Persoalan banjir yang kian meluas di Kota Bandar Lampung hingga merambah wilayah Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menjadi perhatian. Kondisi ini dinilai berkaitan dengan tata ruang perkotaan serta berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) yang berperan sebagai area resapan air.
Banjir yang terjadi pada 6 Maret lalu dilaporkan menelan korban jiwa. Tiga orang tercatat meninggal dunia, sementara sejumlah kawasan permukiman warga terendam.
Anggota DPRD Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, menilai kondisi lingkungan di kawasan perkotaan saat ini sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ia menyoroti menyusutnya RTH yang banyak beralih fungsi menjadi kawasan bangunan dan permukiman.
“Iya, memang harus kita akui, hari ini ruang terbuka hijau (RTH) sangat kurang. Lahan pertanian dan persawahan banyak yang berubah menjadi perumahan. Daerah resapan air juga banyak yang berubah, atau akan berubah, menjadi mal dan sebagainya,” ujar Wahrul, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, alih fungsi lahan yang terjadi secara masif telah mengurangi daerah resapan air alami yang semestinya mampu menahan limpasan air hujan. Akibatnya, saat curah hujan tinggi, air lebih cepat mengalir ke kawasan permukiman dan memicu banjir.
Selain persoalan tata ruang, ia juga menilai sejumlah faktor lain turut memperparah banjir, mulai dari pengelolaan limbah yang kurang baik, saluran drainase yang tersumbat sampah, hingga pendangkalan sungai.
Meski demikian, Wahrul mengapresiasi langkah yang telah dilakukan instansi teknis untuk menekan potensi banjir, termasuk perbaikan sistem drainase serta pengerukan sungai di beberapa titik.
“Saya sudah melihat bagaimana Balai-balai dan PUPR ini menjalankan perannya untuk mengantisipasi banjir, seperti melakukan perbaikan drainase dan pendalaman sungai di berbagai titik,” katanya.
Politisi Partai Gerindra itu menegaskan penanganan banjir tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Ia menilai diperlukan sinergi antara pemerintah kota, pemerintah kabupaten, instansi pengelola sungai, serta masyarakat.
Ia juga mengajak semua pihak untuk tidak saling menyalahkan saat bencana terjadi, melainkan memperkuat kerja sama guna mencari solusi jangka panjang atas persoalan banjir dan kerusakan lingkungan.

