Gen Z di Tengah Politik Global yang Memanas dan Ekonomi yang Goyah: Dari Harga Emas hingga Kecemasan Menikah

Gen Z di Tengah Politik Global yang Memanas dan Ekonomi yang Goyah: Dari Harga Emas hingga Kecemasan Menikah

Mengapa Isu Ini Mendadak Ramai

Di linimasa, percakapan tentang Gen Z, konflik global, dan ekonomi yang carut-marut bertemu dalam satu kata kunci yang terasa dekat: ketidakpastian.

Isu ini ikut menanjak karena ia menyentuh urusan paling personal, dari tabungan, harga emas, sampai keputusan menikah.

Dalam opini Hafizhuddin Islamy, pemuda Aceh di Istanbul, guncangan dunia dibaca sebagai gelombang yang sampai ke dapur rumah tangga Indonesia.

Konflik Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, isu penculikan presiden Venezuela, konflik di Iran, hingga manuver politik Amerika Serikat menjadi latar kegelisahan yang ia sebut kian memuncak.

Ia juga menyinggung bergabungnya Indonesia ke Dewan Perdamaian atau Board of peace buatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dan ada satu pemantik yang mudah menyulut rasa ingin tahu publik: klaim Trump untuk merebut Greenland sepihak dari Eropa dengan dalih keamanan nasional.

Di tengah kabar-kabar seperti itu, pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono tentang potensi perang dunia ketiga kembali terasa relevan.

Ketika kata “perang dunia” muncul, orang tidak hanya bertanya siapa menang. Mereka juga bertanya, apa yang terjadi pada harga, kerja, dan masa depan.

-000-

Ada tiga alasan mengapa isu ini menjadi tren dan mudah menyebar.

Pertama, ia menghubungkan berita luar negeri yang besar dengan dampak yang konkret di Indonesia, terutama ekonomi, sehingga terasa nyata dan dekat.

Kedua, ia menyasar Generasi Z, kelompok demografis yang besar, aktif di ruang digital, dan sedang berada di fase membangun karier, tabungan, serta keluarga.

Ketiga, ia mengangkat simbol yang emosional dan kultural, yakni mahar dan pernikahan, yang membuat ekonomi tidak lagi abstrak.

Dunia yang Tidak Stabil dan Bahasa Kecemasan

Opini itu berangkat dari satu kesimpulan besar: dunia internasional sedang tidak baik-baik saja.

Rangkaian peristiwa lintas kawasan digambarkan sebagai pergerakan yang dinamis, masif, dan mengesankan situasi global yang tidak stabil.

Dalam situasi seperti itu, para pemimpin negara disebut bersiap mengantisipasi hal-hal yang datang tanpa diduga.

Bahasa “siap siaga” sebenarnya bukan hanya milik negara. Ia merembes ke warga biasa dalam bentuk kehati-hatian dan rasa cemas.

Di Indonesia, kecemasan itu sering muncul sebagai pertanyaan sederhana: apakah besok harga naik lagi.

Ketika ketidakpastian menjadi atmosfer, orang mencari penjelasan, lalu mencari pegangan. Di titik itu, emas muncul sebagai kata kunci.

Harga Emas sebagai Termometer Ketakutan

Penulis menautkan ketidakstabilan global dengan kenaikan harga emas yang disebut berulang setiap kali konflik pecah dan dunia terguncang.

Ia membandingkan situasi aman, ketika harga emas relatif stabil, dengan situasi panas, ketika harga melompat cepat dalam hitungan hari.

Ia juga menyinggung perang dagang Amerika Serikat dan China sebagai contoh lain saat guncangan politik-ekonomi ikut mengerek emas.

Di ruang publik, emas bukan sekadar komoditas. Ia menjadi bahasa bersama untuk membicarakan takut rugi, takut miskin, dan takut terlambat.

Dalam kajian ekonomi, emas kerap dipahami sebagai aset lindung nilai atau safe haven saat risiko meningkat.

Kerangka ini membantu menjelaskan mengapa publik peka pada emas ketika konflik membesar, meski opini tersebut tidak memaparkan data harga rinci.

Namun efek sosialnya jelas: ketika emas naik, percakapan tentang masa depan ikut naik.

Gen Z di Persimpangan: Menabung, Bertahan, dan Membaca Dunia

Penulis mendefinisikan Gen Z sebagai mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012.

Kelompok ini, katanya, sedang menghadapi tantangan ekonomi yang berat.

Mereka yang punya tabungan disebut selangkah lebih maju. Sebaliknya, yang belum punya kesiapan harta atau simpanan berada dalam posisi rawan.

Di sini, opini itu menyampaikan pesan moral yang tegas: generasi hari ini harus melek kondisi dunia dan tidak boleh malas membaca situasi.

Jika acuh, konsekuensinya adalah tertinggal dan tidak bisa bertahan.

Pesan ini sejalan dengan gagasan literasi finansial dan literasi global yang sering dibahas dalam riset kebijakan publik.

Secara konseptual, kemampuan mengelola uang tidak berdiri sendiri. Ia dipengaruhi informasi, ekspektasi, dan rasa aman terhadap masa depan.

Dalam ekonomi perilaku, ketidakpastian sering membuat orang mengambil keputusan ekstrem, menunda, atau justru panik.

Karena itu, ajakan “membaca dunia” dapat dipahami sebagai upaya menata persepsi risiko sebelum menata strategi finansial.

Ketika Emas Menyentuh Mahar, dan Mahar Menyentuh Statistik

Bagian paling emosional dari opini itu muncul saat emas dikaitkan dengan pernikahan.

Emas dalam prosesi pernikahan disebut sebagai mahar yang harganya terus “menggila” dari hari ke hari.

Tekanan ini, menurut penulis, membuat Gen Z merasa belum cukup finansial untuk menikah.

Akibatnya, angka pernikahan disebut menurun dari tahun ke tahun.

Ia memberi contoh Aceh, mengutip data Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh.

Angka pernikahan tertinggi tercatat pada 2019 sebanyak 45.629 orang.

Jumlah itu menyusut pada 2024 menjadi 33.292 orang, dan pada 2025 menjadi 31.663 orang.

Data ini mengubah wacana dari sekadar keluhan menjadi gejala sosial yang bisa diukur.

Di titik ini, ekonomi bertemu budaya. Dan budaya bertemu kebijakan.

Adat, Relevansi Zaman, dan Ruang Negosiasi Sosial

Penulis mengingatkan bahwa penurunan angka pernikahan tidak boleh dilihat semata sebagai gejala sosial akibat guncangan global.

Ia menekankan perlunya solusi, terutama untuk mendongkrak minat menikah Gen Z.

Beberapa gagasan disebut, seperti menurunkan standar mahar.

Ada pula usulan mengganti satuan mahar di Aceh dari mayam menjadi gram.

Intinya, adat harus dijaga dan dilestarikan.

Namun, adat juga harus berjalan relevan dengan perkembangan zaman, agar tidak menjadi pagar penghalang bagi ikatan pernikahan.

Ini menyentuh isu besar Indonesia: bagaimana tradisi bernegosiasi dengan realitas ekonomi modern.

Dalam banyak komunitas, pernikahan bukan hanya urusan dua orang. Ia urusan keluarga, status, dan martabat sosial.

Karena itu, mahar sering memikul beban simbolik yang lebih berat daripada fungsinya sebagai pemberian.

Ketika beban simbolik itu bertemu kenaikan harga, tekanan berlipat ganda.

Isu Besar Indonesia: Ketahanan Ekonomi Rumah Tangga dan Bonus Demografi

Perdebatan tentang Gen Z dan ketidakpastian global sebenarnya menempel pada agenda nasional yang lebih besar.

Salah satunya adalah ketahanan ekonomi rumah tangga.

Jika generasi muda sulit menabung, sulit merencanakan keluarga, dan cemas terhadap nilai uang, maka daya tahan sosial ikut melemah.

Isu lain adalah bonus demografi, ketika porsi penduduk usia produktif besar dan seharusnya menjadi mesin pertumbuhan.

Bonus demografi membutuhkan prasyarat: pekerjaan layak, produktivitas, dan kemampuan mengelola risiko.

Opini ini, meski berangkat dari emas dan mahar, sesungguhnya menanyakan hal yang lebih mendasar.

Apakah Indonesia sedang menyiapkan generasi mudanya untuk hidup dalam dunia yang volatil.

Ketika konflik global memengaruhi sentimen ekonomi, generasi muda menjadi kelompok yang paling cepat merasakan getarnya.

Mereka baru masuk pasar kerja, baru membangun aset, dan belum punya bantalan kekayaan.

Riset yang Relevan untuk Membaca Fenomena Ini

Ada beberapa kerangka riset yang membantu membuat isu ini lebih konseptual, tanpa mengklaim data yang tidak disebut dalam opini.

Pertama, literasi finansial.

Berbagai studi kebijakan publik menekankan bahwa literasi finansial berkaitan dengan kemampuan merencanakan, memahami risiko, dan memilih instrumen tabungan.

Ajakan penulis agar Gen Z melek kondisi dunia beririsan dengan gagasan ini, karena keputusan finansial dipengaruhi informasi dan pemahaman.

Kedua, teori ketidakpastian dan perilaku menabung.

Dalam ekonomi perilaku, ketidakpastian meningkatkan preferensi pada aset yang dianggap aman, dan mendorong kehati-hatian konsumsi.

Ini membantu menjelaskan mengapa emas menjadi magnet perhatian saat konflik memanas.

Ketiga, sosiologi keluarga.

Riset tentang keluarga modern sering menunjukkan bahwa keputusan menikah dipengaruhi stabilitas ekonomi, norma sosial, dan ekspektasi biaya.

Ketika mahar dipersepsikan mahal, keputusan menikah bisa tertunda, terutama pada generasi yang masih membangun pendapatan.

Ketiga kerangka ini tidak menggantikan data, tetapi memberi bahasa analitis untuk memahami hubungan global, ekonomi, dan pilihan hidup.

Cermin dari Luar Negeri: Ketika Ekonomi Menunda Pernikahan

Fenomena menurunnya minat menikah di tengah tekanan ekonomi bukan hanya cerita lokal.

Di beberapa negara, biaya hidup dan ketidakpastian kerja sering dikaitkan dengan penundaan pernikahan dan penurunan angka kelahiran.

Jepang dan Korea Selatan kerap menjadi rujukan diskusi global tentang generasi muda yang menunda menikah karena beban ekonomi.

Di China, perdebatan tentang biaya pernikahan juga pernah mengemuka, termasuk soal tuntutan materi yang membebani pihak tertentu.

Perbandingan ini tidak dimaksudkan menyamakan konteks, karena adat dan struktur ekonomi tiap negara berbeda.

Namun benang merahnya serupa: ketika masa depan terasa rapuh, komitmen jangka panjang menjadi lebih sulit diambil.

Dan ketika simbol pernikahan menuntut biaya tinggi, tekanan psikologis ikut bertambah.

Rekomendasi Menanggapi Isu Ini

Pertama, memperkuat literasi finansial yang membumi.

Ajakan “membaca dunia” perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan praktis, seperti menyusun anggaran, dana darurat, dan tujuan tabungan yang realistis.

Kedua, membuka ruang dialog adat yang sehat.

Gagasan menurunkan standar mahar atau meninjau satuan mahar perlu dibicarakan bersama tokoh adat, agama, dan komunitas, agar perubahan tidak memecah martabat.

Ketiga, menempatkan pernikahan sebagai kerja sama, bukan panggung pembuktian.

Jika tekanan sosial membuat mahar menjadi ajang gengsi, maka yang rapuh bukan hanya ekonomi, tetapi juga ketulusan relasi.

Keempat, mendorong kesiapan ekonomi yang bertahap.

Penulis menyarankan menabung emas sebagai salah satu cara menjaga nilai tukar.

Saran itu dapat dibaca sebagai dorongan disiplin, dimulai dari kecil, disesuaikan kemampuan, dan tidak terjebak gaya hidup boros.

Kelima, memperluas pemahaman bahwa ketidakpastian global adalah realitas baru.

Alih-alih panik, respons terbaik adalah membangun ketahanan, baik lewat tabungan, keterampilan, maupun jaringan dukungan keluarga.

-000-

Pada akhirnya, opini ini bukan sekadar tentang emas, atau tentang Trump, atau tentang peta konflik dunia.

Ia tentang generasi yang sedang belajar dewasa di tengah dunia yang bergerak cepat, sementara pijakan ekonomi terasa licin.

Ia juga tentang keberanian menata ulang kebiasaan, membedakan kebutuhan dan gaya hidup, serta merawat adat agar tetap manusiawi.

Di tengah bising kabar global, yang paling sulit sering justru yang paling sunyi: menata harapan.

Dan mungkin, jawaban paling waras adalah menguatkan diri tanpa kehilangan empati pada sesama yang juga sedang berjuang.

Seperti kutipan yang kerap dinisbatkan pada Winston Churchill: “Jika kamu sedang melewati neraka, teruslah berjalan.”