap ambivalen: di satu sisi tidak menyukai perilaku politisi yang dianggap buruk, namun di sisi lain menyadari politik dan parlemen tetap dibutuhkan.
Dalam penilaiannya, kecenderungan anak muda lebih dekat ke pasangan 01 juga dipengaruhi oleh citra Jokowi yang dianggap lincah dan dekat dengan budaya populer, termasuk momen tampil naik motor di Asian Games, penggunaan sneaker, hingga aktivitas seperti vlog. Hamdi menilai kehadiran Ma’ruf Amin tidak banyak menggerus dukungan milenial karena daya tarik utama berada pada figur Jokowi.
Hamdi menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa dalam perebutan suara milenial, persaingan lebih banyak terjadi antara Jokowi dan Sandiaga Uno. Namun, ia menilai pemilih tetap terutama melihat figur presiden. Ia juga menilai temperamen dapat menurunkan elektabilitas, dan menyebut persepsi terhadap Prabowo pada 2014 pernah muncul sebagai sosok yang dianggap otoriter dan temperamental.

