Dua kelompok mahasiswa dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) melaju sebagai finalis dunia Imagine Cup 2023, kompetisi tahunan dari Microsoft yang mendorong pelajar menghadirkan solusi berbasis teknologi untuk menjawab persoalan besar di dunia. Kedua tim tersebut membawa inovasi MoonChick untuk mendukung peternak ayam dan Snailly untuk membantu mewujudkan internet yang sehat dan aman bagi anak-anak.
Dian Dharmayanti, dosen UNIKOM yang membimbing kedua tim bersama Adam Mukharil Bachtiar, menyebut MoonChick dan SnaillyProject merupakan tim mahasiswa yang bergabung di Divisi CodeLabs, Direktorat Inovasi dan Kompetisi UNIKOM. Ia menilai capaian itu lahir dari tujuan menghadirkan solusi modern untuk persoalan sosial di sekitar mereka.
MoonChick (Monitoring on Chicken – Enabling Automation for Your Poultry) berkompetisi pada kategori “Earth”. Inovasi ini berangkat dari temuan lapangan terkait penurunan usaha peternak ayam akibat kematian ayam pada masa panen, yang disebut dipengaruhi sejumlah faktor lingkungan. Para peternak dinilai kesulitan mengambil, memetakan, dan mengelola data lingkungan serta kesehatan ternak secara manual, terlebih dengan jumlah ternak yang umumnya di atas 600 ekor.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim MoonChick mengusulkan sistem kolaborasi cerdas berbasis big data analytics, machine learning, dan Internet of Things (IoT) yang dirancang agar tetap dapat diakses di area terpencil dengan akses internet terbatas. Muhammad Farid Laksmana, perwakilan MoonChick, mengatakan sistem itu dapat memberikan notifikasi ketika terjadi kondisi lingkungan yang tidak biasa di area peternakan atau ketika ada ternak yang sakit. Ia menjelaskan, tim memanfaatkan Azure Machine Learning dan Azure Blob Storage untuk uji analisis korelasi data, serta Azure Custom Vision untuk deteksi gambar, sehingga notifikasi dapat disertai informasi lebih mendalam, termasuk kondisi lingkungan yang diduga memicu kematian atau cara penanganan penyakit ternak.
Andi Firmansyah, anggota MoonChick, menambahkan tantangan utama adalah memastikan teknologi dapat digunakan di lokasi peternakan yang banyak berada di area terpencil. Karena itu, tim mengembangkan mekanisme edge computing agar perangkat IoT MoonChick tetap bekerja pada koneksi internet berbandwidth rendah. Sebelum melangkah sebagai finalis dunia, MoonChick tercatat menjadi runner up Epic Challenge Microsoft Imagine Cup wilayah Asia pada Februari 2023 dan terpilih sebagai finalis Imagine Cup di Asia mewakili Indonesia.
Sementara itu, SnaillyProject menghadirkan aplikasi Snailly berbasis machine learning untuk membantu orang tua mengawasi aktivitas internet anak demi memastikan keamanan online. Inovasi ini berangkat dari kekhawatiran meningkatnya paparan generasi muda ke ranah digital ketika mereka belum mampu memilah informasi sesuai usia, yang dapat memicu pengalaman buruk dalam berinternet. Dalam data yang dicantumkan, penetrasi internet remaja usia 13–18 tahun di Indonesia mencapai 99,16%, sementara anak usia 5–12 tahun sebesar 62,43%.
Adinda Regita Afifah Cahyani, perwakilan Snailly Project, menyampaikan aplikasi Snailly memanfaatkan Azure Machine Learning untuk mendeteksi dan memblokir situs yang memuat konten dengan kata kunci negatif. Jika anak membuka situs dengan kata kunci yang dinilai tidak sesuai, orang tua akan menerima notifikasi. Riwayat situs yang diblokir disimpan dalam database history menggunakan Azure Blob Storage agar dapat ditinjau kembali.
Mohammad Aziz Riza, anggota SnaillyProject, mengatakan tim menyadari adanya subjektivitas dalam menentukan konten yang termasuk kategori negatif karena tiap orang tua dapat memiliki kriteria berbeda. Untuk itu, Snailly dilengkapi fitur whitelist yang memungkinkan personalisasi pemblokiran, termasuk menambahkan kata kunci di luar rekomendasi dari sistem machine learning. SnaillyProject disebut terpilih sebagai pemenang kategori education tingkat Asia, sehingga berhak atas hadiah USD2.500 dan kredit Azure dari Microsoft Founders Hub.
Irving Hutagalung, Country Engineering Lead, Office of the CTO, Microsoft Asia, yang memberikan coaching kepada kedua tim selama mengikuti Imagine Cup 2023, menyatakan keberhasilan mahasiswa UNIKOM menjadi finalis dunia menunjukkan usia bukan batasan untuk meraih mimpi maupun berkontribusi. Ia berharap prestasi tersebut dapat menginspirasi penggiat teknologi muda lain di Indonesia.

