Pendidikan tinggi dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas masyarakat yang pada akhirnya berdampak pada kondisi ekonomi negara. Namun, akses dan kesempatan untuk menempuh kuliah belum merata, terutama bagi warga yang tinggal di daerah pelosok.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) per Desember 2023, jumlah penduduk Indonesia mencapai 280 juta jiwa. Dari angka tersebut, 6,68% atau 18,74 juta jiwa tercatat menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), menargetkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi meningkat menjadi 38,04% pada 2029.
Selain faktor biaya, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat tentang pentingnya sekolah dan melanjutkan pendidikan tinggi disebut masih menjadi tantangan. Karena itu, upaya meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi dinilai tidak dapat bertumpu pada peran pemerintah semata.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu opsi untuk memperkuat kualitas pendidikan melalui inovasi dan pertukaran pengetahuan. Universitas Indonesia (UI) menjalankan kontribusi tersebut melalui program pengabdian masyarakat Gerakan UI Mengajar (GUIM).
Kepala Subdirektorat Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, Widhyasmaramurti, menyatakan GUIM dirancang untuk memberikan dampak berkelanjutan. Ia menekankan peran pengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun kepercayaan diri anak-anak dalam proses belajar. “Pengajar memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan diri anak-anak agar mereka dapat berkembang secara optimal,” ujarnya, dikutip dari laman ui.ac.id, Sabtu, 24 Januari 2026.
Tahun ini menandai 15 tahun perjalanan Gerakan UI Mengajar. Program ini berfokus pada pendidikan dasar di wilayah rural dan terpelosok. Selama sebulan, mahasiswa terpilih mengajar siswa sekolah dasar, sekaligus menjalankan kegiatan pendukung seperti revitalisasi perpustakaan, pembiasaan literasi, pengenalan budaya Indonesia, serta aktivitas yang mendorong anak mengenali bakat dan minat.
Gerakan UI Mengajar 15 mengusung tema Bersama Jelajah Potensi, Rayakan Mimpi Anak Negeri. Ketua Pelaksana GUIM 15, Sultan Zahri Dipo Arifin, menyebut tema tersebut mencerminkan semangat untuk menggali potensi peserta didik dan mendukung terwujudnya cita-cita generasi muda melalui peran mahasiswa sebagai agen perubahan.
Program GUIM 15 melibatkan 108 mahasiswa yang bertugas sebagai panitia dan pengajar. Mereka ditempatkan di enam sekolah, yakni SDN 2 Dukuhwidara, SDN 1 Seuseupan, SDN 1 Karanganyar, SDN 2 Orimalang, SDN 3 Sindangjawa, dan SDN 3 Kasugengan Kidul. Kegiatan berlangsung pada 7 Januari hingga 2 Februari 2026.
Para mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas dibagi ke enam sekolah dengan peran beragam, mulai dari pengajar kelas I–VI, educational development, research development, creative event, hingga publikasi. Dalam pelaksanaannya, kegiatan harian diawali dengan pembiasaan pagi, dilanjutkan belajar mengajar yang dilakukan mahasiswa pengajar bersama guru kelas.
Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa juga mengadakan pembiasaan literasi seperti read aloud dan dongeng, serta les tambahan, termasuk untuk pelajaran Bahasa Inggris. Ada pula agenda bincang guru dan home visit ke rumah siswa untuk berdialog dengan orang tua. Di beberapa sekolah, mahasiswa turut merevitalisasi perpustakaan, mulai dari menggambar hingga mengecat.
Pembelajaran dikemas dengan metode yang menyenangkan. Siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi diajak terlibat melalui permainan yang membuat suasana kelas lebih hidup.
Program ini juga diarahkan untuk mendorong anak-anak di daerah pelosok berani memikirkan pendidikan tinggi. Pilihan melanjutkan kuliah disebut kerap terlupakan, terutama bagi anak yang tinggal jauh dari pusat pendidikan. Kehadiran mahasiswa di sekolah-sekolah tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik agar siswa memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan.
Dorongan tersebut tidak hanya menyasar anak, tetapi juga orang tua. Pengajar GUIM 14, Muhammad Aziz Nur Fauzan, menceritakan pengalamannya saat mengajar dan berbagi mimpi bersama siswa, yang membuat kelas menjadi lebih hidup karena anak-anak ikut menyampaikan impian mereka.
Fauzan juga menilai interaksi dengan orang tua melalui obrolan dan kunjungan rumah membuat kegiatan mengajar bukan sekadar berbagi ilmu, melainkan membangun ikatan. Ia mengaku tersentuh saat menerima pesan dari orang tua siswa, “Jangan pulang, anak saya betah belajar bersama Pak Fauzan.”
“Saat itu aku menyadari, kehadiran yang tulus dapat menjadi cahaya bagi mereka yang membutuhkan. Bukan hanya materi pelajaran yang tersampaikan, tetapi juga rasa percaya diri dan semangat untuk terus belajar,” kata Fauzan, dikutip dari akun Instagram @uimengajar.
Staf GUIM 14, Siti Gea Arzetty, juga menyampaikan refleksi bahwa harapan dapat muncul dari keterbatasan. “Harapan tidak selalu tumbuh dari kenyamanan, tetapi bisa lahir dari keterbatasan yang tak kenal lelah,” ujarnya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Gerakan UI Mengajar menjadi contoh upaya kolaboratif dan berkesinambungan untuk memperkuat pendidikan dasar sekaligus menumbuhkan keyakinan anak-anak di pelosok agar berani mengejar pendidikan setinggi mungkin.

