Film Pendek "Sajadah di Atas Polusi" dari UIN Saizu Angkat Pesan Kesalehan Sosial dan Kepedulian Lingkungan di SIF IV 2026

Film Pendek "Sajadah di Atas Polusi" dari UIN Saizu Angkat Pesan Kesalehan Sosial dan Kepedulian Lingkungan di SIF IV 2026

PADANG — Kontingen Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menampilkan film pendek berjudul Sajadah di Atas Polusi dalam cabang lomba film pendek SeIBa International Festival (SIF) IV 2026 yang digelar di UIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, Kamis (9/7/2026). Film ini mengusung pesan tentang kesalehan sosial dan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai keislaman.

Film tersebut merupakan hasil kolaborasi empat mahasiswa Program Studi Informatika semester 6 UIN Saizu Purwokerto. Kharisma Hendi Mahardika bertugas sebagai sutradara, editor, sekaligus cameraman. Sementara Abid Zidan memerankan tokoh Abid dan Imam Bukhori memerankan tokoh Sumam. Adapun Anas Syahrul Fatah menangani perekaman suara.

Mahardika menjelaskan, ide film berangkat dari fenomena masyarakat modern yang dinilai masih memisahkan ibadah ritual dengan tanggung jawab sosial. Melalui film pendek ini, ia ingin mengajak penonton memaknai ibadah secara lebih luas, termasuk lewat tindakan menjaga kebersihan udara, mengurangi polusi, dan tidak merugikan kesehatan orang lain.

Ia memilih medium film pendek karena dianggap mampu menyampaikan pesan moral secara dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Mahardika juga menyampaikan gagasannya bahwa bumi dapat dipandang sebagai “hamparan sajadah” yang suci, sehingga mengotorinya dengan polusi atau tindakan egoistis sama dengan menodai tempat ibadah.

Dalam alur ceritanya, Sajadah di Atas Polusi mengisahkan Sumam, seorang pria yang dikenal taat beribadah dan rutin salat berjamaah. Namun, di balik kesalehan ritual tersebut, ia memiliki kebiasaan merokok saat mengendarai sepeda motor tanpa memedulikan dampaknya bagi orang lain maupun lingkungan.

Sahabatnya, Abid, berkali-kali mengingatkan bahwa kebiasaan itu dapat membahayakan kesehatan orang lain dan memperburuk kualitas udara. Nasihat tersebut tidak dihiraukan hingga Abid meninggal dunia akibat penyakit pernapasan kronis yang semakin memburuk. Peristiwa itu kemudian menjadi titik balik bagi Sumam untuk meninggalkan kebiasaan buruknya, memilih berjalan kaki menuju masjid, berhenti membuang puntung rokok sembarangan, serta berkomitmen menjaga lingkungan sebagai bentuk penghormatan kepada sahabatnya.

Melalui cerita yang sederhana, film ini membawa tiga pesan utama: ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi harus tercermin dalam perilaku sosial yang bermanfaat; pengenalan konsep “Sajadah Bumi” yang memandang alam sebagai ruang suci yang wajib dijaga kebersihan dan kelestariannya; serta pengingat bahwa tindakan yang kerap dianggap sepele—seperti merokok di ruang publik atau mencemari lingkungan—dapat berdampak besar bagi kehidupan orang lain.

Keikutsertaan film pendek ini juga menjadi bagian dari partisipasi UIN Saizu pada berbagai kompetisi lain di SIF IV 2026, di antaranya tari tradisional, tari kontemporer, monolog, puisi, pop solo, MTQ, MSQ, poster, hingga karya ilmiah. Festival yang berlangsung pada 7–12 Juli 2026 itu diikuti ratusan peserta dari puluhan perguruan tinggi dalam dan luar negeri sebagai ajang kolaborasi akademik, seni, dan budaya.

Melalui Sajadah di Atas Polusi, kontingen UIN Saizu menegaskan pesan bahwa kesalehan sejati tercermin dalam kepedulian terhadap sesama dan kelestarian lingkungan, sekaligus menunjukkan pemanfaatan keterampilan multimedia untuk karya kreatif bernilai edukasi.