Film Adaptasi "Na Willa" Hadirkan Perspektif Anak dan Soroti Rasisme, Disabilitas, hingga Pernikahan Dini

Film Adaptasi "Na Willa" Hadirkan Perspektif Anak dan Soroti Rasisme, Disabilitas, hingga Pernikahan Dini

Sutradara Ryan Adriandhy kembali menggarap film adaptasi berjudul Na Willa setelah sebelumnya melebarkan sayap lewat film Jumbo pada Lebaran tahun lalu. Film ini diadaptasi dari buku berjudul sama karya Reda Gaudiamo dan diproduksi di bawah naungan Visinema Studio.

Na Willa menghidupkan dunia anak-anak yang penuh keajaiban melalui kisah keseharian Na Willa (Luisa Adreena), seorang anak perempuan yang tinggal di Krembangan, Surabaya, pada era 1960-an. Willa merupakan anak semata wayang dari pasangan Marie (Irma Rihi) dan Paul (Junior Liem), yang ia panggil Mak dan Pak.

Seperti anak-anak pada umumnya, Willa dipenuhi rasa ingin tahu. Bersama teman-temannya, ia memandang dunia sekitar dengan sudut pandang yang kerap melahirkan pertanyaan di luar dugaan orang dewasa. Mak, yang sehari-hari mendampingi Willa, digambarkan selalu menanggapi berbagai pertanyaan sang anak dengan sabar.

Di balik alur yang dibalut nuansa menyenangkan, film ini juga menghadirkan isu-isu sosial melalui tokoh-tokohnya. Setidaknya ada tiga karakter yang menonjol sebagai representasi persoalan sosial dalam bingkai film keluarga.

Na Willa: pengalaman rasisme sejak dini

Film ini menggambarkan Willa sebagai anak keturunan Tionghoa-Ambon yang mengalami perlakuan rasisme di sekolah. Sebagai murid baru, ia menerima berbagai perlakuan tidak menyenangkan, mulai dari guru kelas yang menyebutnya pembohong hingga ejekan dari teman semeja.

Willa juga diteriaki kata-kata kasar dan dijambak oleh teman-teman lain, situasi yang membuatnya marah sekaligus sedih hingga mengadu kepada Mak. Meski adegan tersebut dibungkus dengan kekacauan khas anak taman kanak-kanak, penggambaran itu menjadi penanda bahwa rasisme telah berakar sejak lama dan dapat menyasar anak-anak, bukan hanya orang dewasa.

Dul: gambaran disabilitas pada anak

Karakter lain yang disorot adalah Dul (Azamy Syauqi), salah satu dari tiga teman dekat Willa di Krembangan. Dul digambarkan bebas, menyukai tantangan, dan memiliki mimpi mengejar kereta dengan kemampuan berlarinya. Ia kerap mengajak teman-temannya bermain ke stasiun untuk “melampaui” kecepatan kereta, meski ditolak karena alasan keamanan.

Suatu hari, Dul mengajak Willa melihat kereta lewat jalan tikus yang ia temukan dan meminta bantuan Willa membaca tanda-tanda karena Willa sudah pintar membaca. Namun, Mak yang mendengar rencana itu mengatakan Pak akan pulang sehingga Willa tidak bisa ikut. Dul pun pergi sendiri melalui jalan tersebut.

Tak lama kemudian, Krembangan gempar karena seorang anak mengalami kecelakaan kereta. Anak itu adalah Dul. Kecelakaan tersebut membuat Dul kehilangan fungsi kakinya dan harus menggunakan kaki palsu dari kayu.

Martini (Mbak Tin): potret pernikahan dini

Film ini juga menghadirkan Farida (Freya Mikhayla), teman dekat Willa, yang tinggal di rumah dengan banyak saudara. Salah satunya adalah Martini atau Mbak Tin (Nayla Purnama), kakak yang dibanggakan Farida.

Dalam salah satu adegan, Farida mengajak Willa ke rumahnya, saat banyak orang tengah memasak bersama. Farida lalu mengajak Willa makan kue cucur di kamar Mbak Tin dan memberi tahu bahwa kakaknya akan menikah. Mendengar pembicaraan itu, Mbak Tin menangis tersedu-sedu, namun Farida menganggapnya wajar karena orang yang akan menikah disebutnya memang menangis menjelang hari pernikahan.

Lewat tokoh Mbak Tin yang masih remaja, film ini merepresentasikan fenomena pernikahan dini yang tidak dapat ditolak oleh pihak yang menjalaninya dan kerap dianggap sebagai sesuatu yang lazim.