Dua Srikandi untuk Bank Indonesia: Ujian Independensi, Kepercayaan Pasar, dan Arah Kebijakan di Era Prabowo

Dua Srikandi untuk Bank Indonesia: Ujian Independensi, Kepercayaan Pasar, dan Arah Kebijakan di Era Prabowo

Nama Bank Indonesia kembali berada di puncak percakapan publik.

Bukan karena gejolak rupiah, bukan pula karena lonjakan inflasi.

Isunya adalah keputusan Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI.

Dan Aida S Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI.

Di ruang digital, kabar ini cepat menjadi tren.

Karena menyangkut satu kata yang selalu sensitif di negara berkembang: kepercayaan.

Kepercayaan pasar, kepercayaan publik, dan kepercayaan bahwa otoritas moneter berdiri di atas kepentingan politik jangka pendek.

Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah memberi apresiasi.

Ia menilai langkah presiden menyerahkan kemudi otoritas moneter kepada dua figur berpengalaman sebagai penghormatan terhadap independensi BI.

Ia menyebut rekam jejak panjang keduanya sebagai “investasi kepercayaan” dari para pelaku pasar.

Investasi yang, menurutnya, tidak mudah dipenuhi.

-000-

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Menggerakkan Percakapan

Pertama, pergantian pucuk pimpinan bank sentral selalu dibaca sebagai sinyal arah ekonomi.

Pasar tidak hanya menilai siapa orangnya.

Pasar menebak bagaimana keputusan suku bunga, stabilitas kurs, dan komunikasi kebijakan akan dibentuk.

Kedua, publik Indonesia memiliki ingatan kolektif tentang pentingnya independensi BI pascareformasi.

Said Abdullah menegaskan, independensi BI adalah “buah reformasi” yang tidak ingin dirusak.

Kalimat itu memicu resonansi.

Karena reformasi bukan sekadar peristiwa politik.

Reformasi adalah janji institusional agar kebijakan ekonomi tidak mudah dibajak.

Ketiga, penekanan Said bahwa ini “pilihan teknokrasi, bukan politik” memantik debat.

Di era polarisasi, klaim “bukan politik” sering justru mengundang pemeriksaan publik.

Orang ingin tahu, apakah prosesnya benar-benar meritokratis.

Dan apakah DPR akan memperkuat atau melemahkan persepsi itu saat uji kelayakan.

-000-

Rekam Jejak sebagai Bahasa Kepercayaan

Said Abdullah menilai Destry dan Aida bukan orang baru di sektor keuangan.

Ia menekankan keduanya memiliki jejak panjang sebelum menjadi bagian dari pimpinan BI.

Di pasar keuangan, rekam jejak bekerja seperti mata uang.

Ia tidak tercetak, tetapi nilainya terasa saat ketidakpastian meningkat.

Said memberi contoh momen ketika Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI.

Menurutnya, pasar tampak tidak begitu bergejolak.

Salah satu alasannya adalah kepemimpinan sementara BI yang dipegang Destry dan tim.

Pernyataan ini penting karena menempatkan stabilitas sebagai produk institusi.

Bukan semata hasil karisma seorang pemimpin.

Namun, stabilitas juga bisa rapuh.

Terutama jika komunikasi kebijakan berubah menjadi ambigu, atau independensi dipersepsikan melemah.

-000-

Independensi Bank Sentral: Mengapa Publik Perlu Peduli

Independensi bank sentral sering terdengar teknis.

Padahal dampaknya sangat sehari-hari.

Ia memengaruhi harga bahan pokok melalui inflasi.

Ia memengaruhi cicilan dan kredit melalui suku bunga.

Ia memengaruhi biaya impor dan daya beli melalui nilai tukar.

Dalam literatur ekonomi, terdapat gagasan luas tentang “independensi bank sentral” dan “kredibilitas kebijakan moneter”.

Intinya sederhana: semakin dipercaya, semakin efektif kebijakan bekerja.

Kepercayaan membuat ekspektasi inflasi lebih terkendali.

Ekspektasi yang terkendali membuat biaya pengetatan kebijakan bisa lebih ringan.

Di sinilah komentar Said tentang “investasi kepercayaan” menemukan tempatnya.

Kepercayaan tidak dibangun lewat pidato.

Ia dibangun lewat konsistensi, ketegasan, dan transparansi.

-000-

Tantangan BI Menurut DPR: Mandat yang Membesar, Arah yang Dicari

Said menggarisbawahi bahwa tugas BI kini tidak sekadar menjaga nilai tukar rupiah dan meredam inflasi.

Ia menyebut BI juga perlu menyokong pertumbuhan ekonomi serta UMKM.

Di titik ini, diskusi menjadi lebih filosofis.

Seberapa jauh bank sentral boleh melangkah tanpa kehilangan fokus utama stabilitas?

Said juga menyampaikan satu kegelisahan.

Ia mengatakan Indonesia belum memiliki “core kebijakan” yang memandu arah kebijakan moneter.

Kalimat ini membuka ruang tafsir.

Apakah yang dimaksud adalah kerangka jangka panjang yang lebih eksplisit?

Atau konsensus nasional tentang trade-off antara stabilitas dan pertumbuhan?

Tanpa “core” yang jelas, kebijakan mudah dibaca reaktif.

Dan kebijakan yang reaktif sering menimbulkan biaya kepercayaan.

-000-

Contoh China yang Disebut: Pelajaran dari Perang Dagang dan Gejolak Global

Said mencontohkan China yang memiliki kecenderungan melemahkan Yuan terhadap dollar AS.

Tujuannya membuat harga barang ekspor lebih kompetitif di pasar global.

Ia menyebut dampaknya membuat AS kelabakan oleh banjir produk China.

Lalu muncul penghalang dan perang dagang.

Contoh ini mengingatkan bahwa kebijakan moneter bukan sekadar urusan domestik.

Kebijakan moneter adalah bagian dari strategi negara dalam kompetisi ekonomi global.

Said menambahkan, belum selesai dari masalah itu, meletus perang Rusia dan Ukraina pada 2022.

Perang itu mengakibatkan kenaikan harga komoditas global.

Rangkaian peristiwa ini menegaskan satu kenyataan.

Dunia bergerak dalam gelombang kejutan.

Dan bank sentral di negara manapun dipaksa mengelola stabilitas di tengah badai.

-000-

Isu Besar Indonesia: Reformasi Institusi, Stabilitas Demokrasi, dan Ketahanan Ekonomi

Pengajuan Destry dan Aida tidak berdiri sendiri.

Ia bertaut dengan isu besar Indonesia tentang kualitas institusi.

Reformasi melahirkan harapan bahwa lembaga ekonomi dijaga dari tarik-menarik kekuasaan.

Harapan itu diuji setiap kali ada transisi.

Karena transisi adalah momen ketika garis batas sering kabur.

Said menekankan perlunya kepemimpinan sektor keuangan yang jelas, terukur, dan memberi kepastian arah kebijakan.

Pernyataan itu menyentuh kebutuhan utama negara dengan basis demografi besar.

Indonesia membutuhkan kepastian untuk investasi.

Dan investasi membutuhkan persepsi stabilitas yang konsisten.

Di sisi lain, mandat untuk menyokong UMKM mengingatkan bahwa stabilitas harus terasa hingga akar rumput.

Jika stabilitas hanya menjadi bahasa elite, ia kehilangan legitimasi sosial.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Kredibilitas dan Kejelasan Kerangka Kebijakan Penting

Dalam kajian kebijakan moneter, konsep kredibilitas sering dikaitkan dengan kemampuan bank sentral memandu ekspektasi.

Ekspektasi publik tentang inflasi dan nilai tukar memengaruhi perilaku harga dan upah.

Ketika ekspektasi liar, bank sentral biasanya harus bekerja lebih keras.

Kerja lebih keras sering berarti biaya ekonomi lebih besar.

Di banyak diskusi akademik, independensi dipandang membantu mengurangi godaan kebijakan jangka pendek.

Godaan itu misalnya mendorong stimulus berlebihan yang tampak manis sesaat.

Namun meninggalkan inflasi atau ketidakstabilan kemudian.

Di sisi lain, riset kebijakan juga menekankan pentingnya komunikasi.

Komunikasi yang konsisten membuat pasar memahami reaksi kebijakan.

Pasar tidak menuntut bank sentral selalu benar.

Pasar menuntut bank sentral dapat diprediksi dalam kerangka yang masuk akal.

Ketika Said menyebut Indonesia belum punya “core kebijakan”, ia seperti menunjuk kebutuhan akan jangkar.

Jangkar itu bisa berupa kerangka yang dipahami publik.

Dan diuji secara terbuka melalui akuntabilitas.

-000-

Rujukan Luar Negeri: Ketika Transisi Bank Sentral Menjadi Sorotan Publik

Di berbagai negara, pergantian pimpinan bank sentral kerap memicu perdebatan tentang independensi.

Di Amerika Serikat, proses penunjukan pimpinan bank sentral selalu disorot ketat.

Pasar memperhatikan sinyal kebijakan, bukan sekadar nama.

Di Inggris, perubahan kepemimpinan bank sentral juga sering dihubungkan dengan tantangan inflasi dan pertumbuhan.

Di banyak tempat, pola yang sama muncul.

Ketika ketidakpastian global meningkat, publik lebih sensitif terhadap siapa yang memegang kemudi.

Rujukan ini tidak menyamakan kondisi.

Namun membantu memahami mengapa isu penunjukan Destry dan Aida cepat membesar.

Karena Indonesia sedang menavigasi dunia yang bergejolak.

Dan setiap keputusan di puncak institusi ekonomi otomatis menjadi simbol.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi: Jalan Tengah antara Optimisme dan Kewaspadaan

Pertama, publik perlu memisahkan dua hal: penilaian personal dan penilaian institusional.

Rekam jejak penting, tetapi mekanisme tata kelola lebih penting.

Karena individu berganti, sementara institusi harus bertahan.

Kedua, DPR perlu menjadikan proses persetujuan sebagai ruang uji yang substantif.

Fokusnya pada kerangka kebijakan, komunikasi, dan komitmen menjaga independensi.

Bukan pada pertarungan citra.

Ketiga, pemerintah dan BI perlu menjaga konsistensi pesan.

Jika tujuan utamanya menjaga pasar kondusif, maka bahasa kebijakan harus jelas.

Kejelasan mengurangi rumor.

Rumor adalah pajak paling mahal bagi kepercayaan.

Keempat, diskusi tentang dukungan pada pertumbuhan dan UMKM perlu dirumuskan secara terukur.

Mandat yang meluas harus tetap memiliki batas yang transparan.

Batas itu membantu publik menilai kinerja secara adil.

Kelima, media dan masyarakat sipil sebaiknya mengawal isu ini dengan literasi ekonomi yang lebih baik.

Independensi bank sentral bukan tema elitis.

Ia adalah fondasi agar dapur rumah tangga tidak menjadi korban ketidakpastian.

-000-

Penutup: Kepercayaan sebagai Modal yang Tidak Terlihat

Pengajuan Destry Damayanti dan Aida S Budiman menandai bab baru bagi Bank Indonesia.

Said Abdullah menyebutnya pilihan teknokrasi dan penghormatan terhadap independensi.

Pernyataan itu memberi harapan tentang kesinambungan.

Namun harapan selalu membutuhkan pembuktian.

Di tengah dunia yang bergejolak, kepercayaan adalah modal yang tidak terlihat.

Ia dibangun pelan, tetapi bisa runtuh cepat.

Karena itu, proses berikutnya harus dijaga sebagai proses yang rapi, terbuka, dan berorientasi kepentingan publik.

Jika Indonesia ingin kuat, institusinya harus lebih kuat dari siklus politik.

Dan jika ekonomi ingin tumbuh, stabilitas harus lebih dulu dipercaya.

“Kepercayaan dibangun dengan kebenaran, dan kebenaran bertahan karena keberanian.”