Dokter: Paparan Polusi Udara Sejak Anak-anak Bisa Berdampak hingga Dewasa

Dokter: Paparan Polusi Udara Sejak Anak-anak Bisa Berdampak hingga Dewasa

Jakarta — Paparan polusi udara secara terus-menerus pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi kesehatan seseorang saat dewasa, menurut keterangan dokter ahli paru-paru dari Kailash Hospital & Neuro Institute di India, Dr. AS Sandhya.

Dr. Sandhya menjelaskan anak-anak lebih rentan terdampak polusi udara karena paru-paru dan sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Selain itu, anak-anak bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa, sehingga asupan polutan berbahaya per kilogram berat badan bisa lebih besar.

Kualitas udara dapat memburuk akibat keberadaan polutan seperti partikel halus (PM2.5), nitrogen dioksida, serta senyawa beracun yang berasal dari emisi kendaraan, aktivitas industri, dan pembakaran bahan bakar fosil. Partikel mikroskopis tersebut dapat masuk hingga paru-paru dan aliran darah, lalu memicu peradangan kronis dan stres oksidatif.

Menurut Dr. Sandhya, paparan polutan udara yang terjadi terus-menerus berpotensi menyebabkan kerusakan DNA dan mengganggu pertumbuhan sel normal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan peluang munculnya kanker di kemudian hari.

Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah hasil penelitian mengindikasikan anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan udara sangat tercemar kerap menunjukkan tanda penurunan kapasitas paru-paru, lebih sering mengalami infeksi saluran pernapasan, serta masalah imunitas. Meski dampak pada tahun-tahun awal bisa terlihat ringan atau sementara, paparan yang berlangsung lama selama fase pertumbuhan dinilai dapat menimbulkan efek kumulatif yang signifikan dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit kronis yang baru muncul beberapa dekade kemudian.

Untuk mencegah dampak jangka panjang, Dr. Sandhya menyarankan orang tua dan pengasuh memantau indeks kualitas udara dan membatasi aktivitas anak di luar ruangan saat polusi tinggi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ventilasi dalam ruangan tetap baik serta memastikan rumah bebas dari asap rokok.

Pada periode polusi puncak, penggunaan masker yang pas disebut dapat memberi perlindungan tambahan bagi anak-anak. Dr. Sandhya turut merekomendasikan pola makan seimbang yang mencakup buah dan sayuran untuk membantu melawan stres oksidatif akibat polutan, serta pemeriksaan kesehatan berkala guna mendeteksi dini masalah pernapasan.

Di tingkat yang lebih luas, upaya perlindungan anak dari dampak polusi udara, menurutnya, dapat dilakukan melalui kebijakan penurunan emisi, promosi penggunaan energi bersih, dan peningkatan area terbuka hijau untuk mendukung perbaikan kualitas udara.